Evaluasi Diri, Sebuah Kepastian

(technocrazed.com)
(technocrazed.com)

Sesungguhnya dunia dan kehidupannya semakin hari semakin menjauh. Pada saat yang sama, kehidupan akhirat semakin mendekat. Manusia tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana ia menemui kematian. Seorang ulama pernah mengingatkan bahwa kita adalah kumpulan dari hari-hari. Setiap berlalu satu hari dari rangkaian waktu, maka sesungguhnya bagian kita sudah terhempas. Ia tak akan pernah kembali.

Ketahuilah bahwa dunia hanya terdiri atas tiga hari. Hari kemarin, yang tidak akan pernah kembali dan sudah jauh meninggalkan kita. Sementara hari ini, adalah hari yang harus kita tulis dengan tinta emas amalan baik, kita ukir dengan pena kemuliaan. Ambillah mutiara-mutiara hikmah dari masa lalu. Tidak pernah beruntung orang yang menyia-nyiakan hari ini setelah menyia-nyiakan kesempatan hari kemarin.

img_20191004_160252_923

Sedangkan hari esok merupakan kesempatan bagi mereka yang telah Allah SWT kehendaki. Meski bisa jadi kita bukanlah orang yang akan menjumpai hari esok apalagi memilikinya. ”Waktu itu laksana pedang, jika engkau tidak memotongnya (mengisinya dengan kebaikan), niscaya ia akan memenggalmu.” Demikian salah satu perkataan sahabat yang banyak memiliki hikmah, Ali bin Abi Thalib.

Waktu adalah kehidupan, barangsiapa yang menyia-nyiakan waktu maka ia telah menyia-nyiakan kehidupan. ”Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-‘Ashr (103): 1-3).

Evaluasi diri atau muhasabah dari amalan hari kemarin serta menimbang perbuatan waktu lalu, adalah keniscayaan bagi seorang Mukmin. Umar bin Al-Khathab pernah mengingatkan, ”Hitung-hitunglah dirimu, sebelum kalian dihitung. Timbang-timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang (di hari kiamat).”

Di tempat lain Al-Hasan mengatakan, ”Orang Mukmin selalu mengevaluasi dirinya karena Allah. Hisab akan menjadi ringan bagi mereka yang telah menghisab diri di dunia, dan akan menjadi berat pada hari kiamat bagi mereka yang mengambil perkara ini, tanpa muhasabah.” Sementara Maimun bin Mahram, sebagaimana dikutip Sa’id Hawwa dalam Al-Mukhtakhlash fii Tazkiyatil Anfus (Mensucikan Jiwa), menganggap evaluasi diri ini lebih penting daripada mengaudit kekayaan.

Ia menyatakan, ”Seorang hamba tidak termasuk golongan Muttaqin sehingga ia menghisab dirinya lebih keras ketimbang mengaudit terhadap mitra usahanya. Dua orang mitra usaha pun saling menghitung setelah melakukan usaha.”

Allah SWT menegaskan agar manusia selalu menghitung dan mempersiapkan amal, sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS Al-Hasyr (59): 18).

Oleh : Ahmad Soleh (Republika)

Ayo bagikan sebagai sedekah… 

A D I R A
All Right Reserved © www.ceramahmotivasi.com