Kutub Kualitas Manusia

Shalat (ilustrasi)
Shalat (ilustrasi)

“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian, Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh. Maka, bagi mereka, pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS Attiin [95]: 4-6).

Alquran secara gamblang mengemukakan dua kutub kualitas manusia, yakni ahsan taqwim (makhluk paling sempurna) dan asfal safilin (makhluk paling hina). Definisi ‘makhluk paling sempurna’ merupakan makhluk yang berpotensi dan mampu melakukan segala kebaikan dan menjauhi larangan sebagaimana pengertian takwa.

img_20191004_160252_923

Sedangkan, ‘makhluk paling hina’ adalah makhluk yang dengan sengaja dan rela pada dirinya ditempati berbagai macam ketidakbaikan. Pada dasarnya, kategori kehidupan manusia bermuara kepada dua hal ini.

Jika tidak baik, pastilah jelek atau sebaliknya. Meskipun, naluri semua orang akan cenderung senang jika dikatakan baik (berkualitas) dalam kehidupannya. Dan, enggan atau akan marah jika dikatakan berperangai buruk.

Namun, seperti lazim diketahui, untuk mencapai derajat ahsan taqwim atau berkualitas tinggi, bukanlah perkara mudah. Pencapaian ini diliputi hal berat, sebagaimana puasa di terik siang dan tahajud pada dini hari.

Namun, bukankah agama juga telah menggariskan bahwa al ajru biqadri at ta’ab (pahala itu sesuai upayanya)? Sangatlah relevan jika logika ini dibangun kembali.
”Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik pria maupun wanita, dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala lebih baik daripada yang telah mereka kerjakan.” (QS Annahl [16]: 97).

Bagian yang tak kalah penting dalam pesan ayat ini adalah beriman sehingga betapa pun amal saleh yang dikerjakan, jika tak menempatkan diri pada posisi Mukmin, akan menemukan kesia-siaan belaka. ”Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh adalah sebaik-baiknya makhluk.” (QS Albayyinah [98]: 7).

Melihat i’tibar di atas, semakin jelas bahwa manusia pada kenyataannya dihadapkan pada dua pilihan yang sangat kontras: baik dan buruk. Manusia diberi kebebasan untuk menapaki jalan sesuka hatinya.

Namun begitu, bukankah kita makhluk normal yang diberi akal dan pikiran oleh Allah SWT sehingga dapat membedakan yang baik dan tidak. Sudah selaiknya kita mengetahui yang seharusnya dijalankan untuk mencapai derajat ahsan taqwim.

Sumber : Republika / M Fathurahman

A D I R A
All Right Reserved © www.ceramahmotivasi.com