PERINTAH RASULULLAH AGAR ABU BAKAR MENJADI IMAM BAGI PARA SAHABAT DAN KELUARNYA RASUL IKUT MELAKSANAKAN  SHALAT DI BELAKANGNYA DALAM BEBERAPA KESEMPATAN

islamic-background1

Imam Ahmad berkata, Ya’qub menyampaikan kepada kami, ia berkata, ayahku menyampaikan kepadaku dari Ibnu Ishaq, dia berkata, Ibnu Syihab al-Zuhri berkata, telah berkata kepadaku Abdul Malik bin Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Haris Ibnu Hisyam dari bapaknya dari Abdullah bin Zam’ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad, dia berkata, “Ketika Rasulullah sakit aku berada di sisinya bersama beberapa orang dari kaum muslimin, kemudian Bilal mengumandangkan adzan, maka Rasulullah bersabda, “Perintahkan agar seseorang menjadi imam kaum muslimin” Maka aku keluar, dan di sana aku bertemu Umar, sementara Abu Bakar ketika itu tidak kelihatan, maka aku katakan kepada Umar, “Bangkitlah wahai Umar dan majulah anda menjadi imam shalat, maka Umar berdiri dan mulai bertakbir, tatkala Rasulullah mendengar suara Umar -dan Umar terkenal dengan suaranya yang keras- Rasulullah berkata,

“Mana Abu Bakar? Sesunguhnya Allah dan kaum maslimin tidak akan rela hal ini, sesungguhnya Allah dan kaum maslimin tidak rela hal ini!”

img_20191004_160252_923

Maka diutus orang untuk mencari Abu Bakar dan akhirnya beliau datang setelah Umar selesai melaksanakan shalat dan Abu Bakar kembali shalat mengimami manusia.

Abdullah bin Zam’ah berkata, “Umar berkata kepadaku, ‘Celakalah engkau hai Ibnu Zam’ah apa yang telah kau perbuat terhadapku? Demi Allah aku tidak mengira apa yang kau perintahkan tadi adalah perintah Rasulullah, kalau aku tahu niscaya aku tidak akan pernah berani menjadi imam shalat’ Aku katakan, “Demi Allah aku tidak pernah diperintahkan Rasulullah untuk memilihmu, namun ketika kulihat Abu Bakar tidak ada maka engkaulah kuanggap yang lebih berhak untuk menjadi imam kami dalam shalat.” Seperti itulah yang telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Ibnu lshaq, dia berkata, “Telah berkata kepadaku az-Zuhri dan Yunus meriwayatkannya dari Bukair dari Ibnu Ishaq dia berkata, telah berkata kepadaku Ya’qub bin Utbah dari Abu Bakar bin Abdurrahman dari Abdullah bin Zam‘ah, kemudian dia menyebutkan hadits tersebut.

Abu Dawud berkata, “Telah berkata kepada kami Ahmad bin Shalib dia berkata, Telah berkata kepada kami bin Abi Fudaik, dia berkata, telah berkata kepadaku Musa bin Ya’qub dari Abdurrahman Ibnu Ishaq dari bin Syihab dari Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bahwa Abdullah bin Zam’ah memberitahukannya tentang hadits ini, dia berkata, “Ketika Nabi mendengar suara Umar seketika Nabi keluar hingga mengeluarkan kepala beliau dari dalam kamarnya dan berkata, “Tidak… tidak… tidak hendaklah yang menjadi imam shalat Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)!” Beliau mengucapkan hal itu sambil marah.

Imam al-Bukhari berkata, “Kami diaberitahukan oleh Umar bin Hafs, dia berkata, telah berkata kepada kami Ayahku, dia berkata,telah berkata kepada kami al-A’masy dari Ibrahim. al-Aswad berkata,”Ketika Rasulullah menderita penyakit yang membuatnya wafat, maka masuklah waktu shalat dan Bilal mulai mengumandangkan Adzan, kemudian Rasulullah berkata,

“Perintahkanlah Abu Bakar agar menjadi Imam manusia!”

Ada di antara istri beliau yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya Abu Bakar seorang yang gampang menangis, jika ia menggantikan posisimu sebagai imam dikhawatirkan ia tidak dapat melakukannya, namun Rasulullah mengulangi kembali perintahnya dan mereka kembali memberi jawaban yang sama, hingga akhirnya Rasulullah mengulangi tiga kali, sambil berkata kepada para istrinya,

“Sesungguhnya kalian sama saja dengan perempuan yang menggoda Nabi Yusuf, perintahkan Abu Bakar agar menjaai Imam shalat!“

Maka keluarlah Abu Bakar sementara Nabi merasakan badannya agak lebih ringan, hingga akhirnya beliau turut dipapah dua orang lelaki, dan aku dapat melihat kakinya melangkah perlahan disebabkan sakit, kemudian Abu Bakar berkeinginan mundur namun Rasulullah mengisyaratkan agar ia tetap ditempatnya, kemudian Rasulullah dipapah hingga akhirnya shalat dalam keadaan duduk di sampingnya.”

Ada yang bertanya kepada A’masy, “Apakah Nabi shalat menjadi Imam dan Abu Bakar mengikuti shalatnya sementara orang-orang shalat mengikuti Abu Bakar?” Maka dia menganggukkan kepalanya dan berkata, “Ya!” dan Imam al-Bukhari telah meriwayatkan kisah ini Iebih dari satu tempat dalam kitabnya, demikian pula imam Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah, melalui beberapa jalur dari A‘masy.

Di antaranya ada yang diriwayatkan al-Bukhari dari Qutaibah, dan Muslim dari Abu Bakr bin Syaibah dan Yahya bin Yahya dari Mu’awiyah.

Imam al-Bukhari berkata, “Telah berkata kepada kami Abdullah bin Yusuf, dia berkata, telah berkata kepada kami Malik dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah, dia berkata, Sesungguhnya Rasulullah pernah berkata ketika beliau sakit, Perintahkan Abu Bakar agar shalat menjadi imam manusia.” Ibnu Syihab berkata, “Telah berkata kepadaku Ubaidullah bin Abdullah dari ‘Aisyah bahwa dia berkata, “Aku telah membantah Rasulullah dalam masalah ini, dan tidaklah aku berbuat demikian kecuali takut manusia akan merasa pesimis terhadap Abu Bakar, maka aku ingin agar Rasulullah melimpahkan perintahnya kepada selain Abu Bakar.

Dalam kitab Shahihain dari hadits Abdul Malik bin Umair dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Ayahnya, dia berkata, ketika Rasulullah sakit dia berkata, “Perintahkan agar Abu Bakar menjadi imam manusia. Maka ‘Aisyah menjawab, “Wahai Rasulullah sesungguhnya Abu Bakar adalah seorang lelaki yang halus perasaannya dan jika dia menggantikan posisimu niscaya dia tidak akan sanggup.” Rasulullah menjawab, “Perintahkan Abu Bakar agar menjadi imam sesungguhnya kalian sama saja seperti para wanita yang menggoda Nabi Yusuf” Maka Abu Bakar sejak itu menjadi imam shalat di masa Rasulullah hidup.

