Ekonomi Indonesia dalam Bayang-bayang Kekelaman Pasca Trump Triumph

Ekonomi Indonesia dalam Bayang-bayang Kekelaman Pasca Trump Triumph

Hampir tak ada analis yang memprediksi Donald Trump bakal terpilih menjadi Presiden Amerika ke 45. Itulah kenapa pasar finansial global cukup shocked dengan peristiwa yang tak terduga itu.

Pasar selalu membenci ketidakpastian. Dan Trump dengan gayanya yang susah ditebak menyodorkan kepingan cerita yang sarat ketidakpastian.

img_20191004_160252_923

Bagi ekonomi Indonesia sendiri, kemenangan Trump mungkin layak disambut dengan muram. Kenapa begitu?

Kenapa ekonomi Asia dan ekonomi Indonesia akan menemui jalan terjal pasca Trump Triumph?

Faktanya, kemenangan Trump langsung disambut dengan anjloknya Indek Harga Saham Gabungan sebanyak 4%; dan rupiah kolaps hingga 400 poin.

Dari perspektif global economy, ada 3 faktor krusial yang menjelaskan kenapa Trump Triumph akan membuat ekonomi Asia dan ekonomi Indonesia termehek-mehek dalam kekelaman.

Trump Factor # 1 : Kebijakan Ekonomi Trump yang Cenderung Proteksionis
Salah satu arah kebijakan ekonomi Trump (yang juga selama ini menjadi ciri ideologi partai pengusungnya, partai Republik) adalah ini : go to hell with free trade.

Ya, Trump dan pendukungnya memang cenderung anti perdagangan bebas, dan mereka akan segera melakukan kebijakan proteksionisme untuk melindungi industri dalam negerinya.

Bea masuk impor akan dinaikkan, dan beragam kebijakan free trade termasuk dengan Asia dan Indonesia akan segera ditinjau ulang (termasuk disini adalah rencana Trans Pacific Partnership yang relatif win-win).

Akibatnya jelas : ekspor Indonesia ke Amerika bisa menemui jalan terjal.

FYI, saat ini Amerika merupakan tujuan ekspor no. 1 Indonesia, dan kita mengalami surplus dengan Amerika. Artinya, ekspor kita ke Amerika lebih tinggi daripada impor dari mereka. Thank you very much, America.

Kebijakan proteksionisme Trump ini bisa membuat pertumbuhan ekspor kita kesana menjadi stuck. Dan akibatnya, devisa dollar dari kegiatan ekspor bisa terkaing-kaing.

Dan kita tahu, pendapatan devisa dolar dari ekspor adalah KOENTJI bagi stabilitas nilai rupiah. Jika cuan devisa ekspor mengering, maka rupiah langsung bisa kolaps.

Trump Factor # 2 : Global Economic War with China
Faktor yang kedua ini mungkin lebih ngeri-ngeri sedap.

Sudah lama rakyat Amerika marah dengan invasi produk-produk China yang membuat banyak pabrik mereka bangkrut.

Dan Trump berjanji untuk menjadi “dewa penolong” bagi mereka yang selama ini dihajar habis-habisan oleh invasi ekonomi China ke Amerika melalui dalih “free trade dan slogan indah globalisasi”.

(Tai kucing dengan globalisasi, begitu salah satu suara pendukung utama Trump).

Cara Trump heroik juga : dia berjanji akan segera mengenakan bea masuk hingga 45% untuk seluruh produk China yang masuk ke Amerika.

Mampus lo China, begitu sayup-sayup suara menggelegar dari jutaan pendukung Trump.

Bea masuk 45% itu memang rencana gila. Jika benar-benar diterapkan, ekonomi China bakal langsung terkapar dalam nestapa. Ribuan pabrik di China akan bangkrut. Ekonomi China akan nyungsep.

Lihat data berikut ini : Amerika adalah tujuan ekspor no. 1 produk-produk China. Jadi Amerika memang pilar penopang utama ekonomi China.

Dan ini yang membuat rakyat Amerika bete : defisit perdagangan Amerika dengan China adalah yang tertinggi di dunia. Serbuan ekspor China ke Amerika gila-gilaan, dan membuat ribuan pabrik Amerika bangkrut.

