Kisah Nabi Yusuf ‘Alaihissalam

Ilustrasi / Wowmenariknya.com
Ilustrasi / Wowmenariknya.com

Rasulullah SAW bersabda, “Yang mulia, anak orang mulia, anak orang mulia, anak orang mulia; Yusuf bin Ya’qub bin Ishak bin Ibrahim.” (HR. Ahmad)

Para ahli tafsir berkata, “Ketika Yusuf masih kecil, ia bermimpi seakan-akan 12 buah bintang, matahari, dan bulan, bersujud kepada dirinya. Ketika ia terjaga dari tidurnya, ia ceritakan mimpi itu kepada ayahnya. Ayahnya lalu memerintahkannya agar menyembunyikan cerita itu supaya mereka tidak iri kepadanya.

Ternyata mereka (saudara Yusuf) bermusyawarah untuk mencari cara untuk menyingkirkan Yusuf, membunuh atau membuangnya ke suatu tempat yang tidak mungkin dirinya akan kembali lagi. Mereka pun sepakat dengan cara kedua (membuangnya). Pada suatu saat ayahnya mengirim Yusuf bersama mereka, maka setelah mereka berada di tempat yang jauh dari pandangan ayahnya, Yusuf dilemparkan ke dasar sebuah sumur. Akan tetapi Allah menenangkan hatinya.

Mereka lalu pulang kepada ayah mereka pada malam hari dengan menangisi saudaranya yang terbunuh – menurut pengakuan mereka – dengan membawa pakaiannya yang telah dilumuri dengan darah anak kambing. Sang ayah pun menyerahkan perkaranya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar dengan kesabaran yang sangat baik.

Lewatlah sebuah kafilah dengan menyaksikan anak-anak yang mengawasi sumur. Ketika para musafir mengambil Yusuf Alaihissalam, mereka bertemu dengan saudara-saudaranya yang berkata, “Ini adalah budak kami yang melarikan diri dari kami, maka belilah dia dengan harga 20 dirham dengan pecahan 2 dirham 2 dirham.” Ia lalu dibeli oleh seorang Raja Mesir yang memperlakukannya dengan sangat baik, sebagaimana firman Allah,

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf.” (Qs. Yuusuf [12]: 23)

Istri raja (Zulaikha) memanggil Yusuf untuk menundukkan dirinya kepadanya dengan sangat bernafsu. Yusuf berkata, “Aku berlindung kepada Allah.” Allah pun memelihara Nabi Yusuf Alaihissallam dan menjauhkannya dari kekejian. Yusuf kemudian lari ke arah pintu, akan tetapi istri Al Aziz mendahului dan menghadangnya. Keduanya dikejutkan karena mendapati Al Aziz telah berada di hadapan keduanya. Istri Al Aziz adalah wanita cerdas, maka ia segera angkat bicara kepada suaminya karena khawatir Yusuf berbuat sesuatu yang merugikan dirinya. Ia lalu mengusulkan agar Yusuf tidak dihukum mati, cukup dipenjara atau disiksa. Yusuf pun menolak berbagai tuduhan yang diarahkan kepada dirinya dengan berkata,

“… Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)’. ” (Qs. Yuusuf [12]: 26)

Seorang saksi lalu berkata, “Jika baju Yusuf robek di arah dadanya atau bagian depan bajunya, maka pihak wanita benar. Namun jika robeknya di arah punggungnya – berarti pihak wanita mengikutinya ketika Yusuf berlari ke arah pintu dan wanita itu bergelantungan di bajunya sehingga robek – maka pihak wanita berbohong.”

Al Aziz kemudian melakukan pengecekan kepada baju Yusuf, dan mendapati bajunya robek di bagian belakang. Al Aziz pun mengetahui kebenarannya.

Para wanita di seantero Mesir juga ikut membicarakan berita tentang kejadian itu, hingga pembicaraan mereka sampai kepada Zulaikha. Zulaikha lalu mengundang mereka dan menyediakan buah-buahan serta memberi sebuah pisau kepada masing-masing wanita. Setelah itu istri Al Aziz menyuruh Yusuf agar keluar ke arah para wanita itu. Para wanita itu pun dikejutkan dengan ketampanan Yusuf sehingga tidak menyadari bahwa mereka telah melukai tangan mereka sendiri. Zulaikha lalu bertanya kepada mereka, “Apakah kalian telah melihatnya?”

Yusuf adalah seorang pria yang telah dikarunia ketampanan sehingga Zulaikha mengakui bahwa dirinya telah menggoda Yusuf dan Yusuf bebas dari berbagai tuduhan. Zulaikha sangat kuat keinginannya untuk mendapatkan Yusuf, sekalipun Yusuf enggan kepada istri Al Aziz, sehingga Zulaikha memerintahkan untuk memenjarakannya. Para wanita yang hadir sepakat untuk membujuk Yusuf agar menuruti ajakan tuan putrinya, namun Yusuf tetap bersikukuh dengan pendiriannya, sehingga akhirnya Yusuf dipenjara, dalam rangka menyelamatkan dirinya dari ajakan dan bujuk rayu Zulaikha.

