Tingkatan Qadha dan Qadar (Takdir)

islamic-painting2

Menurut Ahlussunnah Wal Jamaah, qadha’ dan qadar mempunyai empat tingkatan:

Pertama: Al ‘Ilm (pengetahuan)

img_20191004_160252_923

Artinya: mengimani dan meyakini bahwa Allah Yang Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, secara umum maupun terperinci, baik itu termasuk perbuatan-Nya sendiri atau perbuatan makhluk-Nya. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya.

Kedua: Al Kitabah (penulisan)

Artinya: mengimani bahwa Allah telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauh mahfuzh.

Kedua tingkatan ini sama-sama dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (lauh mahfuzh). sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” . (Al- Hajj:70).

Dalam ayat ini disebutkan lebih dahulu bahwa Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, kemudian dikatakan bahwa yang demikian itu tertulis dalam sebuah kitab lauh mahfuzh.

Sebagaimana dijelaskan pula oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Pertama kali tatkala Allah menciptakan qalam (pena), Dia firmankan kepadanya: tulislah!. Qalam itu berkata: ya Tuhanku, apakah yang hendak kutulis? Allah berfirman: Tulislah apa saja yang akan terjadi! maka seketika itu bergeraklah qalam itu menulis segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat”.

Ketika Nabi Muhammad ditanya tentang apa yang hendak kita perbuat, apakah sudah ditetapkan atau tidak ? beliau menjawab: “ sudah ditetapkan”.

Dan ketika beliau ditanya: “mengapa kita mesti beramal dan tidak pasrah saja dengan takdir yang sudah tertulis? beliapun menjawab: “beramallah kalian, masing-masing akan dimudahkan menurut takdir yang telah ditentukan baginya”. Kemudian beliau membaca firman Allah:

“Adapun orang yang memberikan hartanya (di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang mudah. Sedangkan orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar” .( Al Lail: 5-10).

Oleh karena itu hendaklah anda berusaha, sebagaimana yang diperintahkan Nabi Muhammad kepada para sahabat. “Anda akan di mudahkan menurut takdir yang telah ditentukan Allah”.

Ketiga: Al Masyiah (kehendak)

Artinya: bahwa segala sesuatu, yang terjadi atau tidak terjadi, di langit dan di bumi, adalah dengan kehendak Allah. hal ini dinyatakan jelas dalam Al Qur’an Al Karim. Dan Allah telah menetapkan bahwa apa yang diperbuat-Nya, serta apa yang diperbuat para hamba-Nya juga atas kehendak-Nya. Firman Allah:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah,Tuhan semesta alam” . ( At Takwir: 28-29).

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya” . ( Al – An’am : 112).

“Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehandaki-Nya” . (Al Baqarah: 253).

Dalam ayat–ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa apa yang diperbuat oleh manusia itu terjadi dengan kehendak-Nya.

Dan banyak pula ayat–ayat yang menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Allah adalah dengan kehendak-Nya. Seperti firman Allah:

“ Dan kalau Kami menghendaki niscaya akan Kami berikan kepada tiap–tiap jiwa petunjuk (bagi) nya” . ( As Sajdah: 13).

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu” . (Huud: 118).

Dan banyak lagi ayat–ayat yang menetapkan kehendak Allah dalam apa yang diperbuat-Nya. Oleh karena itu, tidaklah sempurna keimanan seseorang kepada qadar (takdir) kecuali dengan mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu. Tak ada yang terjadi atau tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Tak mungkin ada sesuatu yang terjadi di langit ataupun di bumi tanpa dengan kehendak Allah.

Keempat: Al Khalq (penciptaan)

Artinya: mengimani bahwa Allah pencipta segala sesuatu. Apa yang ada di langit dan di bumi Penciptanya tiada lain kecuali Allah. Sampai “kematian” lawan dari kehidupan itupun diciptakan.Firman Allah:

“Yang menjadikan hidup dan mati, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” . (Al Mulk: 2).

Jadi segala sesuatu yang ada di langit ataupun di bumi penciptanya tiada lain kecuali Allah. Kita semua mengetahui dan meyakini bahwa apa yang terjadi dari hasil perbuatan Allah adalah ciptaan-Nya. Seperti langit, bumi, gunung, sungai, matahari, bulan, bintang, angin, manusia dan hewan kesemuanya adalah ciptaan Allah. Demikian pula apa yang terjadi untuk para makhluk ini, seperti: sifat, perubahan dan keadaan, itupun ciptaan Allah.

Akan tetapi mungkin saja ada orang yang merasa sulit memahami, bagaimana dapat dikatakan bahwa perbuatan dan perkataan yang kita lakukan dengan kehendak kita ini adalah ciptaan Allah?

Jawabnya: ya, memang demikian, sebab perbuatan dan perkataan kita ini timbul karena adanya dua faktor, yaitu kehendak dan kemampuan. Apabila perbuatan manusia timbul karena kehendak dan kemampuannya, maka perlu diketahui bahwa yang menciptakan kehendak dan kemampuan manusia adalah Allah. Dan siapa yang menciptakan sebab dialah yang menciptakan akibatnya.

Jadi, sebagai argumentasi bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan manusia maksudnya adalah bahwa apa yang diperbuat manusia itu timbul karena dua faktor, yaitu: kehendak dan kemampuan. Andaikata tidak ada kehendak dan kemampuan, tentu manusia tidak akan berbuat, karena andaikata dia menghendaki, tetapi tidak mampu, tidak akan dia berbuat, begitu pula andaikata dia mampu, tetapi tidak menghendaki, tidak akan terjadi suatu perbuatan. Jika perbuatan manusia terjadi karena adanya kehendak yang mantap dan kemampuan yang sempurna, sedangkan yang menciptakan kehendak dan kemampuan tadi pada diri manusia adalah Allah, maka dengan ini dapat dikatakan bahwa yang menciptakan perbuatan manusia adalah Allah.

Akan tetapi, pada hakikatnya manusialah yang berbuat, manusialah yang bersuci, yang melakukan shalat, yang menunaikan zakat, yang berpuasa, yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, yang berbuat kemaksiatan, yang berbuat ketaatan; hanya saja perbuatan ini ada dan terjadi dengan kehendak dan kemampuan yang diciptakan oleh Allah. Dan alhamdulillah hal ini sudah cukup jelas.

Keempat tingkatan yang disebutkan tadi wajib kita tetapkan untuk Allah. Dan hal ini tidak bertentangan apabila kita katakan bahwa manusia sebagai pelaku perbuatan.

Seperti halnya kita katakan: “api membakar” padahal yang menjadikan api dapat membakar adalah Allah. Api tidak dapat membakar dengan sendirinya, sebab seandainya api dapat membakar dengan sendirinya, tentu ketika nabi Ibrahim u dilemparkan ke dalam api, akan terbakar hangus. Akan tetapi, ternyata beliau tidak mengalami luka bakar sedikitpun, karena Allah berfirman kepada api itu:

“Hai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim” . (Al Anbiya’: 69).

Sehingga Nabi Ibrahim u tidak terbakar, bahkan tetap dalam keadaan sehat walafiat. Jadi api tidak dapat membakar dengan sendirinya, tetapi Allah-lah yang menjadikan api tersebut mempunyai kekuatan untuk membakar. Kekuatan api untuk membakar adalah sama dengan kehendak dan kemampuan pada diri manusia untuk berbuat, tidak ada bedanya. Hanya saja, Karena manusia mempunyai kehendak, perasaan, pilihan dan tindakan, maka secara hukum yang dinyatakan sebagai pelaku tindakan adalah manusia. Dia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diperbuatnya, karena dia berbuat menurut kehendak dan kemauannya sendiri.

Referensi : Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin, Qadha dan Qadar, Maktab Dakwah dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, Riyad, 2007

Artikel terkait : Qadha dan Qadar (Takdir)Takdir : Sanggahan atas Pendapat PertamaTakdir : Sanggahan atas Pendapat KeduaTingkatan Qadha dan Qadar (Takdir)

Baca juga : 

About Auther:

Info Biografi