Kisah Nabi Musa ‘Alaihissalam

Fir’aun di dalam tidurnya bermimpi tentang datangnya api dari arah Baitul Muqaddas, lalu membakar seluruh rumah di Mesir dan semua rumah milik bangsa Qibthi, tetapi sama sekali tidak membahayakan bani Israil. Para dukun lalu menafsirkan mimpi itu, bahwa seorang anak yang dilahirkan di kalangan bani Israil akan menjadi penyebab hancurnya bangsa Mesir.

Fir’aun pun memerintahkan pasukannya untuk membunuh seluruh bayi laki-laki. Fir’aun memerintahkan untuk dilangsungkan pembunuhan anak-anak dalam jangka setahun dan menghentikannya dalam jangka satu tahun pula. Harun dilahirkan pada tahun saat pembunuhan bayi laki-laki sedang dihentikan, sedangkan Musa dilahirkan pada tahun pembunuhan bayi laki-laki harus dijalankan. Allah lalu memberikan kata-kata penghibur di dalam hati ibunya, “Janganlah engkau takut dan bersedih, karena jika anak laki-lakimu itu hilang, Allah akan mengembalikannya kepadamu. Allah akan menjadikannya seorang nabi dan rasul.”

Musa lalu dilempar ke sungai Nil oleh ibunya. Ia kemudian ditemukan oleh para dayang dalam keadaan tersimpan di dalam peti kayu yang tertutup.

Ketika istri Fir’aun melihatnya, ia sangat mencintainya. Ketika Fir’aun tiba, ia langsung memerintahkan untuk membunuhnya, namun istrinya memintanya dari Fir’aun dan melindunginya dengan berkata, “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. ” (Qs. Al Qashash [28]: 9)

Fir’aun berkata, “Bagimu ia sangat baik, namun bagiku tidak.”

Ketika Musa telah berada di rumah Fir’aun, mereka hendak memberinya makan dengan susuan, namun Musa kecil tidak mau menetek dan makan, maka mereka membawanya ke pasar dengan para pengawal dan para wanita, sehingga saudara perempuan Musa menyaksikannya. Ia lalu langsung memberitahu tentang adanya seorang ibu asuh dan penyusu bayi, maka mereka pergi bersama gadis itu menuju rumahnya.

Sang bayi lalu diambil oleh ibunya, dan ketika diasuhnya, sang bayi langsung mau menetek. Keluarganya sangat gembira dengan kejadian itu.

Istri Fir’aun menggaji ibu Musa dan memberinya nafkah. Musa tumbuh menjadi remaja yang sanggup berusaha.

Suatu ketika ia melihat dua orang yang sedang bertengkar, yang satu dari bani Israil, sedangkan yang satu lagi dari bangsa Qibthi. Orang Israil meminta pertolongan kepada Musa, maka Musa mendekati seorang Qibthi itu lalu meninjunya dengan kepalan tangannya hingga mati, padahal Musa hanya berniat memberinya peringatan keras. Musa pun menjadi merasa takut kepada Fir’aun dan pendukung-pendukungnya.

Ketika keadaan perasaan Musa sedemikian rupa itu, ia menyaksikan orang Israil yang kemarin bertengkar lagi. Kini ia dapatinya bertengkar lagi dengan seorang Qibthi yang lain. Ketika Musa hendak menghajar Qibthi itu, orang Israil mengira Musa datang untuk membunuh orang Qibthi itu karena kemarin ia berbuat keras. Musa lalu berkata kepadanya, “Sungguh engkau orang yang sangat jahat.” Orang Qibthi itu lalu berkata kepada Musa sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata, ‘Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?’. ” (Qs. Al Qashash [28]: 19)

Orang Qibthi itu lalu meninggalkan tempat dan Fir’aun menjadi sangat memusuhi Musa.

Musa pun pergi meninggalkan Mesir menuruti nasihat orang yang sayang kepadanya. Ia tidak tahu jalan, maka ia menelusuri jalan hingga sampai ke Madyan, kaum Nabi Syuaib ‘Alaihissalam. Ia melihat sebuah sumur dengan banyak orang yang berkerumun di sekitarnya untuk meminumkan kambing mereka. Ia juga menyaksikan dua orang gadis yang selalu berusaha mencegah kambing-kambingnya bercampur dengan kambing-kambing orang lain.

Para penggembala jika telah selesai meminumkan kambing-kambingnya, meletakkan batu besar di mulut sumur itu. Datanglah dua gadis itu dan meminumkan kambing-kambingnya dengan air sisa dari kambing-kambing orang lain. Ketika Musa datang, ia angkat sendiri batu besar penutup sumur dan meminumkan kambing-kambing dua gadis tersebut.

Amirul Mukminin Umar berkata, “Sebenarnya batu besar itu tidak mungkin terangkat kecuali oleh 10 orang.”

Musa lalu mengambil satu ember air, dan ternyata telah cukup bagi kambing kedua gadis itu. Ia berpaling menuju naungan sebatang pohon, lalu berdoa,

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. ” (Qs. Al Qashash [28]: 24)

Doanya terdengar oleh kedua gadis, maka keduanya memberitahukan ayahnya perihal Musa Alaihissalam. Sang ayah lalu menyuruh salah seorang gadisnya untuk mendatanginya dan memanggilnya. Gadis itu berangkat menuju kepadanya. Ia lalu berkata kepada Musa,

“Sesungguhnya Bapakku memanggil kamu agar ia memberi balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” (Qs. Al Qashash [28]: 25)

Ayah kedua gadis itu berkata kepada Musa, “Engkau telah keluar dari wilayah kekuasaan mereka dan bukanlah engkau sekarang berada di dalam pemerintahan mereka.”

Orang tua itu hendak menikahkan Musa dengan salah satu dari dua putrinya, dengan syarat ia harus bekerja sebagai penggembala kambing padanya selama 8 atau 10 tahun. Ketika masa kerjanya telah usai, Musa pergi dengan keluarganya menuju Mesir dengan membawa kambing-kambingnya pada malam gelap-gulita dan dingin. Ia melihat api yang menyala-nyala.

Ketika Musa menuju api itu, ia berhenti dengan penuh rasa heran. Ia diajak bicara oleh Rabbnya yang memerintahkannya agar pergi menuju Fir’aun. Musa meminta dukungan kepada Allah dengan saudaranya, Harun, dan Allah mengabulkan permintaan Musa dan menjadikan Harun sebagai rasul bersamanya.

Fir’aun sangat sombong sebagai orang yang telah membesarkan Musa, maka Fir’aun mendustakan ayat-ayat yang dibawa oleh Musa dari sisi Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala serta menuduhnya telah bermain sihir.

Fir’aun pun menantang Musa, maka Musa berkata kepadanya,

“… waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik. ” (Qs. Thaahaa [20]: 59)

Fir’aun mengumpulkan seluruh ahli sihirnya, para pejabat pemerintahannya, dan seluruh warga negerinya. Musa tampil dengan menasihati dan mengingatkan dengan keras kepada mereka agar tidak membiasakan diri dengan perbuatan sihir. Para ahli sihir bermusyawarah dan sepakat untuk melayani Musa dengan pertarungan. Mereka melemparkan tali dan tongkat, lalu mengelabui mata orang-orang dengan sihir. Musa menjawab tantangan mereka sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, maka tiba-tiba ia menelan benda-benda palsu yang mereka ada-adakan itu. ” (Qs. Asy- Syu’araa [28]: 45)

Seketika itu para ahli sihir mengetahui bahwa yang dibawa Musa bukanlah sihir, maka mereka bersujud kepada Musa dan berkata,

“… ‘Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun’.” (Qs. Asy-Syu’araa [26] : 47-48)

Bani Israil lalu meminta izin kepada Fir’aun untuk keluar menuju hari raya mereka, dan Fir’aun memberikan izin kepada mereka. Pada malam hari mereka keluar dengan tujuan mencari negeri Syam. Ketika Fir’aun mengetahui perihal kepergian mereka, ia sangat marah kepada mereka. Ia segera mengumpulkan seluruh tentaranya untuk melakukan pengejaran terhadap bani Israil dan membatalkan kepergian mereka. Mereka keluar dari Mesir dengan dipimpin oleh Musa Alaihissalam. Adapun mereka, masuk ke Mesir dipimpin oleh bapak Israil, yakni Ya’qub, lebih dari 400 tahun sebelum itu.

Mereka dikejar Fir’aun pada waktu matahari terbit. Kedua kelompok telah saling melihat, sebagaimana firman-Nya,

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul’. ” (Qs. Asy-Syu’araa [26]: 61)

Rasul yang jujur itu berkata kepada mereka sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Musa menjawab, ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku’.” (Qs. Asy-Syua’raa” [26]: 62)

Musa melihat ombak yang saling menghantam. Ia berkata, “Di sinilah aku diperintahkan.” Ketika itu saudara-saudaranya, yaitu Harun dan Yusa’ bin Nuun, bersama dengannya. Musa memukul laut dengan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dengan kehendak, kekuasaan, anugerah, dan rahmat Allah, laut terbelah menjadi dua. Ketika bani Israil telah berhasil melampaui jalan laut itu, Musa hendak memukul laut dengan tongkatnya agar kembali menjadi seperti sedia kala sehingga Fir’aun dan pasukannya tidak dapat melewatinya.

Akan tetapi perintah Allah wajib dilaksanakan, Dia memerintahkan Musa agar membiarkan laut tetap pada keadaan dan sifatnya semula, ketika ditinggalkan oleh Musa bersama kaumnya. Fir’aun dikejutkan oleh apa yang dilihatnya, dan ia yakin semua itu adalah perbuatan Rabb Yang Maha Agung. Oleh karena itu, ia tahan kudanya dan tidak bergerak maju. Akan tetapi kesombongan telah membawanya kepada kebatilan. Dia dan pasukannya tetap hendak mengejar Musa dan para pengikutnya. Ketika itu dia berkata, “Lihatlah oleh kalian semua, bagaimana laut bisa terbelah untukku agar aku dapat menangkap para budakku yang melarikan diri dari sisiku.”

Dia memaksa diri masuk ke laut – yang terbelah – dan tidak mampu lagi mengendalikan kudanya. Ketika para tentara melihat Fir’aun telah masuk ke laut, mereka turut masuk di belakangnya dengan cepat. Mereka seluruhnya secara padu telah berkumpul di tengah laut. Dalam keadaan seperti itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa, lewat wahyu yang diberikan kepadanya, agar memukul laut dengan tongkatnya, sehingga laut menjadi satu kembali, sebagaimana semula, dan menghancurkan Fir’aun dan seluruh tentaranya.

Bani Israil menyaksikan, namun sebagian dari mereka meragukan kematian Fir’aun, sehingga mereka berkata, “Fir’aun tidak mati.” Allah Subhanahua wa Ta’ala pun memerintahkan laut agar melemparkan jasad Fir’aun yang masih mengenakan baju perangnya, yang mereka ketahui Itu merupakan tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kejadian itu pada bulan Asyura. Oleh karena itu, orang-orang muslim berpuasa pada hari itu.

Kaum muslim lebih berhak atas Musa ‘Alaihissalam daripada bani Israil. Orang-orang Islam juga berpuasa pada sehari sebelum atau sehari sesudah kejadian itu, agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi.

Begitu bani Israil keluar dengan selamat dari laut, kesesatan mereka langsung terlihat nyata menggantikan posisi syukur nikmat. Mereka lewat di dekat kaum paganis yang menyembah berhala. Mereka berkata kepada Musa, sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Bani Israil berkata, ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala), sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)’.” (Qs. Al Araaf [7]: 138)

Mulailah Musa menghadapi berbagai kesulitan menghadapi kaumnya. Setelah mereka banyak mengalami kesulitan dan kesesatan, mulailah Musa berdoa kepada Rabbnya agar memisahkan dirinya dengan kaumnya.

Di dalam buku-buku versi Yahudi terdapat berbagai cerita yang tidak masuk akal, yang di dalamnya disebutkan adanya orang-orang tinggi luar biasa. Disebutkan bahwa Auj bin Inaq memiliki tinggi badan lebih dari 3000 hasta, dan cerita-cerita lain yang mengada-ada. Mereka tidak memiliki jawaban, melainkan sebagaimana yang difirmankan Allah,

“Oleh karena itu, pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (Qs. Al Maa’idah [5]: 24)

Dikatakan bahwa Yusya’ dan Kalib langsung merobek pakaian mereka ketika mendengar jawaban ini. Samiri telah membuatkan mereka patung anak sapi dari emas, dan mereka menyembahnya. Musa kemudian tiba dengan kemarahan yang luar biasa, lalu membakar patung tersebut. Begitulah, hati bani Israil memang mudah sekali menyimpang dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tentang sapi, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, “Seseorang yang tua-renta di kalangan bani Israil memiliki harta yang sangat banyak. Dia memiliki keponakan-keponakan yang selalu mengharapkan kematiannya untuk mewarisi hartanya. Bahkan salah satu dari mereka hendak membunuhnya. Ia lakukan kejahatan itu pada malam hari dan dia mengingkari perbuatannya. Mereka lalu berbondong-bondong datang ke rumah Nabi Musa ‘Alaihissalam. Musa kemudian berkata kepada mereka, sebagaimana yang difirmankan Allah,

“‘Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina. ” (Qs. Al Baqarah [2]: 67)

Mulailah tawar-menawar dilakukan, sebagaimana kebiasaan bani Israil. Namun kali ini tawar-menawar dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam. Setelah tiga kali mereka merasa ragu, baru akhirnya melakukan penyembelihan sapi.

Allah berfirman tentang bani Israil dalam menghadapi perintah Tuhannya,

“Hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.” (Qs. Al Baqarah [2]: 71)

Mereka memukul (mayit) dengan sebagian dari anggota tubuh sapi yang telah mereka sembelih. Tidak ada maslahatnya mempertanyakan bagian tubuh yang mereka gunakan untuk memukul mayit orang yang terbunuh.

Yang jelas mayit itu bangun setelah dipukul dengan bagian dari tubuh sapi, lalu berkata, “Aku dibunuh oleh anak saudaraku.” Kemudian ia kembali mati sebagaimana semula.

Oleh : Ahmad Al Khani

Baca juga : 

Kompilasi Sejarah Islam Sejak Awal Penciptaan

Download Kumpulan Soal Tes CPNS Tahun 2007-2017 Lengkap Dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Lowongan Kerja Terbaru 43 Bank di Indonesia

5 Kunci untuk Menguak Rahasia SUKSES SEJATI dalam Kehidupan Anda

Best Articles : Career Life, Personal Development, Entrepreneurship And Business

Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia

Inilah 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia

Kompilasi Tafsir Al Quran

Al Quran Menjawab

About Auther:

Info Biografi

Pesantren Khusus Tahfidz Quran
Hello. Add your message here.