Di dalam penjara terdapat dua orang pemuda yang bercerita kepada Yusuf,

“Berkatalah salah seorang di antara keduanya, ‘Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku memeras anggur’. Dan yang lainnya berkata, ‘Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung’. Berikanlah kepada kami tabirnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menakbirkan mimpi)’. ” (Qs. Yuusuf [12]: 36)

Yusuf berkata kepada keduanya, “Aku ahli mentakbir mimpi yang berkenaan dengan macam-macam makanan.”

Yusuf lalu mengajak keduanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu menafsirkan mimpi keduanya, “Hai kedua penghuni penjara, adapun salah seorang di antara kamu berdua akan memberi minum tuannya dengan khamer. Adapun yang seorang lagi, ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya.”

Yusuf berkata kepada pemuda pemberi minum, “Ingat selalu perintahku. Aku berada di dalam penjara dengan tanpa kesalahan hingga suatu ketika akan nampak kejelasan bahwa aku harus bebas.” Pemuda pemberi minum itu ternyata lupa dengan kata-kata Yusuf.

Pada suatu malam sang raja terbangun dari tidurnya dengan sangat terkejut. Ia berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi melihat 7 ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus-kurus, dan aku melihat 7 bulir gandum yang hijau dan 7 bulir gandum yang kering. Jelaskan kepadaku arti mimpiku ini.”

Ternyata tak seorang pun ahli nujum, atau ahli sihir, atau para dajal pengikut Fir’aun, mampu mengartikan mimpi itu. Ketika itu muncullah kecerdasan pemuda pemberi minum dengan berkata, “Utuslah kami kepada Yusuf!” Sesampainya di penjara pemuda itu berkata, “Wahai Yusuf, tafsirkan untukku mimpi sang raja.”

Pemuda itu mengulang seluruh cerita tentang mimpi sang raja. Yusuf lalu berkata, “Tujuh tahun penuh dengan kebaikan dan setelah itu tujuh tahun masa paceklik. Setelahnya lagi akan datang tahun kebaikan.”

Sang raja lalu meminta Yusuf agar mentakbirkan mimpinya, namun Yusuf tidak bersedia kecuali dirinya dinyatakan bebas dari segala tuduhan istri raja dan wanita lainnya. Peninjauan pun dilakukan, dan Yusuf akhirnya bebas. Sang raja lalu menyerahkan beberapa tugas kepada Yusuf.

Setelah 2 tahun masa sulit berlalu, saudara-saudara Yusuf datang kepadanya. Yusuf mengenali mereka, namun mereka tidak mengenali Yusuf. Yusuf pun membekali mereka dengan bahan makanan. Di antara mereka terdapat saudara kandung yang tinggal di rumah bersama ayahnya.

Yusuf berkata kepada mereka, “Jika tahun depan kalian datang lagi, bawalah saudaramu itu. Jika kalian tidak membawanya maka kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dariku.” Yusuf lalu memberikan barang-barang mereka.

Anak-anak itu pulang kembali kepada ayahnya dan mereka mendapati barang-barang mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka lalu berkata kepada ayahnya, “Setelah tahun ini kita tidak akan diberi bahan makanan jika Ayah tidak mengirim saudara kami bersama kami.”

Ya’qub Alaihissalam tidak mau menyerahkan anaknya yang bernama Bunyamin, tetapi ia mencium bau Yusuf. Anak-anak Ya’qub itu memperkokoh janji mereka untuk membawa kembali saudara mereka kepada ayahnya.

Anak-anak Ya’qub lalu datang lagi kepada Yusuf. Yusuf pun menyambut saudaranya (Bunyamin) dan menjelaskan bahwa dirinya adalah saudara kandungnya. Yusuf mempersiapkan untuk saudara-saudaranya itu bahan makanan dan meletakkan takaran bahan makanan di dalam barang bawaan Bunyamin. Seorang penyeru lalu berteriak, “Telah hilang takaran bahan makanan milik raja. Siapa yang sanggup mengembalikannya maka baginya bahan makanan seangkutan unta.” Anak-anak itu pun dikejutkan dengan berita yang terdengar. Dikarenakan ada pemeriksaan, maka mereka mengeluarkan semua barang. Takaran itu ternyata ada di dalam barang bawaan Bunyamin, maka Yusuf menahannya, sebagaimana diatur dalam syariat Ya’qub.

Anak-anak itu lalu kembali kepada ayahnya dan menyempaikan kejadian tersebut. Ya’qub pun merasa sangat sedih. Anak-anak itu lalu kembali kepada Yusuf untuk mendapatkan bahan makanan dan agar saudara mereka (Bunyamin) dikembalikan kepada mereka.

Terbukalah pelipis Yusuf yang mulia, maka saudara-saudaranya mengetahui bahwa dia adalah Yusuf. Mereka sangat gembira karenanya. Mereka kembali kepada ayahnya dengan mendapatkan kekuatan baru. Mereka semua bersama dengan kedua orang tuanya bersujud kepada Yusuf.

Oleh : Ahmad Al Khani

Baca juga : 

Kompilasi Sejarah Islam Sejak Awal Penciptaan

5 Kunci untuk Menguak Rahasia SUKSES SEJATI dalam Kehidupan Anda

Best Articles : Career Life, Personal Development, Entrepreneurship And Business

Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia

Inilah 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia

Kompilasi Tafsir Al Quran

Al Quran Menjawab

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.