Perbanyaklah Mengucapkan, “Ya dzal jalali wal ikram”

allah13

Dalam sebuah riwayat sahih, Rasulullah bersabda, “Perbanyaklah mengucap, ‘Ya dzal jalali wal ikram’.” Artinya, kalian harus benar-benar mengamalkan hadits ini, memperbanyak mengucapkannya, dan senantiasa membacanya. Ucapan yang serupa tapi memiliki nilai yang lebih besar adalah Ya hayyu, ya qayyum.

Disebutkan, itu adalah nama Allah yang teragung (Al-Ismul a’zham). Yang bila diseru dengan nama ini, maka Allah akan mengabulkannya, dan bila dimohon maka Dia akan memberi. Itu artinya bahwa hamba harus menyeru, memohon pertolongan dan membiasakan diri mengucapkannya. Agar dapat melihat jalan keluar, kemenangan dan kebahagiaan:

img_20191004_160252_923

“(Ingatlah) ketika kamu memohoh pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu” (QS. Al-Anfal: 9)

Dalam kehidupan seorang muslim hanya ada tiga hari, yang seakan-akan ketiga hari itu adalah hari raya baginya.

Pertama, hari ketika ia menunaikan perintah-perintah Allah secara berjamaah, dan ketika ia tidak melakukan kemaksiatan.

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kepadamu” (QS. Al-Anfal: 23)

Kedua, hari ketika ia bertaubat dari segala dosa, ketika melepaskan diri dari tindakan-tindakan durhaka, dan ketika kembali kepada Rabbnya.

“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya” (QS. At-Taubah: 118)

Ketiga, hari ketika dia menemui Rabbnya dengan akhir perjalanan yang baik dan amal yang diterima.

”Barangsiapa ingin dan senang untuk berjumpa dengan Allah, maka Allah akan sangat senang berjumpa dengannya” (Al-Hadits)

Saya pernah membaca catatan sejarah para sahabat. Dalam kisah kehidupan mereka, saya temukan lima hal yang membedakan mereka dari orang lain.

Pertama, pola hidup sederhana dan tidak memaksakan diri. Mereka menghadapi segala permasalahan hidup dengan sewajarnya: tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu terbebani.

(Dan, Kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah” (QS. Al-A’la: 8)

Kedua, ilmu mereka luas, penuh berkah, dan praktis. Ilmu mereka bukan retorika belaka dan amat jelas-tidak berbelit-belit.

“Sesungguhnya orang yang takat kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28)

Ketiga, bagi mereka, amalan hati jauh lebih berat daripada ibadah fisik. Di hati mereka ada keikhlasan, inabah, tawakal, kecintaan yang mendalam kepada Allah, serta raghbah (keinginan dekat dengan Allah yang memuncak). Hati mereka juga selalu diliputi rahbah (rasa khawatir amal-amal yang dia lakukan tidak berkenan di sisi Allah), khasyyah (perasaan takut jika siksa Allah menimpanya), dan sebagainya.

Namun demikian, ibadah mereka yang berupa kesunahan shalat dan puasa biasa-biasa saja. Andaikan diamati, justru para tabiin lebih rajin melakukan nafilah-nafilah seperti itu – bahkan nafilah lainnya.

“Maka Allah mengetahai apa yang ada di dalam hati mereka” (QS. Al-Fath: 18)

Keempat, mereka sengaja mengurangi kenikmatan dunia. Menjaga jarak serta menjauhkan diri dari godaan dan kemewahan duniawi. Semua ini membuat mereka berada dalam ketenangan, thuma’ninah, dan sakinah.

“Dan, barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh dan dia beriman maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik” (QS. Al-Isra: 19)

Kelima, mereka menempatkan jihad sebagai amalan di atas amalan yang lain. Sampai-sampai jihad menjadi tanda, karakter dan motto mereka.

Dengan jihad mereka mampu menghilangkan semua kegundahan, keresahan dan kesedihan. Sebab, di dalamnya ada dzikir, amal, pengorbanan dan gerak tubuh.

Seorang mujahid di jalan Allah adalah orang yang paling bahagia, paling lapang dadanya, dan paling bersih jiwanya.

“Dan, orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Di dalam al-Qur’an ada beragam hakikat dan sunatullah yang tidak akan pernah hilang dan tak akan pernah berubah. Berikut akan saya jelaskan beberapa di antaranya, yang berhubungan dengan kebahagiaan hamba dan ketenangan hatinya. Antara lain:

Bahwa barangsiapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongma dan mengukuhkan kedudukanmu” (QS. Muhammad: 7)

Siapa yang meminta kepada-Nya, maka Allah akan memberinya.

“Dan, Rabb-mu berfirman: ”Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Al-Mu’min: 60)

Siapa yang memohon ampunan pada-Nya, maka Dia akan memherikan ampunan atasnya.

“Karena itu ampunilah aku. Maka Allah mengampuninya” (QS. Al-Qashash: 16)

Barangsiapa berrtaubat kepada-Nya, maka Allah akan menerima taubatnya.

“Dan, Dialah yang menerima tauhat dari hamba-hamba-Nya” (QS. Asy-Syuara: 25)

Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya.

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya ” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Ada tiga hal yang oleh Allah akan disegerakan siksa dan imbalan para pelakunya:

  1. Kezaliman

“Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri” (QS. Yunus: 23)

  1. Pelanggaran janji

“Maka barangsiapa melanggar janjinya, niscaya akibat pelanggaran janji itu akan menimpa dirinya sendiri” (QS. Al-Fath: 10)

  1. Tipu daya (makar)

“Rencana jahat tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya seadiri” (QS. Fathir: 43)

Orang yang zalim tidak akan bisa lepas dari cengkeraman kekuasaan Allah.

“Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka” (Qs. An-Naml: 52)

Buah dari amal salih ada yang bisa dipetik sekarang – di dunia – dan ada pula yang baru bisa dipetik nanti – di akhirat. Sebab Allah Maha Pengampun dan Maha Membalas budi.

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat” (QS. Ali Imran: 148)

Siapapun yang taat kepada Allah, maka Allah akan mencintainya.

“Maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian” (QS. Ali Imran: 31)

Jika seorang hamba telah mengetahui itu semua, maka ia akan merasa bahagia lantaran senang berhubungan dengan Rabb Yang Maha Pemberi rezeki dan Maha Menolong,

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Memiliki kekuatan lagi Maha Kokoh” (QS. Adz-Dzariyat: 58)

“Dan, kemenanganmu itu hanyalah dari Allah” (QS. Ali Imran: 126)

Yang Maha Pengampun,

“Dan, sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat” (QS. Thaha: 82)

Yang Maha Penerima Taubat,

“Sesunggahnya Dia Maha Penerima taabat dan Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah: 37)

Yang akan membalaskan dendam para wali-Nya terhadap musuh-musuh-Nya:

“Sesungguhnya Kami adalah Pemberi pembalasan” (QS. Ad-Dukhan: 16)

Maha Suci Dia, sungguh Sempurna dan Agung:

“Apakah kamu mengetahai ada seseorang yang sama dengan Dia (yang pantas untuk disembah” (QS. Maryam: 65)

Syaikh Abdur Rahman ibn Sa’di memiliki sebuah buku yang sangat berharga berjudul Al-Wasail Al-Mufidah fil Hayat al-Sa’idah. Di dalamnya dia menulis: “Di antara sebab-sebab kebahagiaan adalah menghitung nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya. Pada saat itu, seseorang akan menyadari bahwa nikmat yang ada pada dirinya lebih banyak dibandingkan dengan yang diberikan kepada orang lain, tak terhingga. Selanjutnya, ia akan merasakan karunia Allah yang diberikan kepadanya.”

Sampai pun dalam masalah-masalah keagamaan. Ia akan menyadari bahwa apa yang telah diberikan kepadanya lebih banyak dibandingkan apa yang telah diberikan kepada orang lain. Misalnya, dalam hal ketekunan melakukan shalat jamaah, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan lain-lain. Meski masih sering terlewatkan, tapi itu merupakan sebuah nikmat agung yang tak ternilai.

“Dan, menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin” (QS. Luqman: 20)

Imam Adz-Dzahabi pernah bercerita tentang Abdul Baqi, seorang ahli hadits terkemuka. Suatu kali, Abdul Baqi sedang memperhatikan orang-orang yang keluar dari Masjid Jami’ Darusalam, Baghdad. Dia sedang mencari seseorang yang bercita-cita bahwa masjid itu adalah tempatnya hidup shalat.

“Dan, Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan” (QS. Al-Isra: 70)

Semua makhluk penuh dengan tipuan.

Dan, aku merasa merupakan bagian dari mereka.

Maka, tinggalkanlah rincian-rincian umumnya.

***

Referensi : Dr. ‘Aidh al-Qarni, Jangan Bersedih, Qisthi Press, Jakarta, 2013

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Baca juga : 

About Auther:

Info Biografi