Imam Ahmad berkata, Telah berkata kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, dia berkata, “Kami diberitahu oleh Zaidah dari Musa bin Abi ‘Aisyah dari Ubaidillah bin Abdillah, aku masuk menjumpai ‘Aisyah dan kutanyakan padanya, “Maukah anda menceritakan padaku perihal Rasulullah sakit?“ la berkata, “Ya, ketika penyakit beliau semakin berat, beliau berkata, “apakah orang-orang telah shalat?” Kami katakan, “Belum mereka menunggumu wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Siramkan air ke dalam bejana! “Kami segera melakukannya. Kemudian Rasulullah mandi, ketika selesai beliau siap-siap berangkat namun akhirnya jatuh pingsan, tak berapa lama kemudian beliau kembali sadar dan bertanya, “Apakah orang-orang telah shalat?“ Kami menjawab, “Belum, mereka menantimu wahai Rasulullah!” Kemudian dia kembali berkata, “Tuangkan air buatku di bejana! ” Maka kami kembali menuangkannya dan beliau kembali mandi, kemudian ketika bersiap-siap hendak keluar beliau jatuh pingsan lagi dan tak lama kemudian beliau sadar sambil bertanya, “Apakah orang-orang telah shalat?” Kami menjawab, “Belum, sebab mereka menanti anda Wahai Rasulullah” ‘Aisyah berkata, “Sementara orang-orang dalam keadaan hening di masjid sambil menanti kedatangan Rasulullah untuk melaksanakan shalat Isya, maka Rasulullah mengutus seseorang menjumpai Abu Bakar agar ia menjadi imam shalat.” Dan Abu Bakar adalah seorang yang lembut suaranya, maka ia berkata kepada Umar, “Wahai Umar majulah anda sebagai Imam shalat” Umar menjawab, “Anda lebih berhak untuk menjadi imam.” Maka beberapa hari sejak itu Abu Bakar menjadi Imam shalat. Suatu hari Rasulullah merasa badannya agak lebih ringan dari biasanya, maka beliau keluar dipapah dua orang lelaki, Salah satunya Abbas untuk melaksanakan shalat Dzuhur, ketika Abu Bakar melihat kedatangan Rasulullah maka dia bersiap-siap untuk mundur, namun Rasulullah perintahkan agar ia tetap di tempatnya, dan beliau memerintahkan kepada dua orang yang memapahnya tadi agar mendudukkan beliau di samping Abu Bakar, maka Abu Bakar shalat dalam berdiri sementara Rasulullah shalat dalam keadaan duduk. Ubaidullah berkata, “Maka aku masuk menemui Ibnu Abbas dan berkata padanya, “Maukah engkau kuceritakan apa yang disampaikan ‘Aisyah tentang sakit Rasulullah, Dia berkata, “Coba ceritakan!” Maka aku menceritakan seluruhnya dan dia tidak sedikitpun mengingkari apa yang kuberitakan, kecuali satu pertanyaan, “Apakah ‘Aisyah memberitahukan kepadamu siapa nama lelaki yang memapah Rasulullah bersama Abbas?” kukatakan,”Tidak.” Dia berkata, “Sesungguhnya ia adalah Ali”

Imam al-Bukhari berkata dalam shahihnya, “Telah berkata kepada kami Abul Yaman, dia berkata, telah berkata kepada kami Syu‘aib dari az-Zuhri, dia berkata, telah berkata kepadaku Anas bin Malik, beliau adalah orang yang selalu mengiringi Nabi serta berkhidmat kepadanya, bahwa Abu Bakar shalat menjadi Imam mereka ketika Rasulullah dalam keadaan sakit yang membawanya kepada kematian, maka pada hari Senin saat mereka sedang shalat berjama’ah, tiba-tiba Rasulullah menyingkap tirai penutup rumahnya sambil melihat kepada kami. Wajah beliau putih laksana kertas dalam keadaan tersenyum lebar. Konsentrasi kami nyaris terganggu disebabkan perasaan senang dapat melihat Rasulullah. Abu Bakar mundur ke belakang untuk masuk ke dalam shaf dengan anggapan bahwa Nabi akan keluar mengimami shalat, namun Rasulullah mengisyaratkan kepada kami agar melanjutkan shalat kemudian beliau menutup tirai penutup rumahnya”

Akhirnya beliau wafat pada hari itu juga. Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Sufyan bin Uyainah, dan Shabih bin Kaisan beserta Ma’mar dari Az-Zuhri dari Anas.

Kemudian Imam al-Bukhari berkata, “Telah berkata kepada kami Abu Ma’mar, dia berkata, telah berkata kepada kami Abdul Warits, dia berkata, telah berkata kepada kami Abdul Aziz dari Anas bin Malik, dia berkata, ‘Sudah tiga hari Rasulullah tidak dapat keluar menjadi imam shalat, maka pada hari ketiga setelah iqamat dikumandangkan, lantas Abu Bakar bersiap-siap untuk maju, namun Nabi berkata, ‘Bukalah hijab rumah ini!’ Ketika wajah Nabi muncul maka seketika kami merasa tidak ada pemandangan yang lebih indah dari wajah Nabi yang muncul kepada kami, namun beliau mengisyaratkan agar Abu Bakar tetap menjadi Imam dan kemudian dia kembali menutup kain rumahnya. Dan pada hari itulah beliau wafat.” Muslim meriwayatkannya dari hadits Abdus Shamad bin Abdul Warits dari ayahnya.

Ini merupakan dalil yang paling jelas bahwa Nabi tidak shalat Subuh pada hari Senin bersama jama’ah. Dan beliau tidak dapat keluar rumah selama tiga hari. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa shalat beliau terakhir bersama jama’ah adalah shalat Dzuhur, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah tadi. Dan hari itu adalah hari Kamis, bukan hari Sabtu dan bukan pula hari Ahad, sebagaimana yang diceritakan oleh al-Baihaqi dari Maghaazi Musa bin Uqbah dan dia adalah lemah setelah kami terangkan tentang khutbah beliau sesudah itu. Dan disebabkan beliau tidak menemui orang-orang sejak hari Jum‘at, Sabtu dan Ahad, yaitu dalam tiga hari.

Az-Zuhri berkata, diriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Saburah bahwa Abu Bakar shalat menjadi imam mereka sebanyak 17 kali shalat, ada yang mengatakan 20 kali shalat, wallahu a’lam. Kemudian mereka melihat wajah Rasulullah yang mulia pada pagi hari Senin dan beliau melihat mereka untuk terakhir kalinya sebagai tatapan perpisahan yang hampir saja mengganggu shalat mereka. Itulah kali terakhir mayoritas para sahabat melihat beliau. Hal yang perlu digarisbawahi di sini yaitu sikap Rasulullah yang mengedepankan Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai imam bagi seluruh sahabat dalam shalat sebagai rukun terbesar dari bagian rukun Islam yang bersifat amaliyah.

Syeikh Abul Hasan al-Asya’ari berkata, “Perintah Rasulullah memajukan Abu Bakar adalah suatu perkara yang jelas dalam agama Islam.” Ia berkata, “Sikap Rasulullah ketika mengedepankan Abu Bakar sebagi Imam shalat adalah pertanda bahwa beliaulah orang yang paling alim dari seluruh sahabat dan yang paling baik bacaannya, sebagaimana yang terdapat dalam sebuah hadits yang disepakati oleh ulama keshahihannya bahwa Rasulullah bersabda,

“Orang yang berhak menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling baik bacaannya terhadap kitab Allah, jika ternyata bacaannya sama baiknya, rnaka yang lebih berhak adalah orang yang lebih alim terhadap Sunnah, dan jika ternyata mereka sama alimnya maka yang didahulukan adalah yang lebih tua, dan jika ternyata usia rnereka sama maka yang didahalukan yang lebih dahulu keislamannya.”

Ibnu Katsir berkata, “Ungkapan Abul Hasan al-Asy’ari ini sangat layak untuk ditulis dengan tinta emas. Dan seluruh kriteria imam terkumpul dalam sosok Abu Bakar ash-Shiddiq. Shalat Rasulullah di belakangnya dalam beberapa kesempatan -sebagaimana yang telah kami terangkan sebelumnya- tidak bertentangan dengan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan bahwa Abu Bakar bermakmum di belakang Rasulullah karena hal tersebut terjadi dalam kesempatan lain, sebagimana yang telah dijelaskan oleh Imam Syafi’i dan imam-imam lainnya.”

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Imam al-Bukhari berkata, “Telah berkata kepada kami Qutaibah dia berkata, telah berkata kepada kami Sufyan dari Sulaiman al-Ahwal dari Sa’id bin Jubair, dia berkata, Ibnu Abbas berkata, “Tahukah kalian hari Kamis, pada hari itulah penyakit Rasulullah memuncak.”

Maka Rasulullah bersabda,

“Berikan padaku secarik kertas agar kutuliskan untuk kalian sebuah wasiat yang membuat kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.”

Akhirnya mereka saling berdebat -seharusnya tidak layak mereka berdebat dihadapan Nabi- mereka berkata, “Apa yang diinginkan beliau? Tanyakan padanya.” Mereka pun mendatangi Rasulullah mempertanyakan kembali hal tersebut, maka beliau berkata, “Tinggalkan diriku! Sebenarnya apa yang kuperintahkan kepada kalian lebih baik daripada apa yang kalian tuntut.” Maka beliau mewasiatkan mereka dengan tiga perkara, “Keluarkan seluruh orang musyrik dari jazirah Arab, biarkan para utusan datang sebagaimana aku membolehkan mereka datang!” Kemudian beliau diam. Kemudian Ibnu Abbas  berkata atau aku yang lupa.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam tempat lainnya, dan muslim juga meriwayatkan dari jalan Sufyan bin Uyainah. Imam al-Bukhari juga mengeluarkan hadits ini dalam beberapa tempat dalam Shahihnya dari hadits Ma’mar dan Yunus dari az-Zuhri.

Menurut anggapan para ahlul bid’ah baik dari golongan Syiah dan lain-lainnya bahwa wasiat yang akan ditulis Rasulullah adalah khalifah sesudah beliau menurut anggapan mereka masing-masing. Inilah yang dikatakan berpegang teguh dengan mutasyabih (perkara yang samar-samar hukumnya), dengan meninggakan perkara yang muhkam (jelas hukumnya). Adapun Ahlus Sunnah maka mereka akan selalu berpegang teguh dengan sesuatu yang muhkam. Dan seharusnya perkara-perkara yang mutasyabih dipahami dengan sesuatu yang muhkam. lnilah metode alim ulama yang dalam ilmu pengetahuannya (ar-rasikhuna fi  al-ilm) sebagaimana yang Allah menjelaskan kriteria mereka dalam kitabNya.

Bersandar dengan perkara yang mutasyabih banyak membuat orang-orang yang sesat tergelincir. Adapun Ahlus Sunnah tidak memiliki mazhab kecuali mengikuti yang haq dan akan setia berjalan di atasnya.

Mengenai sesuatu yang ingin dituliskan Rasulullah sebenarnya telah diterangkan secara implisit. Imam Ahmad berkata, “Telah berkata kepada kami Mu’ammal, dia berkata, telah berkata kepada kami Nafi’ yaitu lbnu Umar, dia berkata telah berkata kepada kami Ibnu Abi Mulaikah dari ‘Aisyah dia berkata, Ketika penyakit Rasulullah semakin parah yang membawanya kepada kematian, beliau berkata, ‘Panggilkan segera Abu Bakar dan anaknya supaya tidak ada lagi yang berhasrat ingin mengambil posisinya dan tidak ada lagi yang berandai-andai untuk mendapatkannya kemudian dia berkata, sesungguhnya Allah dan kaum muslimin enggan (kecuali Abu Bakar).’ Beliau ulangi dua kali. ‘Aisyah berkata, ‘Allah dan kaum mukminin enggan menerima (kecuali bapakku, maka benarlah bapakku yang terpilih)’.” Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad sendiri dari jalur ini.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Yahya bin Yahya dari Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Sa‘id dari al-Qashim bin Muhammad dari ’Aisyah, dia berkata, Rasulullah pernah mengatakan, “Aku ingin menyuruh seseorang agar menjemput Abu Bakar dan anaknya, hingga tidak ada lagi yang mengatakan bahwa dirinya lebih berhak atau ada yang masih berkeinginan. Kemudian Rasulullah bersabda, “Allah enggan -ataupun kaum mukminin menolak, atau Allah akan menolak dan kaum mukminin akan enggan (kecuali Abu Bakar).”

Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibrahim bin Sa’ad dari ayahnya dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari ayahnya, dia berkata, ‘Pernah seorang perempuan datang menghadap Rasulullah maka beliau menyuruhnya agar kembali. Kemudian perempuan itu bertanya, “Bagaimana jika aku datang ternyata engkau tidak ada?” -maksudnya beliau telah wafat- maka Rasulullah menjawab, “jika tidak menemuiku lagi maka datangi Abu Bakar.”

Secara zhahir -wallahu a’lam- bahwa kedatangan wanita itu tepatnya di kala Rasulullah sedang sakit keras yang membawanya kepada kematian.

Oleh : Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi