KISAH TSAQIFAH BANI SA’IDAH DAN KISAH UMAR

islamic-painting2

Imam Ahmad berkata, “Telah berkata kepada kami lshaq bin Isa at-Tabba’ dia berkata, telah berkata kepada kami Malik bin Anas, dia berkata, telah berkata kepadaku Ibnu Syihab dari Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah Ibnu Mas‘ud bahwa lbnu Abbas memberitahukan kepadanya bahwa Abdurrahman bin Auf kembali ke rumahnya, Ibnu Abbas berkata, ‘Aku ingin memberikan salam kepada Abdurrahman bin Auf, maka dia menjumpaiku sementara aku telah menunggunya -peristiwa itu terjadi di Mina pada waktu Umar bin al-Khaththab melaksanakan haji yang terakhir- maka Abdurrahman berkata, ‘Seseorang pernah mendatangi Umar dan berkata, ‘Ada orang yang mengatakan jika Umar wafat maka aku akan membai’at si fulan’ Maka Umar menjawab, ‘Selepas shalat lsya nanti aku akan berbicara di hadapan manusia sambil memperingatkan mereka dari sekelompok orang-orang yang ingin mencari masalah’

Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin jangan lakukan hal itu, sebab pada musim haji ini berkumpul orang-orang bodoh dan orang-orang pasaran yang jumlahnya sangat banyak melebihi jumlah kita, jika anda lakukan hal aku takut perkataan anda itu akan membuat mereka salah paham dan tidak dapat memahaminya dengan baik hingga menimbul-kan kekacauan. Tetapi tunggulah hingga anda sampai di Madinah, sebab Madinah adalah Darul Hijrah. Engkau dapat berbicara dihadapan para ulama dan orang-orang yang mulia, maka katakanlah apa yang menjadi pendapatmu tadi, pasti mereka bisa memahaminya dan dapat menempatkan perkataanmu pada porsinya.’ Umar berkata, ‘Jika aku sampai di Madinah dengan selamat pasti akan kusampaikan hal tersebut di hari pertama setelah aku sampai.’

Ketika kami sampai di Madinah di penghujung bulan Dzul Hijjah, dan bertepatan dengan hari Jum’at, maka aku bersegera pergi ke masjid dalam kondisi sakkatul a’ma -Kutanyakan kepada Malik, ‘Apa maksud dari sakkatul ama?’ Dia menjawab, ‘Maksudnya ia keluar dengan tergesa-gesa dan tidak memperdulikan kapan ia keluar, apakah cuaca panas ataupun dingin dan sebagainya- maka kudapati Sa’id bin Zaid di sisi mimbar sebelah kanan, telah mendahuluiku, aku segera duduk di sampingnya dan lututku bersentuhan dengan lututnya. Tidak lama kemudian datanglah Umar, ketika aku melihat-nva kukatakan, ‘Hari ini ia akan mengeluarkan suatu pernyataan yang tidak pernah pernah diucapkan siapapun sebelumnya. Maka Sa’id bin Zaid merasa aneh dengan ucapanku,’ ia bertanya, ‘Apakah gerangan yang akan dikatakan-nya? Hingga seorangpun belum pernah mengucapkan sebelumnya?’

Kemudian Umar duduk di atas mimbar, ketika muadzin selesai mengumandangkan adzan Umar berdiri. Setelah memuji Allah ia mulai berbicara, Amma ba’du, wahai saudara-saudara sekalian, aku akan mengatakan sesuatu perkataan yang telah ditentukan oleh Allah bahwa aku akan mengatakannya. Dan aku tidak tahu, namun merasa ajalku telah dekat, maka barangsiapa yang memahami perkataanku dengan baik sampaikanlah kepada orang-orang yang dapat dijumpainya, dan barangsiapa yang tidak memahami perkataanku maka aku tidak halalkan baginya berdusta atas namaku.

Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad saw dengan kebenaran, dan menurunkan wahyu kepadanya. Di antara ayat yang diturunkan adalah ayat mengenai rajam, dan kita pernah membacanya dan memahaminya, bahkan Rasulullah saw. telah melaksanakan hukum rajam dan kita telah menerapkan hukum ini sepeninggal beliau.

Aku takut kelak akan ada yang berani mengatakan, ‘Kami tidak pernah mendapati masalah rajam tertulis dalam Kitabullah, hingga akhirnya dia tersesat dengan meninggalkan suatu kewajiban yang Allah turunkan. Maka sesungguhnya hukum rajam itu benar-benar ada dalam kitab Allah terhadap orang yang berzina jika telah menikah baik laki-laki maupun wanita apabila telah jelas bukti-buktinya, atau tanda berupa al-Hablu (hamil dari hasil zina) maupun berdasarkan pengakuan sendiri.

Ingatlah, kita pernah membaca, “janganlah kalian membenci bapak-bapak kalian sesungguhnya kalian dianggap kufur jika membenci bapak-bapak kalian.”

Ingatlah! sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda,

‘Janganlah kalian menyanjung aku sebagimana Isa bin Maryam disanjung, sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, karena itu katakanlah, Hamba Allah dan RasulNya.

Sampai kepadaku berita bahwa dan di antara kalian ada yang menga-takan, ‘Jika Umar telah wafat maka aku akan membai’at si fulan, maka janganlah seseorang terkecoh dan mengatakan, bahwa bai’at Abu Bakar hanyalah kebetulan saja dan kini telah selesai. Ingatlah! Sesungguhnya pengangkatan dirinya benar demikian adanya, namun Allah telah menjaga keburukan terjadi, tidak ada seorangpun di sini di antara kalian yang menyamai kedudukan Abu Bakar yang dipatuhi oleh seluruh manusia, dan sesungguhnya beliau adalah orang yang terbaik di antara kita.

Ketika Rasulullah saw. wafat, maka Ali, az-Zubair dan orang-orang yang beserta mereka tidak ikut sebab kala itu mereka berada di rumah Fathimah. Kaum Anshar tidak seluruhnya berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah bersama kami. Lalu datanglah kaum Muhajirin kepada Abu Bakar, kukatakan pada-nya, ‘Wahai Abu Bakar mari kita berangkat menuju saudara-saudara kita dari golongan Anshar! Maka kami seluruhnya berangkat menuju mereka dan berpapasan dengan dua orang shalih dari kalangan Anshar menceritakan kepada kami apa yang sedang dibicarakan oleh kaum Anshar, mereka berkata, ‘Hendak ke manakah kalian wahai kaum Muhajirin?’ Aku menjawab, ‘Kami mau menemui saudara-saudara kami kaum Anshar!’ Maka keduanya berkata, ‘Janganlah kalian mendekati mereka tetapi selesaikanlah urusan kalian sendiri.’ Maka aku menjawab, ‘Demi Allah kami akan menemui mereka.’ Maka kami berangkat dan menemui mereka di Tsaqifah Bani Sa’idah, ternyata mereka sedang berkumpul, dan di antara mereka ada seorang yang sedang berselimut. Maka kutanyakan, ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab, ‘Sa’ad bin Ubadah.’ Maka kukatakan, ‘Ada apa dengannya?’ Mereka menjawab, ‘Dia sedang sakit’

Tatkala kami duduk maka berdirilah salah seorang pembicara dari mereka, setelah memuji Allah dia berkata, ‘Amma ba’du, kami adalah kaum Anshar para penolong Allah dan pionir-pionir Islam, dan kalian wahai kaum Muhajirin adalah dari kalangan Nabi kami, dan sesungguhnya telah muncul tanda-tanda dari kalian bahwa kalian akan turut mendominasi kami di sini, di tempat tinggal kami ini dan akan mengambil alih kekuasaan dari kami.’

Ketika ia diam maka aku ingin berbicara, dan aku sebelumnya telah mempersiapkan redaksi yang kuanggap sangat baik dan menakjubkan aku, aku ingin mengatakannya di hadapan Abu Bakar, dan aku lebih terkesan sedikit lebih keras darinya, maka aku khawatir dia akan mengalah. Namun dia lebih lembut dariku dan lebih disegani. Abu Bakar mencegahku berbicara dan berkata, ‘Tahanlah sebentar!’ Maka aku enggan membuatnya marah, sebab ia lebih berilmu dariku dan lebih disegani, dan demi Allah tidak satupun kalimat yang kupersiapkan dan aku anggap baik kecuali beliau sam-paikan dengan ekspresinya yang begitu baik dan lancar bahkan lebih baik dariku, hingga akhirnya ia diam.’ Kemudian ia berkata, ‘Amma ba’du, apapun mengenai kebaikan yang telah kalian sebutkan, maka benar adanya dan kalianlah orangnya. Namun orang-orang Arab hanya mengenai kabilah ini yakni Quraisy. Secara nasab merekalah yang paling mulia di antara bangsa-bangsa Arab. Demikian pula tempat tinggal mereka yang paling mulia daripada seluruhnya. Karena itu aku rela jika urusan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang dari dua lelaki ini, terserah kalian memilih antara keduanya, kemudian dia menarik tanganku dan tangán Abu Ubaidah bin al-Jarrah, maka aku tidak sedikitpun merasa benci dengan semua perkataannya kecuali satu hal ini, dan demi Allah jika aku maju dan dipenggal kepalaku namun tidak menanggung beban ini lebih kusukai dari pada aku memimpin orang-orang yang terdapat di dalamnya Abu Bakar, kecuali jika diriku kelak berubah sebelum mati.’ Kemudian salah seorang Anshar berkata, ‘ana juzailuha al-muhakkak wa-uzaiquha al-murajjab, dari kami seorang pemimpin dan dari kalian pilihlah seorang pemimpin wahai orang-orang Quraisy -perawi Ishaq bin Isa bertanya kepada Malik, ‘Apa makna ungkapan ‘juzailuha al-muhakkak wa uzaiquha al-murajjab’ dia menjawab, ‘Maksudnya akulah pemimpin yang tertingi’ Kemudian Umar melanjutkan, ‘Maka mulailah orang-orang mengangkat suara dan timbul keributan, hingga kami mengkhawatirkan terjadinya perselisihan, maka aku katakan, ‘Berikan tanganmu wahai Abu Bakar, maka ia berikan tangannya dan aku segera membai’atnya, maka seluruh Muhajirin turut membai’at, yang kemudian diikuti oleh kaum Anshar, dan kami tinggalkan Sa’ad bin Ubadah, hingga ada yang berkomentar dari mereka tentangnya, Kalian telah membinasakan Sa’ad,’ maka aku sambut, ‘Allah-lah yang telah membinasakan Sa’ad.’ Kemudian Umar melanjutkan pidatonya dan berkata, ‘Demi Allah, kami tidak pernah menemui perkara yang paling besar dari perkara bai’at terhadap Abu Bakar. Kami sangat takut jika kami tingalkan mereka tanpa ada yang dibai’at, maka mereka kembali membuat bai’at. Jika seperti itu kondisinya kami harus memilih antara mematuhi bai’at mereka padahal kami tidak merelakannya, atau menentang bai’at yang mereka buat yang pasti akan menimbulkan kehancuran, maka barang siapa membai’at seorang amir tanpa musyawarah terlebih dahulu, bai’atnya dianggap tidak sah. Dan tidak ada bai’at terhadap orang yang mengangkat bai’at terhadapnya, keduanya harus dibunuh’.” Malik berkata, “Telah berkata kepadaku Ibnu Syihab dari Urwah bahwa dua orang yang berpapasan dengan kaum Muhajirin tadi adalah Uwaim bin Sa’idah dan Ma’an bin Adi. Ibnu Syihab berkata, ‘Telah berkata kepadaku Sa’id bin Musayyib bahwa yang berkata, ‘ana juzailuha al muhakkak wa uzaiquha al-murajjab’ adalah al-Hubab bin al-Munzir. Dan hadits ini diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadits dalam kitab-kitab mereka dari banyak jalur di antaranya dari Malik dan Iain-lain dari az-Zuhri.” Imam Ahmad berkata, “Telah berkata kepadaku Muawiyah dari Amru dia berkata, telah berkata kepada kami Zaidah, dia berkata, telah berkata kepada kami Ashim, dan telah berkata kepadaku Husain bin Ali dari Zaidah dari Ashim dari Abdullah -yaitu Ibnu Mas’ud- ia berkata, ‘Tatkala Rasulullah saw. wafat, orang-orang Anshar berkata, dari kami ada seorang amir dan dari kalian ada seorang amir pula, maka Umar mehdatangi mereka dan berkata, ‘Wahai kaum Anshar, bukankah kalian mengetahui bahwa Rasulullah saw. telah memerintahkan Abu Bakar menjadi Imam manusia? Siapa di antara kalian yang mengakui bahwa hatinya lebih mulia daripada Abu Bakar?’ Maka kaum Anshar berkata, ‘Na ‘udzubillah bila kami mengaku lebih mulia dari Abu Bakar.’ Imam Nasa’i meriwayatkannya dari Ishaq bin Rahawaih dan Hannad bin as-Suuri dari Husain bin Ali al-Ju’fi dari Zaidah’.” Imam Ali al-Madini meriwayatkan dari Husain bin Ali sambil berkata, “Shahih dan aku tidak mengetahuinya melainkan dari jalan Zaidah dari Ashim, dan Imam Nasa’i juga meriwayatkannya dari jalan Salamah bin Nubaith, dari Nuaim bin Abi Hind, dari Nubaith bin Syarith dari salim bin Ubaid dari Umar dengan makna yang sama. Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab semakna dengan riwayat di atas dari jalur lain, dan dari jalur Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Bakar dari az-Zuhri dari UbaiduUah bin Abdullah dari Ibnu Abbas dari Umar, dia berkata, Wahai kaum muslimin sesunguhnya yang paling berhak menggantikan Rasulullah saw. adalah sahabatnya yang menyertainya dalam gua. Dialah Abu Bakar yang selalu terdepan dan paling di utamakan. Kemudian segera kutarik tangannya dan ternyata ada seorang Anshar yang lebih dahulu menariknya dan membaiatnya sebelum aku sempat meraih tangannya. Setelah itu baru aku membaiatnya dengan tanganku yang kemudian diikuti oleh orang ramai.” Muhammad bin Sa’ad meriwayatkan dari Arim bin al-Fadhl dari Ham-mad bin Zaid dari Yahya bin Sa’id dari al-Qashim bin Muhammad, kemudian ia mulai menyebutkan kisah yang semakna dengan sebelumnya. Namun dalam riwayat ini disebutkan nama orang Anshar yang pertama kali membai’at Abu Bakar ash-Shiddiq ra. sebelum Umar bin al-Khaththab. Yaitu Basyir bin Sa’ad, ayah an-Nukman bin Basyir.

PENGAKUAN SAAD BIN UBADAH RA. TENTANG KESHAHIHAN APA YANG DIUCAPKAN OLEH ABU BAKAR RA. DI SAQIFAH

Imam Ahmad berkata, “Telah berkata kepada kami Affan dia berkata, telah berkata kepada kami Abu Uwanah dari Dawud bin Abdullah al-Awdi dari Humaid bin Abdurrahman dia berkata, ‘Ketika Rasulullah saw. wafat Abu Bakar masih di ujung kota Madinah. Setelah mendengar berita ia segera datang dan membuka kain penutup wajah Rasulullah saw. lalu menciumnya, dia berkata, ‘Aku menebusmu dengan ayah dan ibuku, alangkah harumnya wangimu sewaktu hidup dan sesudah mati, sesungguhnva Muhammad saw. benar-benar wafat, demi Rabb pemilik Ka’bah’, kemudian Humaid melanjut-kan, ‘Maka berangkatlah Abu Bakar dan Umar dengan bergegas hingga mereka sampai di tempat mereka berkumpul (yakni Saqifah Bani Sa’idah). Kemudian Abu Bakar mulai berbicara menyebutkan segala kebaikan orang Anshar, tidaklah segala kebaikan yang pernah disebutkan Rasulullah saw. atas mereka kecuali disebutkan seluruhnya oleh Abu Bakar. Di antara perkataan-nya, Kalian mengetahui bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, ‘Andai saja manusía menempuh jalan di satu lembah sementara kaum Anshar menempuh satu jalan maka pastí akan kutempuh jalan kaum Anshar.’ Dan engkau telah mengetahui wahai Sa’ad bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda -saat itu engkau sedang duduk-, ‘Sesungguhnya kaum Quraisylah yang paling berhak menjadi pemimpin. kebaikan manusia akan mengikuti kebaikan yang ada pada mereka dan kejelekan manusia akan pula mengikuti kejelakan yang ada pada mereka.’ Maka Sa’ad berkata, ‘Engkau benar, kami hanyalah menjadi wazir dan kalianlah yang menjadi Amir’.”

Imam Ahmad berkata, “Telah berkata kepada kami Ali Ibnu Abbas, dia berkata, telah berkata kepada kami al-Walid bin Muslim, dia berkata, telah berkata kepada kami Yazid bin Sa’id bin Zi Udhwan al-Absi dari Abdul Malik bin Umair al-Lakhmi dari Rafi ath-Tha’i yang menemani Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Dalam peperangan Dzatus Salasil. Dia berkata, ‘Kutanyakan radanva mengenai masalah pembaiatannya, maka Abu Bakar menceritakan padanya tentang apa yang telah direncanakan oleh kaum Anshar, apa yang ia katakan kepada mereka serta tanggapan mereka dan apa yang dikatakan oleh Umar bin al-Khaththab kepada kaum Anshar. Bagaimana Rasulullah saw. telah memerintahkanku (Abu Bakar) untuk menjadi Imam shalat ketika beliau sakit, karena itulah mereka membaiatku dan karena itu pula kuterima pembai’atan mereka atasku, sebab aku takut fitnah yang akan datang, yaitu murtadnya orang-orang Arab.’92 Sanad ini baik dan kuat.”

Adapun makna yang dapat dipahami dari riwayat ini bahwa penyebab Abu Bakar menerima bai’at mereka terhadap dirinya tidak lain karena ketakutan beliau akan muncul fitnah jika beliau tidak menerima pembai’atan tersebut dan hal ini terjadi di penghujung hari Senin, keesokan harinya –pagi hari Selasa- seluruh manusia berkumpul di Masjid dan sempurnalah bai’at atas dirinya dari seluruh kaum Muhajirin dan Anshar. Dan hal itu terjadi sebelum pelaksanaan terhadap jenazah Rasulullah saw. disiapkan.

Oleh : Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi