IJMA’ SAHABAT UNTUK MEMILIH ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH DAN PEMBAIATAN BELIAU TANPA ADANYA NASH

islamic-background18

Barangsiapa memperhatikan apa yang telah kami sebutkan, maka akan terlihat jelas ijma’ (kesepakatan) sahabat dari kalangan Muhajirin maupun Anshar untuk mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah. Semakin jelas pula maksud sabda Rasulullah saw. “Allah dan kaum mukminin enggan menerima kecuali Abu Bakar”, akan semakin jelas baginya bahwa Rasulullah saw. tidak pernah menulis secara langsung dalam bentuk teks siapa yang menggantikan beliau setelah beliau wafat Baik Abu Bakar, sebagaimana anggapan sebagian Ahlus Sunnah, maupun pula Ali, sebagaimana anggapan kaum Syi’ah Rafidhah. Namun Rasulullah saw. telah memberikan isyarat kuat untuk memilih Abu Bakar. Hal itu akan dapat dipahami dengan mudah oleh seluruh orang berakal. Sebagaimana yang telah kami kemukakan, Alhamdulillah.

Dalil yang Menunjukkan Bahwa Rasulullah saw. Tidak Menunjuk Seorangpun Sebagai Khalifah Sepeninggal Beliau

img_20191004_160252_923

1) Disebutkan dalam kitab Shahiliain dari hadits Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Ibnu Umar, Ketika Umar bin al-Khaththab ditikam, ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Tidakkah engkau menunjuk penggan-timu wahai Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Jika aku memilih penggantiku sebagai khalifah maka sesungguhnya hal itu telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku, yaitu Abu Bakar. Dan jika aku tidak menunjuk pengganti, maka hal itu telah dilakukan juga oleh orang yang lebih baik dariku, yaitu Rasulullah saw..” Ibnu Umar berkata, “Maka ketika itu aku ketahui bahwa Rasulullah saw. Tidak pernah menunjuk penggantinya.”

2) Sufyan ats-Tsauri berkata, Aswad bin Qais meriwayatkan dari Amru bin Sufyan, dia berkata, “Ketika Ali menang dalam perang Jamal, beliau ber-pidato, ‘Wahai sekalian manusia sesungguhnya Rasulullah saw. tidak pernah menjanjikan kepada kami untuk mendapatkan jabatan ini sama sekali. Kami sepakat bahwa Abu Bakarlah yang pantas menggantikan beliau. Dan ternyata beliau dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik hingga beliau wafat. Kemudian menurut Abu Bakar, Umarlah yang lebih layak, maka beliau memilih Umar. Dan ternyata Umar juga dapat menjalankan amanah dengan istiqomah hingga beliau wafat -atau dia berkata- hingga beliau dapat mene-gakkan agama’.

3) Imam Ahmad berkata, “Telah berkata kepada kami Abu Nuaim, dia berkata, telah berkata kepada kami Syuraik dari al-Aswad bin Qais dari Amru bin Sufyan, dia berkata, ‘Seorang lelaki berkhutbah di Basrah ketika Ali menang. Maka Ali berkata, ‘Khathib ini as-syahsyah (berbicara tidak berle-bihan), sesungguhnya Rasulullah saw. terdahulu memimpin, kemudian datang setelah beliau Abu Bakar dan yang ketiga adalah Umar. Setelah mereka, gelombang fitnah datang menerpa kita menurut apa yang telah dikehendaki oleh Allah SWT.”

4) Al-Hafizh al-Baihaqi berkata, “Telah berkata kepada kami Abu Abdullah Al-Hafizh, dia berkata, telah berkata kepada kami Abu Bakar Muhamad bin Ahmad al-Mazki di Marwa, dia berkata, telah berkata kepada kami Abdullah bin Rauh al-Madaini, dia berkata, telah berkata kepada kami Syabbabah bin Sawwar, dia berkata, telah berkata kepada kami Syu’aib bin Maimun dari Husein bin Abdurrahman, dari as-Sya’bi dari Abu Wa’il, dia berkata, ‘Pernah ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib,’Apakah engkau tidak memilih penggantimu untuk kami?’ Beliau menjawab, ‘Rasulullah saw. tidak pernah memilih penggantinya, kenapa aku harus memilih? Namun jika Allah ingin kebaikan untuk manusia, Dia pasti akan mengumpulkan segala urusan mereka di bawah pimpinan orang yang terbaik dari mereka sebagai-mana Allah telah memilih pemimpin terbaik setelah Rasulullah saw. dari orang yang terbaik di antara mereka102.’ Sanadnya baik namun mereka tidak mengeluarkannya.”

5) Yaitu yang disebutkan oleh Imam al-Bukhari dari hadits az-Zuhri dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik dari Ibnu Abbas, “Ketika Abbas dan Ali keluar dari sisi Rasulullah saw. ada yang bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana keadaan Rasulullah saw.?’ Ali menjawab, ‘Alhamdulillah kondisi beliau lebih baik,’ namun Abbas berkata, ‘Sesungguhnya engkau keliru, aku benar-benar mengetahui wajah-wajah Bani Hasyim jika akan meninggal, aku benar-benar melihat dari wajah Rasulullah saw. yang menandakan bahwa beliau akan meninggal. Maka mari kita pergi dan bertanya kepada beliau siapa yang kelak menjadi penggantinya. Jika kelak penggantinya dari kita maka kita akan mengetahuinya. Dan jika ternyata kelak kepemimpinan tersebut bukan milik kita. maka kita dapat menyuruh orang tersebut dan Rasulullah saw. bisa berwasiat padanya untuk menjaga kita.’ Maka Ali berkata, ‘Aku tidak akan menanyakan hal itu kepada beliau! Demi Allah jika beliau tidak memberikan kepemimpinan kepada kita, mustahil manusia akan mengangkat kita selama-lamanya setelah beliau wafat.’ Kisah ini diriwayatkan oleh Muhammad Ibnu Ishaq dari az-Zuhri dengan makna yang sama. Dan dalam riwayat ini disebutkan, ‘Maka keduanva masuk menemui Rasulullah saw. Ketika beliau akan meninggal, di akhir riwayat disebutkan, ‘Wafatlah Rasulullah saw. pada waktu Dhuha setelah matahari meninggi pada hari itu’.”

Ibnu Katsir berkata, “Peristiwa itu terjadi pada hari Senin yaitu pada hari wafatnya Rasulullah saw. Dan ini menunjukkan bahwa ketika beliau wafat beliau tidak meninggalkan wasiat siapa yang menjadi pemimpin setelah beliau.” Dalam kitab Shahihain diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa petaka terbesar terjadi ketika ada yang berusaha menghalangi keinginan Rasulullah saw. Untuk menuliskan sebuah wasiat. Sebagaimana yang telah kita sebutkan bahwa beliau minta agar seseorang menuliskan untuknya sebuah wasiat agar mereka tidak tersesat setelah wafatnya. Namun ketika banyak suara-suara yang saling berselisih antara pro dan kontra di sisi Rasulullah saw. maka beliau berkata, “Berdirilah kalian tinggalkan aku, sesungguhnya apa yang aku lakukan lebih baik daripada apa yang kalian serukan. “Telah kita sebutkan sebelumnya bahwa setelah itu beliau berkata, “Allah dan kaum mukminin tidak rela kecuali kepada Abu Bakar.”

Dalam kitab Shahihain diriwayatkan dari hadits Abdullah bin Aun dari Ibrahim at-Taimi dari al-Aswad, dia berkata, “Ditanyakan kepada ‘Aisyah ra., mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. Telah memberikan wasiat kepada Ali (untuk menjadi Khalifah) maka ia berkata, ‘Apa yang diwasiatkan Rasulullah saw. kepada Ali?’ ‘Aisyah ra. menjawab, ‘Beliau (Rasulullah saw.) menyuruh agar bejana tempat buang air kecil dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui.’ Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rasulullah saw. memberikan wasiat kepada Ali?”

Dalam kitab diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at-Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata, ‘Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah saw.) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah -secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal- maka sesungguhnya dia telah berkata dusta! Dan di antara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah saw.

‘Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barangsiapa membuat sesuatu yang baharu atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima dari-nya sedikitpun tebusan. Dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain maulanya (tuannya)

maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan keamanan yang diberikan kaum muslimin terhadap orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan’.”

Bantahan Terhadap Kaum Syi’ah Rafidhah

Hadits dari Ali yang terdapat dalam kitab Shahihain maupun dalam kitab lainnya merupakan bantahan telak terhadap kaum Syi’ah Rafidhah yang beranggapan bahwa Rasulullah saw. telah mewasiatkan urusan kekhalifahan kepada dirinya. Jika benar apa yang mereka klaim pastilah tidak satupun sahabat berani menolak wasiat tersebut, sebab mereka adalah generasi yang paling patuh terhadap Allah dan RasulNya, baik ketika Rasul hidup maupun setelah beliau wafat. Dan sangat mustahil jika mereka berani mengubah wasiat Rasulullah saw. dengan memajukan calon yang tak pernah dipilih oleh beliau. Atau sebaliknya, mengenyampingkan orang yang beliau tunjuk. Mustahil hal ini mereka lakukan, dan barangsiapa menganggap para sahabat berbuat demikian berarti ia telah terang-terangan menyatakan bahwa seluruh sahabat adalah fasik dan telah bersepakat membangkang perintah Rasulullah saw. dan menentang hukum serta wasiat beliau. Barangsiapa berani berbuat hal itu berarti dia telah melepaskan dirinya dari ikatan Islam. Dan secara ijma’ dihukumi kafir oleh seluruh ulama, bahkan darah mereka itu lebih halal lagi untuk ditumpahkan.

Selanjutnya jika wasiat ini memang ada mengapa Ali tidak menjadikannya sebagai senjata untuk menghujat para sahabat bahwa beliaulah yang berhak mengemban urusan kekhalifahan? Jika ternyata beliau tidak dapat menjalankan wasiat tersebut maka beliau dianggap lemah. Dan seorang yang lemah tidak pantas menjadi pemimpin (khalifah). Dan jika ternyata beliau mampu, tetapi tidak melaksanakannya berarti beliau seorang penghianat. Dan seorang penghianat adalah fasik yang harus disingkirkan dari kursi kekhalifahan. Dan jika ternyata beliau tidak tahu bahwa wasiat tersebut memang ada, maka berarti beliau adalah seorang yang jahil. Lalu bagaimana pula jika beliau sendiri tidak tahu sementara orang yang datang setelahnya mengetahui hal ini? Bukankah ini suatu perkara yang mustahil dan dusta yang dibarengi dengan kebodohan dan kesesatan?

Oleh karena itu anggapan seperti ini hanya dapat diterima oleh benak-benak orang yang jahil dan tertipu dengan diri mereka sendiri. Anggapan yang telah dihiasi oleh tipu muslihat syetan tanpa dalil maupun keterangan yang nyata. Hanyalah bualan dan omong kosong yang penuh kedustaan semoga kita dilindungi oleh Allah dari kebodohan mereka yang penuh d engan kehinaan dan kekafiranhanya kepada Allah sajalah kita berserah diri agar selalu diberi bimbingan untuk selalu berpegang teguh dengan as-Sunnah dan al-Qur’an dan diwafatkan di atas Islam dan imán serta diwafatkan dalam keteguhan dan keyakinan. Kemudian kita berharap agar timbangan amal kita diberatkan, diselamatkan dari api Neraka, dan berbahagia masuk ke dalam surga yang dijanjikan Allah. Sesugguhnya Dia Maha Pemberi, Pengasih dan Penyayang.

Bantahan Terhadap Para Pengikut Tarekat dan Tukang Dongeng

Hadits Ali yang terdapat dalam kitab shahihain di atas sekaligus merupakan bantahan terhadap prasangka-prasangka dusta para pengikut tarekat dan tukang dongeng yang jahil. Mereka beranggapan bahwa Nabi saw mewasiatkan banyak perkara kepada Ali bin Abi Thalib yang mereka sebutkan dengan panjang lebar dengan bohong seolah-olah Nabi banyak berpesan kepada Ali, dengan ungkapan, “Wahai Ali lakukanlah ini dan itu! Dan jangan lakukan ini dan itu! Wahai Ali yang berbuat begini maka baginya ganjaran sebesar ini…” dan seterusnya dengan menggunakan lafazh yang sangat kacau balau ditambah lagi kandungan makna yang aneh dan penuh kebodohan. Pada hakikatnya hanya mengotori halaman saja, wallahu a’lam.

Oleh : Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi