Bun, Lakukan Hal Ini yuk Kalau Si Kecil Kecanduan Nonton YouTube

Seorang anak sedang menonton YouTube (ilustrasi)
Seorang anak sedang menonton YouTube (ilustrasi)

Mulai banyak orangtua yang mengeluhkan buah hatinya kecanduan nonton video di YouTube nih, Bun. Berawal dari memberi kemudahan akses untuk buah hati, akhirnya hasrat si kecil yang sudah terlanjur senang menonton film kartun, tutorial game, hingga video menarik lainnya pun jadi sukar dikendalikan. YouTube bak pisau bermata dua. Alih-alih menonton hiburan bagi buah hati, si kecil justru bisa saja sewaktu-waktu menonton konten berbahaya jika tak diawasi.

Sementara untuk orangtua pekerja, pasti rasanya sulit jika harus mengontrol anak-anak melihat video di YouTube setiap harinya. Apalagi, saat anak sudah beranjak besar, pasti mereka risih jika harus didampingi Bunda dan Ayah terus menerus. Tapi bagaimanapun situasinya, apabila si kecil sudah kecanduan YouTube, hal tersebut harus diatasi lho Bun.

Mengutip Yahoo, melihat video berlebihan dapat menyebabkan anak mengalami insomnia, gangguan konsetrasi, kegagalan berinteraksi sosial di dunia nyata, dan obesitas. Centers for Disease Control and Prevention menyebut, lebih dari sepertiga anak Amerika di bawah 19 tahun, mengalami kelebihan berat badan karena tidak melakukan cukup aktivitas fisik.

img_20191004_160252_923

Bahkan para  ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa video yang memicu rasa takut akan memengaruhi perkembangan otak anak-anak. Donna Volpitta, Ed.D, pendiri Center for Resilient Leadership, mengungkap jika menonton video yang memicu rasa takut dapat menyebabkan otak menerima sedikit dopamin. Dopamin diproduksi di dalam tubuh untuk mendorong penguatan, dan menciptakan keinginan untuk melakukan sesuatu berulang-ulang.

“Anak-anak yang berulang kali mengalami emosi penuh tekanan atau ketakutan, mungkin kurang mengembangkan bagian korteks prefrontal otak dan lobus frontal mereka, bagian otak yang bertanggung jawab untuk fungsi eksekutif, seperti membuat pilihan sadar dan perencanaan ke depan,” kata Donna.

Selama lima tahun terakhir, bahkan terjadi peningkatan kasus anak-anak yang menderita kecemasan akibat menonton video YouTube. Bahkan para peneliti melihat kecenderungan anak-anak jadi kehilangan nafsu makan, sulit tidur, menangis dan ketakutan. Melihat adanya dampak negatif setelah menonton YouTube, maka American Academy of Pediatrics pun menyarankan agar orangtua membatasi tontonan anak-anak.

Terlebih untuk usia di bawah 18 bulan, disarankan untuk  menghindari media berbasis layar kecuali video-chatting ya Bun. Tunggu buah hati sampai usianya cukup. Sedangkan umur 18 hingga 24 bulan, kalau Bunda sudah mengizinkan mereka menonton tayangan video, maka harus dengan pendampingan orang tua sehingga mereka menonton konten berkualitas tinggi.

Sementara anak berusia 2 – 5 tahun, si kecil boleh saja diizinkan menonton video, namun harus tetap dipilihkan orangtuanya selama satu jam perhari ya Bun. Sedangkan yang berusia 6 tahun ke atas, harus menerima batasan yang konsisten pada penggunaan media. Tetap prioritaskan tidur dan kegiatan fisik daripada menonton Youtube.

Jika Bunda dan Ayah tidak segera mengambil tindakan, dapat menyebabkan anak rentan mengalami perubahan suasana hati. Mereka akan lebih mudah menangis, bersedih, mengeluh, dan mengekspresikan ketakutan. Selain itu, si kecil juga cenderung menarik diri dari aktivitas sosial.

Jika anak susah dipisahkan dari YouTube, sebaiknya segera buat perjanjian dengan mereka. Ajak anak bicara, dan buat panduan melihat YouTube. Bahkan kalau perlu membuat kesepakatan, tulis saja Bun, sehingga anak tidak akan mendebat apa yang telah disetujui. Taktik lain yang bisa Bunda dan Ayah terapkan adalah mengatur waktu dan ruang dalam menggunakan gadget. Misal, saat makan dilarang menyentuh ponsel. Atau, tidak boleh membawa masuk gadget ke dalam kamar tidur anak-anak.

Paling penting adalah mengontrol diri sendiri. Bunda dan Ayah jangan bermain gadget di depan anak, kalau ingin mereka sembuh dari kecanduan nonton.

Oleh : Christina A (sayangianak.com)

Artikel pilihan : 

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi