myproperti-01

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 27

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ali-‘Imran: 27

تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Terjemahan

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)””.”

Tafsir (Ibnu Katsir)

Tafsir Surat Ali-‘Imran: 27-30

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “”Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman, “” (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “”Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.

Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya. Allah, Berfirman “”Bukankah (kebangkitan) ini benar? Mereka menjawab, “”Sungguh benar, demi Tuhan kami. Allah Berfirman, “”Karena itu, rasakanlah azab ini disebabkan kalian mengingkarinya).”” Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan keadaan orang-orang kafir apabila mereka dihadapkan di neraka pada hari kiamat nanti. Mereka menyaksikan semua belenggu dan rantai yang ada di dalamnya serta melihat semua hal yang mengerikan dan menakutkan itu dengan mata kepala mereka sendiri. Maka pada saat itulah mereka berkata, seperti yang disitir oleh firman-Nya: Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman. (Al-An’am: 27) Mereka berharap untuk dikembalikan lagi ke alam dunia, agar dapat mengerjakan amal saleh dan tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan mereka lagi, serta akan menjadi orang-orang yang beriman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. (Al-An’am: 28) Sebenarnya saat itu baru tampak jelas bagi mereka semua yang dahulu mereka sembunyikan di dalam diri mereka, yaitu berupa kekufuran, pendustaan, dan pengingkaran terhadap perkara yang hak, sekalipun ketika di dunia atau di akhirat mereka mengingkarinya; seperti yang baru disebutkan oleh firman-Nya sebelum ini, yaitu: Kemudian tiadalah fitnah mereka kecuali mengatakan, “”Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah. Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri. (Al-An’am: 23-24) Dapat pula diinterpretasikan bahwa saat itu baru tampak jelas semua yang dahulu mereka ketahui dalam hati mereka sendiri, yaitu kebenaran dari apa yang disampaikan kepada mereka oleh para rasul di dunia, sekalipun dahulu mereka menampakkan kepada para pengikutnya menentang hal itu.

Perihalnya sama dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala ketika menceritakan perihal Nabi Musa ‘alaihissalam yang berkata kepada Fir’aun: Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. (Al-Isra: 102), hingga akhir ayat. Semakna pula dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menceritakan perihal Fir’aun dan kaumnya: Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)wya. (An-Naml: 14) Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud dengan ‘mereka’ ialah orang-orang munafik, yaitu mereka yang menampakkan iman tetapi menyembunyikan kekufuran. Dengan demikian, berarti makna ayat ini merupakan pemberitaan tentang apa yang bakal terjadi di hari kiamat menyangkut perkataan orang-orang kafir.

Pengertian ini sama sekali tidak bertentangan dengan keadaan surat ini sebagai surat Makkiyyah, sekalipun dikatakan bahwa sesungguhnya munafik itu hanya baru muncul dalam periode Madaniyyah yang dilakukan oleh sebagian penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang ada di sekitarnya. Tetapi Allah telah menyebutkan pula terjadinya nifaq (munafik) dalam surat Makkiyyah, yaitu surat Al-‘ Ankabut. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik. (Al-‘Ankabut: 11) Dengan demikian, berarti makna ayat ini (Al-An’am: 27) merupakan berita tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang munafik di akhirat nanti, yaitu di saat mereka menyaksikan azab.

Maka saat itu tampak jelas rahasia yang dahulu mereka sembunyikan di dalam hati mereka, yaitu berupa kekufuran, kemunafikan, dan pertentangan. Adapun mengenai makna idrab (tetapi) yang ada dalam firman-Nya: Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. (Al-An’am: 28) Sesungguhnya mereka tidak sekali-kali meminta untuk dikembalikan ke dunia karena ingin dan suka kepada iman, melainkan semata-mata karena takut kepada azab yang mereka saksikan yang merupakan pembalasan dari apa yang dahulu mereka perbuat, yaitu kekafiran mereka.

Untuk itulah mereka minta kembali ke dunia agar bebas dari kengerian pemandangan neraka yang mereka saksikan itu. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan: Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (Al-An’am: 28) Yakni dalam permintaan mereka yang menginginkan agar dikembalikan ke dunia supaya mereka dapat beriman.

Permintaan itu bukan didasari karena suka dan cinta kepada keimanan. Kemudian Allah berfirman menceritakan perihal mereka, bahwa sekiranya mereka dikembalikan ke dalam kehidupan di dunia, niscaya mereka akan kembali mengulangi perbuatan yang mereka dilarang melakukannya, yaitu kekufuran dan menentang perkara yang hak. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (Al-An’am: 28) Yaitu dalam penyesalan mereka yang disebutkan oleh firman-Nya: Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman. (Al-An’am: 27) Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), “”Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (Al-An’am: 29) Dengan kata lain, niscaya mereka akan kembali melakukan hal-hal yang mereka dilarang mengerjakannya; dan niscaya mereka akan mengatakan: Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja. (Al-An’am: 29) Artinya, kehidupan itu hanyalah di dunia saja, kemudian tidak ada hari berbangkit sesudahnya.

Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya: dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan. (Al-An’am: 29) Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya. (Al-An’am: 30) Maksudnya dihentikan di hadapan Tuhannya. Berfirman Allah, “”Bukankah (kebangkitan) ini benar? (Al-An’am: 30) Yakni bukankah hari berbangkit ini benar, bukan dusta seperti apa yang kalian duga sebelumnya? Mereka menjawab, “”Sungguh benar, demi Tuhan kami. Allah Berfirman, “”Karena itu, rasakanlah azab ini disebabkan kalian mengingkari (nya).”” (Al-An’am: 30) Karena dulu kalian tidak mempercayainya, maka pada hari ini rasakanlah azab itu. Lalu dikatakan kepada mereka: Maka apakah sihir itu? ‘Atha’ukah kalian tidak melihat? (At-Tur: 15)

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (kalian). Allah subhanahu wa ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin berpihak kepada orang-orang kafir dan menjadikan mereka teman yang setia dengan menyampaikan kepada mereka berita-berita rahasia karena kasih sayang kepada mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengancam perbuatan tersebut melalui firman-Nya: Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah. (Ali Imran: 28). Dengan kata lain, barang siapa yang melakukan hal tersebut yang dilarang oleh Allah, maka sesungguhnya ia telah melepaskan ikatan dirinya dengan Allah.

Seperti yang disebutkan di dalam firman lainnya, yaitu: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. (Al-Mumtahanah: 1) sampai dengan firman-Nya: Dan barang siapa di antara kalian yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Mumtahanah: 1) Demikian pula dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)? (An-Nisa: 144) Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali (kalian), sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.

Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Al-Maidah: 51), hingga akhir ayat. Dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman sesudah menyebutkan masalah kasih sayang dan hubungan yang intim di antara orang-orang mukmin dari kalangan kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan orang-orang Arab, yaitu: Adapun orang-orang kafir, sebagian dari mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (wahai kaum muslim) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (Al-Anfal: 73) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala: kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. (Ali Imran: 28) Dengan kata lain, kecuali bagi orang mukmin penduduk salah satu negeri atau berada di dalam waktu tertentu yang merasa khawatir akan kejahatan mereka (orang-orang kafir).

Maka diperbolehkan baginya bersiasat untuk melindungi dirinya hanya dengan lahiriahnya saja, tidak dengan batin dan niat. Seperti apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Darda yang mengatakan: Sesungguhnya kami benar-benar tersenyum di hadapan banyak kaum (di masa lalu), sedangkan hati kami (para sahabat) melaknat mereka (orang-orang musyrik). Ats-Tsauri mengatakan bahwa sahabat Ibnu Abbas pernah mengatakan taqiyyah (sikap diplomasi) bukan dengan amal perbuatan, melainkan hanya dengan lisan saja. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, yaitu bahwa sesungguhnya taqiyyah itu hanya dilakukan dengan lisan.

Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, Abusy Sya’sa, Adh-Dhahhak, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas. Pendapat mereka dikuatkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan: Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah); kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa). (An-Nahl: 106), hingga akhir ayat. Imam Al-Bukhari mengatakan, Al-Hasan pernah berkata bahwa taqiyyah (terus berlangsung) sampai hari kiamat. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan Allah memperingatkan kalian terhadap diri (siksa)-Nya. (Ali Imran: 28) Yakni Allah memperingatkan kalian terhadap pembalasan-Nya bila Dia ditentang dalam perintah-Nya, dan siksa serta azab Allah akan menimpa orang yang memihak kepada musuh-Nya dan memusuhi kekasih-kekasih-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Dan hanya kepada Allah kembali (kalian). (Ali Imran: 28) Maksudnya, hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan, karena Dia akan membalas tiap-tiap diri sesuai dengan amal perbuatan yang telah dilakukannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Suwaid ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Sa’id, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, dari Ibnu Abu Husain, dari Abdur Rahman ibnu Sabit, dari Maimun ibnu Mihran yang menceritakan, “”Sahabat Mu’az pernah berdiri di antara kami, lalu ia mengatakan, ‘Wahai Bani Aud, sesungguhnya aku adalah utusan Rasulullah kepada kalian. Kalian mengetahui bahwa tempat kembali hanyalah kepada Allah, yaitu ke surga atau ke neraka’.””

Sumber : learn-quran.co

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Baca juga : 

jeep-02 investa11 myproperti-02
© Hak Cipta 2018 www.ceramahmotivasi.com
Viva & Red-A Cosmetics MULAI BELANJA >>
Hello. Add your message here.