PENUMPASAN GERAKAN RIDDAH (MURTAD)

islamic-art-20

KHUTBAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ RA. SETELAH DI-BAI’AT DAN SETELAH RASULULLAH SAW. DIKEBUMIKAN

Saif bin Umar at-Tamimi berkata, Diriwayatkan dari Abu Dhamrah dari bapaknya dari Ashim bin Adi, dia berkata, “Salah seorang pesuruh Abu Bakar berseru di tengah-tengah manusia setelah Rasulullah saw. wafat, ‘Hendaklah pasukan Usamah segera berangkat, ingatlah tidak seorangpun dari pasukan Usamah yang boleh tinggal di Madinah, melainkan harus pergi ke Juruf, pangkalan militer pasukan Usamah’.”

img_20191004_160252_923

Setelah memuji Allah, Abu Bakar berpidato di hadapan kaum muslimin, “Wahai saudara-saudara sekalian, sesungguhnya aku adalah seperti kalian juga, dan aku tidak tahu apakah sanggup memikul beban yang kalian letakkan di pundakku sebagaimana Rasulullah saw. mampu memikulnya. Sesungguhnya Allah telah memilih Muhammad atas sekalian alam, dan Allah menjaganya dari segala kegagalan. Sementara aku hanyalah seorang yang berusaha mengi-kut jejak beliau dan aku bukanlah pembuat bid’ah. Maka jika aku istiqamah di atas kebenaran tolong ikuti aku, tetapi jika aku keliru maka luruskan diriku. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah wafat dan tidak seorangpun dari umat ini menuntut kezhaliman yang beliau lakukan terhadapnya baik berupa pukulan dengan cambuk ataupun yang lebih ringan dari itu. Ingatlah, sesungguhnya aku selalu disertai setan yang selalu berusaha menggodaku. Jika setan mendatangiku tolong agar aku dijauhkan darinya. Aku berusaha untuk tidak menyakiti kalian sedikitpun walau seujung kuku. Dan sesungguhnya kalian setiap pagi dan sore selalu dibayang-bayangi ajal yang akan menjemput sementara kalian tidak mengetahuinya. Maka jika sanggup janganlah kalian melewati waktu-waktu kecuali mengisinya dengan amal shalih. Yakinlah kalian tidak akan mampu melakukan amal-amal tersebut kecuali dengan izin Allah. Berlombalah dalam kebaikan sebelum ajal menghalangi kalian beramal. Sebab banyak orang yang lupa kepada ajalnya, dan selalu menunda-nunda amalan mereka untuk masa depannya. Maka jangan kalian tiru mereka, bersungguh-sungguhlah kalian dan berusahalah menyela-matkan diri (dari adzab Allah). Sesungguhnya di hadapan kalian telah menunggu ajal yang selalu mengejar kalian dan akan datang dengan cepat Oleh karena itu wasapadalah terhadap kematian dan banyak-banyaklah mengambil pelajaran dari apa yang telah menimpa bapak-bapak kalian serta saudara-saudara kalian. Janganlah kalian merasa cemburu terhadap orang yang hidup kecuali sebagaimana kalian cemburu kepada orang-orang yang telah mati.

ABU BAKAR RA. MELANJUTKAN EKSPEDISI PASUKAN USAMAH

Sebelumnya Rasulullah saw. telah memerintahkan pasukan Usamah agar berjalan menuju tanah al-Balqa yang berada di Syam, persisnya di tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far dan Ibnu Rawahah. Dengan misi agar pasukan Usamah segera menaklukkan wilayah tersebut. Maka berangkatlah pasukan Usamah ke Jurf dan mendirikan perkemahan di sana. Di antara pasukan tersebut terdapat Umar bin al-Khaththab121 dan ada pula yang me-ngatakan Abu Bakar ash-Shiddiq ra. turut pula di situ, namun Rasulullah saw. mengecualikannya agar menjadi imam shalat.

Ketika Rasulullah saw. sakit mereka masih berdiam di Jurf, persis setelah Rasulullah saw. wafat maka menjadi keadaan kacau balau. Kemunafikan mulai kelihatan di Madinah. Bahkan tidak sedikit dari suku-suku Arab sekitar Madinah yang murtad keluar dari Islam. Ditambah lagi sebagian dari mereka tidak mau membayar zakat kepada Abu Bakar ash-Shiddiq ra.. Dan ketika itu shalat Jum’at tidak lagi didirikan kecuali di Makkah dan Madinah. Tersebut-lah sebuah kota yang bernama Juwatsan di Bahrain, kota ini termasuk kota yang pertama kali yang mendirikan Jum’at setelah situasi agak tenang dan orang-orang kembali kepada kebenaran, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih al-Bukhari.

Di antara negeri yang tetap istiqamah di atas Islam adalah negeri Tsaqif di Thaif, mereka tidak lari dan tidak pula murtad. Ketika berbagai masalah besar ini terjadi, banyak orang-orang mengusulkan kepada Abu Bakar agar menunda keberangkatan pasukan Usamah, karena umat membutuhkan mereka untuk mengatasi masalah yang lebih pentíng. Dengan alasan bahwa pasukan yang disiapkan nabi tersebut sebelumnya di persiapkan ketika negera Islam Madinah dalam kondisi aman. Termasuk di antara orang-orang yang mengajukan usul tersebut adalah Umar, ia mengusulkan penundaan keberangkatan pasukan Usamah itu. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dengan tegas menolak sarán tersebut.

Beliau berpendapat harus tetap menyegerakan keberangkatan pasukan Usamah. Sampai-sampai beliau bersumpah, “Demi Allah Aku tidak akan melepas buhul yang telah diikat oleh Rasulullah saw., walaupun burung menyambar kita dan seluruh binatang búas di sekitar Madinah menyerang kita, bahkan sekalipun anjing-anjing mengejar kaki-kaki Ummahatul Mukminin -istri-istri Rasulullah saw.- aku akan tetap menjalankan misi pasukan Usamah. Dan aku akan memerintahkan agar orang-orang tetap berjaga di sekitar Madinah.”

Ternyata berangkatnya pasukan Usamah membawa kemaslahatan besar waktu itu, setiap kali mereka melewati perkampungan Arab pasti akan menimbulkan rasa gentar mereka untuk memberontak, sehingga ada yang berkata, “Tidak mungkin pasukan sebesar ini keluar kecuali mereka telah memiliki pertahanan yang kuat di Madinah, setelah empat puluh hari atau tujuh puluh hari mereka pulang dengan membawa kemenangan dan harta rampasan perang.”

Saif bin Umar berkata, Diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dia berkata, “Tatkala Abu Bakar dibai’at, beliau mengumpulkan kaum Anshar dalam menyikapi permasalahan yang mereka perselisihkan. Abu Bakar berkata, ‘Pasukan Usamah akan tetap diberangkatkan, sebab orang-orang Arab kembali murtad baik secara umum maupun secara khusus dalam tiap-tiap kabilah. Kemunafikan sekarang telah menampakkan dirinya dan Yahudi maupun Nasrani bersiap-siap mengintai kaum muslimin ibarat domba kehujanan di tengah malam yang gelap gulita setelah mereka kehilangan Nabi dan jumlah mereka yang minoritas di tengah-tengah musuh yang mayoritas’.”

Ada yang memberikan pendapat dan berkata, “Sesungguhnya pasukan Usamah adalah jumlah mayoritas kaum muslimin, sementara orang-orang Arab sebagaimana yang anda lihat bersiap-siap untuk menyerang. Sungguh tidak bijak jika engkau memecah jumlah kaum muslimin!” Abu Bakar menja-wab, “Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, andaikata binatang búas seluruhnya mencabik-cabikku, aku akan tetap menjalankan misi pasukan Usamah sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Rasulullah saw., aku tetap jalankan pasukan tersebut walaupun tidak ada lagi seorangpun di dalam kota ini kecuali diriku.

Kisah ini telah diriwayatkan oleh Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari ‘Aisyah ra., dan dari jalan al-Qashim dan Amrah dari ‘Aisyah ra., dia berkata, “Ketika Rasulullah saw. wafat, orang-orang Arab sepakat kembali murtad dan kemunafikan tersebar di mana-mana. Demi Allah sesungguhnya ayahku mendapat beban berat, jika dipikul oleh gunung yang kokoh sekalipun niscaya akan hancur luluh. Dan para sahabat Muhammad ibarat domba yang kocar-kacir terkena hujan di malam yang gelap gulita dan dingin, di tengah-tengah padang yang dipenuhi binatang buas. Demi Allah semua perselisihan mereka berhasil diselesaikan oleh ayahku dengan keistiqa-mahannya dalam Islam.”

Kemudian ‘Aisyah ra. menyebutkan tentang Umar dan berkata, “Barang-siapa melihat Umar niscaya ia tahu bahwa Umar diciptakan untuk kemasla-hatan Islam. Demi Allah ia ibarat penenun ulung yang telah menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi apa yang bakal terjadi.”

Saif bin Umar meriwayatkan dari Abu Dhamrah, Abu Amru dan lain-lainnya dari al-Hasan al-Basri, ketika Abu Bakar bersiap-siap memberang-katkan pasukan Usamah, sebagian Anshar berkata kepada Umar, “Katakan padanya agar mengganti dan tidak menunjuk Usamah sebagai pimpinan kita, maka Umar segera melaporkan hal itu kepada Abu Bakar. Maka dice-ritakan bahwa Abu Bakar menarik janggut Umar dan berkata, “Payah-payah ibumu mengandungmu wahai Umar bin al-Khaththab, bagaimana mungkin aku mengganti pimpinan yang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw.. Kemudian Abu Bakar segera bangkit dan berjalan sendiri menuju Jurf untuk memeriksa pasukan Usamah dan memerintahkan mereka untuk mulai berjalan, sementara beliau turut berjalan bersama mereka. Waktu itu Usamah menaiki kendaraan dan Abdurrahman memegang tali kekang unta Abu Bakar ash-Shiddiq ra.. Usamah berkata, “Wahai khalifah Rasulullah saw., naiklah ke atas kendaraan ini atau aku yang turun!” Abu Bakar menjawab, “Demi Allah aku tidak akan naik dan engkau tidak boleh turun!” Setelah itu Abu Bakar memohon agar Umar bin al-Khaththab dibebastugaskan untuk menemaninya di Madinah -sebelumnya Umar termasuk satu dari anggota pasukan Usamah- maka Usamah pun mengabulkannya.

Setelah peristiwa ini tidak pernah Umar bertemu dengan Usamah kecuali akan mengucapkan salam kepadanya, “As-Salamu ‘alaika ya Amir.’

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ RA. MENUMPAS KAUM MURTAD DAN ORANG-ORANG YANG MENOLAK MEMBAYAR ZAKAT

Muhammad Ibnu Ishaq berkata, Ketika Rasulullah saw. wafat maka orangorang Arab kembali murtad, Yahudi dan Nasrani menampakkan taringnya, sementara kemunafikan mulai tersebar, kaum muslimin ibarat domba yang kucar-kacir diguyur hujan lebat pada malam yang pekat dan dingin, hingga Abu Bakar berhasil menyatukan mereka kembali.

Ibn Hisyam berkata, telah berkata kepadaku Abu Ubaidah dan para ulama lainnya, ketika Rasulullah saw. wafat kebanyakan dari penduduk Makkah ingin kembali murtad keluar dari Islam, hingga ‘Itab bin Usaid mengkhawa-tirkan keberadaan mereka dan bersembunyi. Berdirilah Suhail bin Amru, dan memulai pidatonya dengan memuji Allah, kemudian ia menyebutkan perihal wafatnya Rasulullah saw. sembari berkata, “Kematian Rasulullah saw. tidak menambah Islam kecuali semakin kuat, maka barangsiapa kami curigai keluar dari agama ini akan aku penggal kepalanya!”

Akhirnya orang-orang kembali kepada Islam dan berhenti dari keinginan untuk murtad, dan ‘Itab bin Usaid kembali muncul. Barangkali inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw. ketika Umar hendak menanggalkan gigi Suhail bin Amru sewaktu menjadi tawanan perang Badar, “Semoga suatu saatia akan dapat mengambil sikap yang benar” (dalam kondisi genting) yang tidak akan kalian cela!”

Mayoritas Bani Hanifah turut dan sebagian besar orang-orang di Yamamah bergabung bersama Musailamah al-Kadzdzab, dan Bani Asad maupun Thayyi bergabung dengan Thulaihah al-Asadiyah yang mengaku sebagai Nabi baru, seperti halnya Musailamah al-Kadzdzab. Suasana semakin kacau balau, sementara ash-Shiddiq ra. tetap memberangkatkan pasukan Usamah yang membuat bala tentara di Madinah semakin berkurang. Akhir-nya keadaan ini membuat banyak dari suku Arab bersiap-siap untuk meng-habisi dan merebut kota Madinah, namun Abu bakar cepat tanggap dengan mendirikan pos-pos keamanan di sekitar kota dan menunjuk para pemimpin pos-pos tersebut, di antaranya Ali bin Abi Thalib, az-Zubair bin al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahan bin Auf dan Abdullah bin Mas’ud.

Seiring dengan itu, utusan orang-orang Arab berdatangan ke Madinah mengakui kewajiban shalat namun mengingkari kewajiban zakat, dan ada pula yang enggan membayarkannnya kepada ash-Shiddiq ra., dengan dalih ayat:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketemtraman jiwa bagi mereka.” (At-Taubah: 103).

Mereka berkata, “Kami tidak akan bayar zakat kami kecuali kepada orang yang doanya dapat menenteramkan hati kami, bahkan ada yang membuat bait syair:

Kami akan selalu patuh ketika Rasulullah saw. ada di antara kami

Alangkah aneh, kenapa kami harus patuh kepada Abu Bakar

Sebagian Sahabat ada yang mengusulkan kepada Abu Bakar agar membiarkan orang yang tidak mau membayar zakat sambil berusaha melunakkan hati mereka hingga iman dalam dada mereka kembali kuat dan akhirnya kembali membayar zakat. Namun Abu Bakar ash-Shiddiq ra. tidak menerima usulan itu dan tetap bersikeras menumpas mereka.

Para perawi hadits selain Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab-kitab mereka dari Abu Hurairah bahwa Umar bin al-Khaththab berkata kepada Abu Bakar,

“Mengapa anda akan menumpas mereka? sementara Rasulullah saw. Telah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Asyhadu alia ilaha illallah wa anna Muhammad Rasululullah, jika mereka menyatakannya maka harta dan darah mereka terjaga dariku untuk ditumpahkan dan dirampas kecuali dengan haknya? Maka Abu Bakar menjawab, “Demi Allah andai saja mereka enggan untuk menyerahkan anak unta yang sebelumnya mereka serahkan kepada Rasulullah saw., pastilah akan kuperangi mereka semua karenanya. Sesungguhnya zakat itu adalah hak harta. Dan demi Allah aku pasti akan memerangi orang yang membedakan antara shalat dan zakat!”

Maka Umar berkata, “Akhirnya aku sadari bahwa Allah telah melapangkan hati Abu Bakar untuk memerangi mereka dan aku yakin itulah yang benar. Aku berkata, “Allah berfirman:

‘Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (At-Taubah: 5).”

Dalam Shahih Muslim disebutkan bahwasanya agama Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat la ilaha illallah wa anna Muhammad Rasululullah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa bulan Ramadhan.

Al-Hafizh Ibn Asakir meriwayatkan dari dua jalan dari Syababah bin al-A’war, dia berkata, telah berkata kepada kami Isa bin Yazid al-Madini, dia berkata, telah berkata kepadaku Shalih bin Kaisan, dia berkata, “Ketika kemurtadan terjadi maka Abu Bakar berpidato di hadapan manusia, setelah memuji Allah dia berkata, ‘Cukuplah segala puji milik Allah, yang telah memberikan nikmatNya dan mencukupkannya. Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad dalam kondisi ilmu tercerai berai, Islam dalam keadaan asing dan dimusuhi, tali agama tempat berpegang telah Iapuk dan perjanjian mereka dengan Allah telah mereka lupakan. Akhirnya mereka sesat. Adapun Ahli kitab, maka Allah telah membenci mereka, Allah tidak memberikan kepada mereka kebaikan yang ada pada mereka, dan tidak pula memalingkan mereka dari kejelekan yang ada pada mereka. Mereka telah merubah-rubah kitab suci mereka dan menyisipkan perkara yang bukan termasuk isi al-Kitab ke dalamnya.

Adapun bangsa Arab mereka tidak menyembah Allah dan tidak pernah berdoa kepadaNya. Merekalah orang yang paling sulit kehidupannya, paling sesat agamanya, terombang-ambing, pindah dari sana ke sini, hingga Allah menyatukan mereka dengan datangnya Muhammad saw. Dan Allah menjadi-kan mereka Ummat yang pertengahan. Allah memenangkan mereka dengan para pengikutnya, dan Allah mengangkat mereka di atas seluruh bangsa. Akhirnya Allah mewafatkan Nabinya maka setelah itu setan menyiapkan kendaraannya untuk menggiring mereka. Dan menginginkan agar seluruh manusia binasa. Allah berfirman:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad) Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali mran: 144).

Sesungguhnya orang-orang Arab di sekitar kalian menolak menye-rahkan zakat kambing dan unta mereka. Selama ini mereka tidak pernah sebakhil hari ini -jika mereka kembali kepada agama mereka dan selama ini kalian tidak pernah memegang agama sekuat hari ini. Sebagaimana yang telah kalian rasakan keberkahan nabi kalian. Beliau telah menyerahkan urusan kalian kepada Maula (Allah) Yang Maha Mencukupi, Yang mendapati diri beliau sebelumnya tersesat kemudian Dia memberi beliau petunjuk. Mendapati beliau dalam keadaan miskin lalu Dia mencukupi beliau.

“Dan kamu telah berada di tepi jurang naar, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (Ali Imran: 103).

Demi Allah akan kuperangi mereka sebagaimana Allah telah memerintahkannya hingga Dia memenuhi janjiNya dan menyempurnakan bagi kita perjanjianNya. Hingga ada di antara kita yang terbunuh dan akan dimasukkan ke dalam surga. Dan akan tersisa di antara kita orang-orang sebagai generasi penerus dan khalifah di muka bumi ini. Sesungguhnya ketentuan Allah adalah Haq, dan janjiNya tidak akan Dia ingkari:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.” (An-Nur: 55).

Kemudian beliau turun dari mimbar.

Al-Hasan, Qatadah dan selainnya berkata dalam menafsirkan ayat:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya.” (Al-Maidah: 54).

Mereka berkata, “Maksud dari ayat ini yaitu Abu Bakar dan para saha-batnya ketika mereka berperang menumpas orang-orang yang murtad dan yang enggan membayar zakat.”

Muhammad Ibnu Ishaq berkata, “Orang-orang Arab kembali murtad ketika Rasulullah saw. wafat kecuali penduduk dua masjid, Makkah dan Madinah.

Adapun kabilah Asad, Ghathafan telah murtad di bawah pimpinan Thulaihah bin Khuwailid al-Asadi -seorang dukun- dan murtad pula suku Kindah dan sekutunya di bawah pimpinan al-Asy’ats bin Qais al-Kindi. Kemudian diikuti oleh Suku Mudzhij dan sekutunya di bawah pimpinan al-Aswad bin Ka’ab al-Ansi, seorang dukun. Demikian pula dengan suku Rabi’ah di bawah pimpinan al-Ma’rur bin an-Nukman bin al-Munzir. Adapun Bani Hanifah masih tetap di bawah Musailamah bin al-Habib al-kadzdzab. Kemudian murtad pula bani Sulaim di bawah pimpinan al-Fuja’ah yaitu yang bernama Iyas131 bin Abdullah bin Abdi Yaa lail. Adapun bani Tamim mereka murtad dibawah komando Sajah, seorang wanita tukang sihir.

Al-Qashim bin Muhammad berkata, “Bani Asad, Ghathafan dan Thayyi bersatu di bawah pimpinan Thulaihah al-Asadi, dan mereka mengi-rim duta mereka ke Madinah berhenti tepat di tengah kerumunan manusia. Mereka diterima orang banyak kecuali Abbas, kemudian mereka dibawa kepada Abu Bakar dan menyatakan statement mereka untuk tetap menegakkan shalat tetapi menolak membayar zakat. Namun Allah mengilhamkan kebenaran kepada Abu Bakar, ia berkata, ‘Andai saja mereka menahan zakat mereka dariku pasti aku akan perangi mereka!’ Kemudian Abu Bakar menyuruh mereka untuk pulang ke kabilah masing-masing. Mereka membawa berita kepada kaum masing-masing bahwa penduduk kota Madinah jumlahnya sedikit sambil berusaha menyakinkan mereka bahwa kota Madinah gampang direbut.

Maka Abu Bakar segera membuat posko-posko keamanan di setiap perbatasan kota Madinah, dan mewajibkan seluruh penduduk Madinah untuk menghadiri jama’ah di masjid sambil berkata, ‘Sesungguhnya sekarang bumi ini dipenuhi orang kafir dan mereka melihat bahwa jumlah kalian sedikit, kalian pasti akan diserbu siang maupun malam hari. Musuh yang paling dekat dari kalian sekarang sejauh satu barid. Mereka ingin agar kita membiarkan mereka dan menerima persyaratan mereka. Namun secara tegas keinginan mereka kita tolak. Oleh karena itu bersiap-siaplah dan persiapkan diri.’

Tak berapa lama kemudian -tepatnya setelah tiga hari- mereka datang menyerbu kota Madinah, sementara setengah dari pasukan mereka ditinggalkan di Dzi Husan bersiap-siap untuk membantu mereka. Para penjaga keamanan yang ditugaskan Abu Bakar melaporkan berita tersebut kepada Abu Bakar. Abu Bakar segera memerintahkan agar mereka tetap di tempat masing-masing, kemudian Abu Bakar keluar membawa seluruh jama’ah masjid untuk menyerbu mereka, maka musuh-musuh lari kocar-kacir, sementara kaum muslimin berlari mengejar mereka dengan unta-unta yang mereka tunggangi, ketika mereka sampai di Dzi Husan pasukan yang disiapkan sebagai bala bantuan tadi datang menyerbu namun jumlah kaum muslimin banyak dan akhirnya mereka berhasil memenangkan pertempuran.

Oleh : Ibnu Katsir

 

About Auther:

Info Biografi