Jangan Bersedih dan Mempedulikan Perilaku Orang

islamic-background19

Bagaimanapun, mereka tidak memiliki kekuasaan untuk mendatangkan mudharat, manfaat, kematian, dan kehidupan kepada Anda. Mereka juga tidak dapat membangkitkan Anda dari kubur, dan tidak pula dapat memberi pahala serta siksa.

Seorang penyair mengatakan,

img_20191004_160252_923

Siapa senang mempedulikan perilaku orang, ia akan mati gelisah sedang orang yang gagah berani akan meraih kenikmatan

Penyair lain juga mengatakan,

Barangsiapa suka mempedulikan orang lain, ia akan gagal meraih bahagia, sedang orang yang gagah berani akan berhasil meraih kebaikan.

Ibrahim ibn Adham mengatakan, “Kami hidup dalam suasana yang bila para raja itu tahu niscaya mereka akan menebas kami dengan pedang mereka.”

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Di dalam hati seringkali terlintas suatu keadaan. Yakni, yang bila kukatakan demikian, ‘Seandainya para penghuni surga hidup seperti kami, maka mereka akan hidup senang’.”

Dia juga pernah berkata, “Di dalam hati ini selalu muncul suasana di mana hati menari riang. Yakni, saat hati bergembira karena mengingat Allah dan kehangatan hubungan dengan-Nya.”

Dalam kesempatan lain, ia juga mengatakan, “Ketika dijebloskan ke penjara, dan sesaat kemudian para sipir mengunci pintunya, aku seperti mendengar firman Allah,

{Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.} (QS. Al-Hadid: 13)

Di dalam penjara itu, ia mengatakan, “Apa yang bisa dilakukan musuh-musuh itu kepadaku? Surga dan tamanku ada di dalam dadaku. Ke manapun aku berjalan, maka keduanya akan selalu bersamaku. Kalaupun aku dibunuh, maka itu adalah kematian sebagai seorang syahid. Kalaupun diusir dari negeri asalku, maka itu adalah sebuah rekreasi, dan penjara adalah tempatku menyendiri.”

Apakah yang akan diperoleh orang yang telah kehilangan Allah dari dalam dirinya? Dan apakah yang harus dicari oleh orang telah menemukan Allah dalam dirinya? Antara yang pertama dan kedua, tidak akan pernah sama. Orang kedua akan mendapatkan segalanya, dan orang pertama akan kehilangan segalanya.

Referensi : Dr. ‘Aidh al-Qarni, Jangan Bersedih, Qisthi Press, Jakarta, 2013

Baca juga : 

About Auther:

Info Biografi