Mutiara Hadits : Do’a Qunut Pada Shalat Witir

islamic2001

Dari Hasan bin Ali RA, ia berkata : Rasulullah SAW mengajariku kalimat-kalimat (do’a-do’a) yang mesti aku ucapkan di dalam Qunut shalat Witir ialah:

Allaahummahdinii fiiman hadait, wa ‘aafinii fiiman ‘aafait, wa tawallanii fiiman tawallait, wa baariklii fiimaa ‘atoit, wa qinii syarromaa qodhoit, innaka taqdii wa laa yuqdho ‘alaik, wa innahuu laa yadzillu mawwaalait, wa laa ya’izzu man ‘aadait, tabaarokta robbanaa wa ta’aalait.

img_20191004_160252_923

“Ya Allah, berilah kami hidayah, sebagaimana orang yang telah Engkau beri hidayah. Lindungi diri kami dari penyakit, sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi dirinya dari penyakit. Jadilah pelindung bagi kami, sebagaimana orang yang Engkau menjadi pelindungnya. Berkahilah rizki yang telah Engkau berikan kepada kami. Lindungilah kami dari keburukan apa yang telah Engkau takdirkan. Karena Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang bisa memaksaMu. Sesungguhnya orang yang Engkau jadikan waliMu tidak akan terhina, dan orang yang menjadi musuhMu tidak akan mulia. Maha berkah diriMu, wahai Rab kami dan Maha tinggi”

(Sunan Abu Dawud no.1425 lafaz darinya, Jami’ Tirmidzi,no. 464, Sunan Nasai, no. 1745, Sunan Ibnu Majah, no. 1178. Imam Tirmidzi mengatakan hadits ini Hasan. Dishahihkan oleh Albani)

Beberapa faedah hadits ini adalah :

  1. Qunut ialah do’a dalam shalat pada waktu khusus setelah berdiri dari ruku’. Qunut witir tidak warid dari Rasulullah SAW dari jalan yang terpercaya. Akan tetapi Hasan mengajarkan do’a ini dengan berdo’a pada qunut Shalat witir. Maka hendaknya bagi seorang muslim agar melakukannya sesekali.
  2. Do’a qunut dilakukan pada raka’at terakhir dari shalat witir setelah ruku’ dan boleh juga sebelum ruku’.

Do’a qunut yaitu :

Allaahummahdinii fiiman hadait, wa ‘aafinii fiiman ‘aafait, wa tawallanii fiiman tawallait, wa baariklii fiimaa ‘atoit, wa qinii syarromaa qodhoit, innaka taqdii wa laa yuqdho ‘alaik, wa innahuu laa yadzillu mawwaalait, wa laa ya’izzu man ‘aadait, tabaarokta robbanaa wa ta’aalait.

“Ya Allah, berilah kami hidayah, sebagaimana orang yang telah Engkau beri hidayah. Lindungi diri kami dari penyakit, sebagaimana orang yang telah Engkau lindungi dirinya dari penyakit. Jadilah pelindung bagi kami, sebagaimana orang yang Engkau menjadi pelindungnya. Berkahilah rizki yang telah Engkau berikan kepada kami. Lindungilah kami dari keburukan apa yang telah Engkau takdirkan. Karena Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang bisa memaksaMu. Sesungguhnya orang yang Engkau jadikan waliMu tidak akan terhina, dan orang yang menjadi musuhMu tidak akan mulia. Maha berkah diriMu, wahai Rab kami dan Maha tinggi”

Perawi hadits

Hasan bin Ali RA ialah Abu Muhammad Al-Qursyi Al-Hasyimi, keturunan Rasulullah SAW yaitu anak dari anak perempuannya yaitu Fatimah Az-Zahra (semoga Allah meridhoinya). Ia dilahirkan pada pertengahan Ramadhan tahun 3 H, yang mana Rasulullah SAW mentahnikkannya dengan air ludahnya dan memberi nama Hasan. Ia anak terbesar bapaknya, yang meriwayatkan 13 hadits.

Hasan merupakan sosok yang cerdas, sabar, gigih dalam permasalahan persatuan umat islam, ia sebaik-baik syahid pada masa khilafah Mu’awiyah yang mana ia merupakan pembuka kebaikan atas kaum muslimin. Jika sudah bersatu kegigihan mereka maka dinamakan Tahun 41 H yaitu tahun Jama’ah, yaitu bersatunya kaum muslimin pada khilafah yang satu yaitu Mu’awiyah RA.

Kedudukan (kemuliaan) Hasan RA banyak, diantaranya : seperti yang disebutkan dari sabda Rasulullah SAW :

“Hasan dan Husain adalah penghulu dari kalangan pemuda ahli surga” (Jami’ Tirmdizi, no. 3768, imam tirmidzi mengatakan hadits ini Hasan Shahih. Dishahihkan oleh Alabani).

Hasan RA wafat pada tahun 49 H, dikebumikan di kuburan Baqi’ di samping ibunya yaitu Fatimah Az-Zahra (semoga Allah meridhoinya).

Referensi : Dr. Muhammad Murtaza bin Aish, 90 Hadits Pilihan, Riyadh, KSA, 2016

Artikel utama : Himpunan 90 Hadits Pilihan

Artikel Pilihan

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi