Tafsir Surat Al ‘Aadiyaat

Tafsir Surat Al ‘Aadiyaat

Al ‘Aadiyaat (Kuda Perang Yang Berlari Kencang), Surah ke-100, 11 ayat, Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

img_20191004_160252_923

Ayat 1-11: Sumpah dengan kuda para mujahid yang keadaannya mulia di sisi Allah terhadap sikap manusia yang ingkar kepada Tuhannya dan bakhil dengan hartanya.

وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (١) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (٢) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (٣)فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (٤)فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (٥)إِنَّ الإنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (٦)وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (٧) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (٨) أَفَلا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (٩) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (١٠) إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (١١

 

Terjemah Surat Al ‘Aadiyaat Ayat 1-11
1. [1]Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah,
2. dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya)[2],
3. dan kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi,
4. sehingga menerbangkan debu,
5. lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,
6. Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak berterima kasih) kepada Tuhannya[3],
7. dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya[4],
8. dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan[5].
9. Maka tidakkah dia[6] mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan[7],
10. dan apa yang tersimpan di dalam dada[8] dilahirkan?
11. Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka[9].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta’aala bersumpah dengan kuda karena di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang jelas dan nikmat-nikmat-Nya yang tampak jelas. Dia bersumpah dengan kuda-kuda itu ketika kuda-kuda itu melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh hewan lainnya.
[2] Ketika berbenturan dengan batu.
[3] Inilah isi sumpahnya, yaitu bahwa manusia benar-benar berat melakukan kebaikan yang menjadi kewajibannya kepada Tuhannya. Tabi’atnya berat memenuhi hak-hak secara sempurna yang menjadi kewajibannya, bahkan malas dan enggan mengeluarkan kewajibannya baik yang terkait dengan harta maupun perbuatan, kecuali orang yang Allah berikan hidayah, sehingga ia keluar dari sifat itu kepada sifat senang memenuhi hak-hak.
[4] Yakni manusia mengakui sikapnya itu. Bisa juga kata “hu” di ayat tesebut kembalinya kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, sehingga artinya, “Sungguh, manusia itu sangat ingkar, (tidak berterima kasih) kepada Tuhannya, padahal Allah Subhaanahu wa Ta’aala menyaksikannya.” Sehingga di dalamnya terdapat ancaman bagi orang yang ingkar kepada nikmat Tuhannya.
[5] Sehingga ia menjadi bakhil dan membuatnya tidak memenuhi kewajibannya, mengutamakan hawa nafsunya daripada memenuhi hak Tuhannya. Ini semua tidak lain karena terbatas pandangannya hanya melihat dunia saja dan lalai terhadap akhirat. Oleh karena itulah, di ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mendorongnya agar takut kepada hari akhirat.
[6] Orang yang tertipu ini.
[7] Yaitu orang-orang yang telah mati untuk dibangkitkan dan dikumpulkan.
[8] Seperti kekufuran dan keimanan, niat yang buruk dan niat yang baik.
[9] Dia melihat amal mereka yang tampak maupun yang tersembunyi, yang samar maupun yang jelas dan akan memberikan balasan terhadapnya. Dikhususkan dengan ‘pada hari itu’ meskipun sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’aala mengetahui mereka di setiap waktu, karena yang dimaksud dengannya adalah pembalasan terhadap amal yang tegak atas pengetahuan Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan penglihatan-Nya.

Penulis : Marwan bin Musa, pengajar Ibnu Hajar Boarding School (tafsir.web.id)

About Auther:

Info Biografi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.