Itulah kenapa Trump berjanji akan segera menghadang serbuan produk China, demi menjawab kemarahan pendukungnya. Sebab pekik kemarahan mereka inilah yang ikut menopang kemenangan heroik Trump.

Bea masuk Trump pasti akan segera membuat ekonomi negri China semaput. Dan ini dia : jika ekonomi negeri China semaput, maka ekonomi Indonesia juga akan langsung pingsan.

Lho kok bisa. Simpel : itulah yang disebut efek domino ekonomi.

Asal tau saja, selama ini Indonesia banyak mengekspor bahan baku ke China seperti sawit, kokoa, batubara dan lain-lain.

Meski perdagangan Indonesia masih defisit dengan China, tetap saja China merupakan negara tujuan ekspor Indonesia tertinggi ke 3 (setelah Amerika dan Jepang). Dus, China juga merupakan penopang ekonomi Indonesia.

Bahan baku dan komoditi yang diimport dari Indonesia inilah yang kemudian dimanfaatkan ribuan pabrik di China untuk jadi barang jadi. Barang jadi ini lalu mereka ekspor ke pasar global, termasuk ke Amerika.

Nah apa yang terjadi saat ribuan pabrik China kolaps gara-gara dihadang bea masuk tinggi oleh Trump? Tentu permintaan mereka akan bahan baku dan komoditi dari Indonesia juga akan langsung turun drastis.

Otomatis ekspor Indonesia ke China juga akan langsung nyungsep. Kembali, cuan dollar dari kegiatan ekspor akan ikut tergerus.

Ekspor komoditi dan bahan baku dari Indonesia ke China akan menemui jalan terjal. Dan kalau pendapatan ekspor turun, pemasukan pajak kolaps; dan akibatnya anggaran untuk membangun jalan raya dan sekolah bisa ikut terpelanting.

Trump Factor # 3 : China Invasion to Indonesia
Dalam faktor kedua diatas disebut, bahwa Amerika sebagai tujuan utama ekspor China akan menghadang dengan bea masuk tinggi.

Otomatis, produk China menjadi mahal dan tidak laku di Amerika.

Nah, China pasti akan mencoba mencari pasar lain dong sebagai pengganti. Dan Anda mungkin tahu siapa salah satu pasar pengganti itu kan?

Yak benar, Indonesia. Lantaran dihambat oleh Amerika, kemungkinan produsen China akan mengalihkan ekspornya ke pasar Asia dan tentu termasuk Indonesia.

Dan itu bisa membawa petaka yang kian perih bagi jutaan pabrik lokal di tanah air.

Data menunjukkan, defisit perdagangan kita dengan China memang yang paling tinggi. Artinya impor kita dari China JAUH LEBIH BESAR daripada ekspor kita kesana.

Serbuan produk China ke tanah air memang sudah lama kita rasakan. Ndak usah ngeles : smartphone yang kamu pakai itu kemungkinan besar diimport dari China (meski mereknya Korea).

Jadi Anda-anda juga yang ikut mendorong impor China makin tinggi. Ndak usah ngomel-ngomel.

Nah, bayangkan jika gara-gara dihadang Trump, produsen China kian agresif masuk ke pasar Asia dan Indonesia. Bayangkan, petaka yang akan terjadi di segenap pasar tanah air.

Banjir produk China yang selama ini sudah cetar membahana, kemungkinan besar akan menjadi lebih cetar membahana. Alias cetar membahana kuadrat.

Akibatnya mungkin akan kian banyak pabrik lokal yang tutup karena kalah bersaing. Ribuan PHK segera membayang.

DEMIKIANLAH, 3 TRUMP FACTORS yang bisa membuat ekonomi Indonesia terluka dan terpelanting dalam duka.

Salah jika menganggap berita Trump hanya urusan orang Amerika. WRONG. Kemenangan Trump sungguh membawa imbas kepada kehidupan kita semua, seperti penjelasan diatas.

Buruh di pabrik Sidoarjo, pedagang kain di pasar Beringharjo, petani Sawit di pedalaman Kalimantan; hingga pembaca Blog Strategi Manajemen yang tertegun-tegun; semua akan terdampak kebijakan ekonomi Trump yang proteksionis.

Sumber : strategimanajemen.net

About Auther:

Info Biografi

One thought on “Ekonomi Indonesia dalam Bayang-bayang Kekelaman Pasca Trump Triumph

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.