7-perumahan-baru-di-bogor-1

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 36

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ali-‘Imran: 36

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Terjemahan

“Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “”Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk””.”

Tafsir (Ibnu Katsir)

Tafsir Surat Ali-‘Imran: 35-36

(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, “”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”” Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, “”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.

Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku melindungkannya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.”” Istri Imran adalah ibu Siti Maryam ‘alaihissalam, namanya Hannah binti Faquz. Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Hannah adalah seorang wanita yang lama tidak pernah hamil, lalu pada suatu hari ia melihat seekor burung sedang memberi makan anak-anaknya, akhirnya ia menginginkan punya anak.

Kemudian ia berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, semoga Allah menganugerahinya seorang putra, dan Allah memperkenankan doanya itu. Ketika suaminya menggaulinya, maka hamillah ia. Setelah masa hamilnya telah tua, maka ia bernazar bahwa anaknya kelak akan dipersembahkan untuk berkhidmat kepada Baitul Maqdis. Untuk itu ia berkata, seperti yang disebutkan firman-Nya: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis).

Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ali Imran: 35) Yakni Engkau Maha Mendengar akan doaku lagi Maha Mengetahui niatku. Saat itu ia tidak mengetahui apakah anak yang dikandungnya itu laki-laki atau perempuan. Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, “”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu.”” (Ali Imran: 36) Lafal wada’at ada yang membacanya wada’tu karena dianggap sebagai ta mutakallim (anak yang aku lahirkan), dan menjadikannya sebagai kelanjutan dari perkataan (doa) istri Imran.

Ada pula yang membacanya wada’at dengan huruf ta yang di-sukun-kan dan menjadikannya sebagai firman Allah subhanahu wa ta’ala dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. (Ali Imran: 36) Yakni dalam hal kekuatan dan kesabaran dalam beribadah dan berkhidmat mengurus Masjidil Aqsa. Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam. (Ali Imran: 36) Di dalam ayat ini terkandung makna boleh menamai anak di hari kelahirannya secara langsung, seperti yang tersirat dari makna lahiriah ayat. Mengingat hal ini merupakan syariat orang-orang sebelum kami, lalu menurut suatu riwayat diakui oleh syariat kita.

Hasilkan Uang dari Video Anda, Ayo Buat Vlog di YouTube, Ini Panduannya! >>

Hal yang sama disebut pula di dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah bersabda: Telah dilahirkan untukku malam ini seorang anak laki-laki yang aku beri nama dengan nama Abi Ibrahim. (Hadits diketengahkan oleh Al-Bukhari Muslim) Hal yang sama disebutkan pula di dalam kitab Shahihain, bahwa sahabat Anas ibnu Malik berangkat membawa saudaranya yang baru dilahirkan oleh ibunya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam men-tahnik-nya dan memberinya nama Abdullah. Di dalam hadits shahih Al-Bukhari disebutkan: Bahwa seorang lelaki bertanya, “”Wahai Rasulullah, telah dilahirkan seorang anak laki-laki bagiku malam ini, maka nama apakah yang harus kuberikan kepadanya?”” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “”Namailah anak laki-lakimu itu Abdur Rahman.”” Disebutkan pula di dalam hadits shahih bahwa ketika datang Abu Usaid seraya membawa anaknya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk di-tahnik, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sibuk, lalu Abu Usaid memerintahkan agar dikembalikan ke rumahnya.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sibuk lagi dan ingat di majelis yang sama, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menamainya Al-Munzir. Adapun hadits yang diriwayatkan dari Qatadah, dari Al-Hasan Al-Basri, dari Samurah ibnu Jundub yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Setiap anak digadaikan oleh aqiqahnya yang disembelih (untuk) menebusnya pada hari yang ketujuh (dari kelahirannya), lalu diberi nama dan dicukur rambutnya. Maka hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahlus sunan, lalu dinilai shahih oleh Imam At-Tirmidzi. Menurut riwayat yang lain disebutkan Yudma, hal ini lebih kuat dan lebih banyak dihafal. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Az-Zubair ibnu Bakkar di dalam Kitabun Nasab, yang bunyinya mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan aqiqah untuk anak lelakinya (yaitu Ibrahim), lalu beliau menamainya Ibrahim (dalam hari aqiqah-nya). Tetapi sanad hadits ini kurang kuat karena bertentangan dengan apa yang terdapat di dalam hadits shahih.

Sekiranya hadits ini shahih, niscaya diartikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengumumkan nama Ibrahim pada hari aqiqah-nya itu (dan bukan pada pagi hari setelah malam hari kelahirannya). Firman Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan doa ibu Maryam, yaitu: Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk. (Ali Imran: 36) Yakni aku menyerahkannya kepada lindungan Allah subhanahu wa ta’ala dari setan yang terkutuk, dan aku menyerahkan pula anaknya (yaitu Isa ‘alaihissalam) kepada lindungan-Nya. Maka Allah memperkenankan doanya itu, seperti yang diriwayatkan oleh Abdur Razzaq: telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah yang bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Tiada seorang anak pun yang baru dilahirkan melainkan setan menyentuhnya ketika dilahirkan, lalu ia menjerit menangis karena setan telah menyentuhnya, kecuali Maryam dan anak laki-lakinya. Kemudian Abu Hurairah mengatakan, “”Bacalah oleh kalian jika kalian suka firman berikut,”” yaitu: Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk. (Ali Imran: 36) Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan pula hadits ini melalui jalur Abdur Razzaq, juga Ibnu Jarir, dari Ahmad ibnul Faraj, dari Baqiyyah, dari Az-Zubaidi, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafal yang semisal.

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadits Qais, dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: Tiada seorang bayi pun melainkan setan telah mencubitnya sekali atau dua kali, kecuali Isa ibnu Maryam dan Maryam sendiri. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman-Nya: Dan sesungguhnya aku melindungkannya serta anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk. (Ali Imran: 36) Juga dari hadits Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Iman Muslim meriwayatkannya dari Abut Tahir, dari Ibnu Wahb, dari Amr ibnul Haris, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah. Ibnu Wahb meriwayatkannya pula dari Ibnu Abu Zi-b, dari Ajlan maula Al-Musyma’il, dari Abu Hurairah.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkannya dari Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pokok hadisnya. Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Al-Laits ibnu Sa’d, dari Ja’far ibnu Rabi’ah, dari Abdur Rahman ibnu Hurmuz Al-A’raj yang mengatakan, Abu Hurairah pernah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Semua anak Adam pernah ditusuk oleh setan pada lambungnya ketika dilahirkan oleh ibunya, kecuali Isa ibnu Maryam; setan pergi untuk menusuknya, tetapi yang ditusuknya hanyalah hijab (penghalang).

Sumber : learn-quran.co

Ali Imran :: Indeks Tema Ali Imran :: Daftar Surat :: Ibnu Katsir

Ayo bagikan sebagai sedekah…

Baca juga : 

7-perumahan-baru-di-bogor-2
© Hak Cipta 2018 www.ceramahmotivasi.com
Viva & Red-A Cosmetics MULAI BELANJA >>
Hello. Add your message here.