Rahasia Kematian

Taman Makam Pahlawan Cikutra
Taman Makam Pahlawan Cikutra

Dalam sebuah kisah diriwayatkan, suatu ketika Nabi Sulaiman AS dikunjungi oleh Malaikat Maut. Mereka pun duduk bersama dan berbincang-bincang. Pada hari yang lain, seorang laki-laki datang kepada Nabi Sulaiman. Saat itu, Nabi Sulaiman sedang bersama Malaikat Maut.

Tiba-tiba Malaikat Maut mengarahkan pandangannya kepada laki-laki itu, lalu tak lama ia pun pergi meninggalkan tempat itu. Kemudian, laki-laki itu bertanya, “Wahai Nabi siapakah orang tadi?” Nabi Sulaiman pun menjawab, “Orang itu adalah Malaikat Maut.”

img_20191004_160252_923

Mengetahui hal itu, betapa terkejutnya dia, dan berkata, “Sungguh, dia tadi menatapku dengan tatapan yang sangat kuat dan tajam. Ya Nabi, aku meminta kepadamu, perintahkanlah angin untuk membawaku pergi jauh dari tempat ini menuju negeri Hindi.” Nabi pun mengabulkan permintaannya. Lalu memerintahkan angin untuk membawanya jauh ke negeri Hindi.

Beberapa hari kemudian, Malaikat Maut kembali berkunjung kepada Nabi Sulaiman. Nabi bertanya kepadanya, “Hai Malaikat, apakah engkau pernah menatap seorang lakilaki yang datang padaku dengan tatapan yang tajam?” Malaikat menjawab, “Itu kulakukan karena takjub kepadanya. Aku diperintahkan mencabut nyawanya sesaat saja setelah dia berada di negeri Hindi. Setelah waktu yang ditentukan tiba, aku pergi ke negeri Hindi tempat dia berada. Lalu mencabut nyawanya.”

Kisah tersebut menegaskan bahwa kematian datang kapan dan di mana saja. Sebuah rahasia yang tidak ada satu orang pun bisa mengetahui kapan datangnya. Ketika waktu kematian tiba, tak ada satu jiwa pun mampu menghindarinya. Tidak ada tempat baginya untuk lari dari ketetapan Allah SWT. Kematian datang tanpa bisa dihalang-halangi, apalagi ditunda. Ia dihadirkan untuk memberi pelajaran bagi setiap manusia bahwa hidup di dunia ada batasnya.

Allah SWT berfirman, “Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,” (QS al-Jumu’ah: 8).

Kematian adalah sebuah keniscayaan. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati,” (QS Ali Imran:185). Kita hanya sedang menunggu, mengantre, menanti giliran. Orang beriman akan selalu meyakini datangnya kematian. Senantiasa mengingatnya dan membayangkan saat-saat itu tiba.

Ia akan tahu betapa dekat jarak antara dirinya dan kematian. Akalnya menyuruh untuk bersegera berbuat baik. Memperbanyak zikir dan menebar manfaat. Mengingat kematian bagaikan garam dalam makanan. Sangat penting. Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan semua kenikmatan, yaitu kematian,” (HR Tirmidzi).

Kematian pasti datang. Memutus amal perbuatan. Mengakhiri perjalanan kehidupan yang begitu singkat. Sebelum kedatangannya yang entah kapan, berbekallah selalu, setiap saat. Berbekal untuk perjalanan yang lebih panjang, kehidupan setelah kematian.

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan,” (QS al-Hasyr:18). Wallahu a’lam.

Oleh : Agus Sopian, Sumber : Republika

A D I R A
All Right Reserved © www.ceramahmotivasi.com