Kiat Khusyuk dalam Shalat

MELAKSANAKAN shalat, apalagi hanya sekadar melaksanakan saja tidaklah sulit. ltulah pemandangan dan realita yang terjadi di sekitar kita. Memang masih banyak orang yang mau melaksanakan shalat, hanya saja pelaksanaannya belum sesuai dengan apa yang menjadi tuntunan agama. Apalagi hingga ke derajat khusyuk. Sangat sulit untuk mendapatkannya. Padahal, Allah Swt berfirman:

”Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (al-Baqarah: 238)

Allah Swt juga berfirman:

img_20191004_160252_923

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (al-Anbiya’: 90)

Sesungguhnya shalat merupakan sebaik-baik amal. Ia memunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah, ibadah inilah yang membedakan antara orang mukmin dan kafir. Ia merupakan ibadah yang mampu melebur dosa seseorang dari waktu shalat yang satu dengan yang lainnya, meskipun hanya dosa-dosa kecil saja. Ketika seorang mukmin mengetahui betapa pentingnya shalat dan begitu mulia kedudukannya di sisi Allah, maka tentu sebagai seorang Muslim kita harus melaksanakannya sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh syariat kita, yaitu islam, agar bisa meraih khusyuk.

Shalat yang khusyuk merupakan dambaan kita, bahkan berbagai macam cara dilakukan seseorang untuk menggapai shalat khusyuk ini. Mengapa demikian?

Betapa banyak manusia yang tergoda oleh tipuan setan, sehingga dalam melakukan shalatnya tidak lagi dapat berkonsentrasi (khusyuk). Bahkan khusyuk dalam shalat merupakan perkara yang pertama kali dicabut oleh Allah dari permukaan bumi, padahal kita kini hidup pada akhir zaman. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam sabda beliau:

”Sesungguhnya pertama kali yang dicabut dari umat ini adalah khusyuk.”

Di bawah ini ada beberapa tips untuk menjadikan shalat kita khusyuk:

Persiapan diri untuk shalat

Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal. Di antaranya ketika kita telah mendengar panggilan shalat. maka hendaknya kita segera menjawab seruan tersebut. Lalu mengikuti apa yang dibaca oleh muazin dan meninggalkan segala aktivitas lainnya untuk mempersiapkan shalat. Dilanjutkan dengan berdoa sesudah azan, menyempurnakan wudhu, menyiapkan diri untuk shalat dengan memilih pakaian yang bersih dan harum.

Thumakninah dalam shalat

Thumakninah itu tenang dan tidak terburu-buru. Orang yang tidak melakukan thumakninah dalam shalatnya, tidak mungkin dapat mencapai kekhusyukan. karena shalat yang dikerjakan dengan cepat dapat menghilangkan kekhusyukan. Sebab, selain thumakninah ini menjadi salah satu sarana memperoleh khusyuk, ia juga menjadi salah satu rukun yang tidak boleh ditinggalkan, baik sengaja atau pun tidak sengaja. Semua rangkaian shalat yang tergolong pada rukun shalat, apabila ditinggalkan akan menjadikan shalat yang dilaksanakan tersebut tidak sah. Meskipun meninggalkannya dengan tidak sengaja, apalagi jika hal itu dilakukan dengan sengaja.

Mengingat mati dalam shalat

Apabila seseorang mengingat kematian dalam shalatnya, ia akan berusaha keras untuk menyempurnakan shalatnya. Sebab, setiap orang menginginkan husnul khotimah. Jika ia menyadari bahwa itu adalah shalat terakhirnya, niscaya ia akan berusaha melakukannya dengan sebaik mungkin karena ia mungkin tidak mampu mengerjakan shalat sesudah itu.

Menghayati ayat-ayat dan doa yang dibaca serta berinteraksi dengannya

Di antara hal-hal yang dapat membantu kita menghayati Al-Qur‘an adalah membaca ayat-ayatnya secara berulang-ulang sambil membiasakan diri mengamati artinya. Selain itu, hal lain yang dapat membantu kita agar dapat menghayatinya adalah dengan mengadakan interaksi dengan ayat-ayat tersebut. Setelah dihafal lalu dibaca, direnungkan, dan dipikirkan. Dengan demikian sesorang bisa memperoleh kekhusyukan.

Menartil bacaan ayat per ayat

Metode memotong bacaan ayat per ayat dilakukan untuk lebih mempercepat memahami sekaligus menghayati ayat-ayat tersebut. Bahkan hal yang demikian itu merupakan Sunah Nabi sebagaimana yang dituturkan oleh Ummu Salamah mengenai bacaan Rasulullah. Membaca Al-Qur‘an dengan tartil dan perlahan-lahan lebih mendorong si pembaca untuk menghayati dan bersikap khusyuk. Keadaan yang demikian itu berbeda dengan membaca secara cepat dan tergesa-gesa. Yang dapat membantu kekhusyukan dalam shalat adalah memperbagus bacaan.

Semoga kita mendapat nikmat khusyuk dalam shalat kita, hingga kita mampu meraih manisnya iman dan takwa hingga berakhir di surga.

Penulis : Nur Sillaturohmah

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.