Tujuan Hidup

Ilustrasi/Google
Ilustrasi/Google

“Dan, Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS adz-zariyat: 56). Ayat ini memberi peringatan kepada kita semua bahwa tujuan hidup hanya satu, yakni menyembah pada-Nya.

Interpretasi diksi menyembah bisa diartikan dalam banyak hal. Mulai dari yang paling sederhana, mematuhi segala perintah-perintah- Nya, sampai pada hal yang paling berat, menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Dengan bahasa lain, amar makruf terasa lebih mudah dibanding dengan nahi mungkar. Yang terakhir ini masih menyisakan PR berat buat para pendakwah milenial. Inilah yang mestinya kita perkuat.

Di sisi lain, kita melihat fenomena banyak sekali orang yang hidupnya tidak punya tujuan. Aktivitas harian mulai dari bangun tidur, kerja, dan tidur kembali menjadi rutinitas tunamakna. Sehingga, kita hidup hanya sekadar hidup. Bukan hidup seperti yang Allah (Sang Pencipta) perintahkan.

img_20191004_160252_923

Ini yang disindir keras oleh Buya Hamka “Kalau hidup hanya sekadar hidup, kera di hutan juga hidup. Kalau kerja hanya sekadar kerja, kerbau di sawah juga kerja”. Kalimat kinayah (dalam bahasa ilmu balaghah) dari Buya Hamka ini mestinya makin menyadarkan kita bahwa hidup harus punya tujuan, titik!

Tanpa ada tujuan maka hidup manusia tak lebih seperti seekor binatang. Bahkan, lebih berbahaya! Kejadian belakangan memberikan bukti nyata. Jack Canfield (2005) dalam buku best seller-nya The Success Principles juga memberikan wejangan atas kunci rahasia 1.000 orang sukses di dunia, yaitu ia memiliki tujuan hidup (goal). Tanpa tujuan yang jelas dan spesifik, bagaimana mungkin hidup kita bisa sampai sesuai harapan. Impossible!

Dari sinilah, ilustrasi sederhana bahwa “sopo sing tekun, nggolek teken, bakal tekan”. Artinya, siapa yang hidupnya fokus menuju pada tujuan, maka ia akan sampai. Meski pelan, pasti tujuannya jauh lebih baik. Daripada cepat, tapi tidak jelas ke mana arah tujuannya.

Nah, kita mau seperti apa sekarang ini? Mau pelan, tapi jelas tujuannya atau cepat, tapi tak jelas tujuannya? Bagi saya, lebih baik cepat, tapi jelas tujuan hidupnya. Bagaimana caranya? Pertama, “naiklah pesawat-Nya”, tiketnya takwa, tujuannya surga.

Kedua, jika pertama ini terasa sulit, lakukan hal kedua, “naiklah pesawat bersama rasul-rasul- Nya”. Tiketnya menjalankan segala sunah-sunah Rasul yang belakangan sering kita abaikan. Ketiga, jika pun yang kedua ini juga dirasa sulit maka pilihannya hanya tinggal satu, “naiklah pesawat bersama para ulama”. Tiketnya, dekat dan mengikuti segala dakwah yang disampaikan. Dengan bahasa sederhana, tujuan setelah hidup itu mati. Maka, jangan sampai mati sebelum tiket di tangan. Karena, kehidupan akhirat itu lebih baik dari dunia dan seisinya (QS al-A’la: 17).

Karena itulah, mari kita cek tujuan hidup (muhasabah). Sudah benar atau belum. Kalau salah, segera koreksi dan perbaiki agar kesempatan kita diberi hidup tidak sia-sia. Jika sudah benar, pertahankan dan jangan sampai terpeleset oleh tipu daya godaan akhir zaman. Semoga kita semua tidak sampai salah tujuan hidupnya, amiiin.

Oleh : Abdul Muid Badrun (Republika)

Ayo bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi