Qadha dan Qadar (Takdir)

leaf_by_heretyczkaa-d5ha5zk

Walaupun masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisian di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah membuka hati para hamba-Nya yang beriman, yaitu para salaf shaleh yang mereka itu senantiasa menempuh jalan kebenaran dalam pemahaman dan pendapat.

Menurut mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhluk-Nya. Maka masalah ini termasuk dalam salah satu diantara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:

img_20191004_160252_923

Pertama: tauhid Al-Uluhiyah, ialah mengesakan Allah dalam beribadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karena-Nya semata.

Kedua: tauhid Ar-Rububiyah, ialah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya , yakni mengimani dan meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Ketiga: tauhid Al-Asma’ wash-Shifat, ialah mengesakan Allah dalam asma’ dan sifat-Nya. Artinya mengimani bahwa tidak ada makhluk yang serupa dengan Allah dalam dzat, asma’ maupun sifat.

Iman kepada qadar adalah termasuk tauhid Ar-Rububiyah. Oleh karena itu imam Ahmad rahimahullah berkata: “qadar adalah merupakan kekuasaan Allah”.

Karena tak syak lagi, qadar (takdir) termasuk qudrat dan kekuasan-Nya yang menyeluruh, di samping itu, qadar adalah rahasia Allah yang tersembunyi, tak ada seorangpun yang dapat mengetahuinya kecuali Dia, tertulis di lauh mahfuzh dan tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Kita tidak tahu, takdir baik atau buruk yang telah ditentukan untuk kita maupun untuk makhluk lainnya, kecuali setelah terjadi atau berdasarkan nash yang shahih.

Pendapat-pendapat tentang Qadar (Takdir)

Umat Islam dalam masalah qadar ini terpecah menjadi tiga golongan:

Pertama: mereka yang ekstrim dalam menetapkan qadar dan menolak adanya kehendak dan kemampuan makhluk. Mereka berpendapat bahwa manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan dan keinginan, dia hanya dikemudikan dan tidak mempunyai pilihan, laksana bulu yang tertiup angin. Mereka tidak membedakan antara perbuatan manusia yang terjadi atas kehendaknya dan perbuatan yang terjadi diluar

kehendaknya, tentu saja mereka ini keliru dan sesat, kerena sudah jelas menurut agama, akal dan adat kebiasaan bahwa manusia dapat membedakan antara perbuatan yang di kehendaki dan perbuatan yang terpaksa.

Kedua: mereka yang ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk sehingga mereka menolak bahwa apa yang diperbuat manusia adalah karena kehendak dan keinginan Allah serta diciptakan

oleh-Nya. Menurut mereka, manusia memiliki kebebasan atas perbuatannya. Bahkan ada diantara mereka yang mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh manusia kecuali setelah terjadi. Mereka inipun sangat ekstrim dalam menetapkan kemampuan dan kehendak makhluk.

Ketiga: mereka yang beriman, sehingga diberi petunjuk oleh Allah untuk menemukan kebenaran yang telah diperselisihkan. Mereka itu adalah Ahlussunnah Wal Jamaah. Dalam masalah ini mereka menempuh jalan tengah dengan berpijak di atas dalil syar’i dan dalil aqli. Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang dijadikan Allah di alam semesta ini terbagi atas dua macam:

  1. Perbuatan yang dilakukan oleh Allah terhadap makhluk-Nya. Dalam hal ini tak ada kekuasaan dan pilihan bagi siapapun. Seperti turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, kehidupan, kematian, sakit, sehat dan banyak contoh lainnya yang dapat disaksikan pada makhluk Allah. Hal seperi ini, tentu saja tak ada kekuasaan dan kehendak bagi siapapun kecuali Allah yang maha Esa dan kuasa.
  2. Perbutan yang dilakukan oleh semua makhluk yang mempunyai kehendak. Perbuatan ini terjadi atas dasar keinginan dan kemauan pelakunya; karena Allah menjadikannya untuk mereka. Sebagaimana firman Allah:

“Bagi siapa diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus” . (At Takwir: 28)

“Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat” (Ali Imran: 152)

“Maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir “ (Al Kahfi: 29)

Manusia bisa membedakan antara perbuatan yang terjadi karena kehendaknya sendiri dan yang terjadi

karena terpaksa. Sebagai contoh, orang yang dengan sadar turun dari atap rumah melalui tangga, ia tahu kalau perbuatannya atas dasar pilihan dan kehendaknya sendiri.

Lain halnya kalau ia terjatuh dari atap rumah, ia tahu bahwa hal tersebut bukan karena kehendaknya. Dia dapat membedakan antara kedua perbuatan ini, yang pertama atas dasar kehendaknya dan yang kedua diluar kehendaknya. Dan siapapun mengetahui perbedaan ini.

Begitu juga orang yang menderita sakit beser umpamanya, ia tahu kalau air kencingnya keluar tanpa kemauannya. Tetapi apabila ia sudah sembuh, ia sadar bahwa air kencingnya keluar atas kehendaknya. Dia mengetahui perbedaan antara kedua hal ini dan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya perbedaan tersebut.

Demikian segala hal yang terjadi pada diri manusia, dia mengetahui, perbedaan antara mana yang terjadi dengan kemauannya dan mana yang tidak. Akan tetapi, karena kasih sayang Allah, ada diantara perbuatan manusia yang terjadi atas kemauannya namun tidak dinyatakan sebagai perbuatannya. Seperti perbuatan orang yang terlupa, dan orang yang sedang tidur. Firman Allah dalam kisah Ashabul kahfi:

“…Dan kami bolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri …” (Al- Kahfi: 18).

Padahal mereka sendiri yang sebenarnya berbalik ke kanan dan berbalik ke kiri, tetapi Allah menyatakan bahwa Dialah yang membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sebab orang yang sedang tidur tidak

mempunyai kemauan dan pilihan serta tidak mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Maka perbuatan tersebut di nisbatkan kepada Allah.

Dan sabda Nabi Muhammad: “Barang siapa yang lupa ketika dalam keadaan berpuasa, lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena Allah yang memberinya makan dan minum.”

Dinyatakan dalam hadits ini, bahwa yang memberi makan dan minum adalah Allah, karena perbuatan orang tersebut terjadi di luar kesadarannya, maka seakan–akan terjadi tanpa kemauannya.

Kita semua mengetahui perbedaan antara perasaan sedih atau perasaan senang yang kadang kala dirasakan seseorang dalam dirinya tanpa kemauannya serta dia sendiri tidak mengetahui sebab dari kedua perasaan tersebut yang timbul dari perbuatan yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Hal ini, alhamdulillah, sudah cukup jelas dan gamblang.

Referensi : Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin, Qadha dan Qadar, Maktab Dakwah dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, Riyad, 2007

Artikel terkait : Qadha dan Qadar (Takdir)Takdir : Sanggahan atas Pendapat PertamaTakdir : Sanggahan atas Pendapat KeduaTingkatan Qadha dan Qadar (Takdir)

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Baca juga : 

About Auther:

Info Biografi