Nabi Adam Alaihissalam  

islamic-art-3

Allah menciptakan bumi dalam dua hari. Dia menciptakan gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan menentukan kadar makanan semua penghuninya dalam empat masa. Kemudian Dia menuju langit, yang masih berupa asap, lalu Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian mengikuti perintah-Ku dengan penuh keridaan atau terpaksa.” Mereka menjawab, “Kami datang dengan rida.”

Lalu Allah bertakhta di atas Arasy, menundukkan matahari dan bulan, yang beredar hingga batas waktu yang telah ditentukan. Setelah itu Allah menciptakan para malaikat yang senantiasa bertasbih memuji-Nya, menyucikan nama-Nya, dan memurnikan diri untuk menghamba hanya kepada-Nya.

Sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, Allah berkehendak menciptakan Adam dan keturunannya untuk menghuni bumi dan memakmurkannya. Allah menyampaikan kabar kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan makhluk lain untuk meng huni bumi; makhluk yang akan memakmurkannya dan menyebarkan keturunannya ke seluruh pelosok, Mereka akan makan tanaman yang tumbuh di atasnya serta mengeluarkan berbagai kebaikan yang terpendam di dalmnya. Generasi demi generasi akan lahir untuk bergantian mengurus dan memakmurkan bumi.

Allah telah menciptakan malaikat, memilih mereka, dan menetapkan satu sifat istimewa bagi mereka, yakni beribadah hanya kepada-Nya. Mereka telah dilimpahi nikmat dan anugerah-Nya, dikaruniai ketaatan kepada-Nya, dan diselaraskan dengan rida-Nya. Karena itu, mereka terkejut ketika Allah menyatakan bahwa Dia akan menciptakan makhluk lain di bumi. Mereka khawatir kehendak Allah itu muncul karena mereka kurang taat dan melakukan kesalahan dalam ibadah kepada-Nya, atau mungkin salah satu di antara mereka melakukan kesalahan yang membuat-Nya murka. Karena itulah mereka bertasbih lalu berkata, “Mengapa Engkau menciptakan makhluk selain kami padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan setiap saat menyucikan nama-Mu? Makhluk yang akan Engkau jadikan khalifah di muka bumi hanya akan bersengketa memperebutkan segala isi bumi, menimbulkan kerusakan, menumpahkan darah, dan menghancurkan ruh-ruh yang suci nan bersih.

Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” [Q.S. al-Baqarah : 30]

Pertanyaan itu mereka ajukan semata-mata untuk mendapatkan ketegasan yang dapat melenyapkan keraguan mereka. Kemudian mereka menyampaikan harapan agar ditunjuk oleh Allah sebagai khalifah-Nya untuk memakmurkan bumi, karena mereka lebih dahulu menjaga nikmat-Nya dan lebih awal mengenal hak-Nya. Mereka sama sekali tidak mengingkari kehendak Allah, tidak meragukan kebijaksanaan-Nya, dan tidak meremehkan kemampuan Adam serta keturunannya untuk memakmurkan bumi. Mereka adalah makhluk Allah yang sangat dekat kepada-Nya, hamba-hamba-Nya yang mulia, dan tidak pernah protes kepada-Nya. Setiap saat mereka selalu patuh dan taat kepada perintah dan ketetapan-Nya.

Allah memberikan jawaban yang menyejukkan dan menenteramkan mereka, “Sesungguhnya Aku mengetuhui apa yang tidak kalian ketahui” [Q.S. al-Baqarah: 30] Aku mengetahui hikmah kekhalifahan manusia yang belum kalian ketahui. Aku akan menciptakan apa pun yang Aku kehendaki dan menjadikan siapa saja yang Aku inginkan sebagai khalifah. Kalian akan melihat apa yang sebelumnya tersembunyi bagi kalian serta menyaksikan apa yang sebelumnya tertutup dari pandangan kalian. “Apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkun kepadanya ruh-Ku, hendaklah kalian tersungkur bersujud kepadanya” [Q.S. Shad: 72]

Allah menyempurnakan penciptaan Adam “dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” [Lihat Qs. al-Hijr ayat 26, 28 dan 33] Lalu Dia meniupkan kepadanya dari ruh-Nya hingga Adam memiliki napas hidup dan menjadi manusia yang sempurna.

Setelah sempurna penciptaan Adam, Allah memerintahkan para malaikat bersujud kepadanya. Dengan tunduk dan patuh mereka mengikuti perintah-Nya. Mereka menghadap kepada Adam, mengagungkannya, dan bersujud kepadanya. Hanya Iblis yang menolak perintah-Nya. “Dia menolak dan bersikap sombong, dan dia sungguh termasuk golongan yang kafir” [Lihat Q.S. al-Baqarah: 34]

Allah bertanya mengapa ia enggan bersujud kepada Adam dan menentang perintah-Nya, “Hai iblis, apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada dia yang telah Kuciptakan dengan kedua tungan-Ku. Apakah kau sombong atau menganggap diri (lebih) tinggi?” [Q.S. Shad: 75]

Iblis mengaku, ia memiliki hakikat yang lebih baik dan lebih suci daripada Adam. Menurutnya, tak ada seorang pun yang menyamai keluhuran tingkatan dan hakikat dirinya. Tak ada seorang pun yang melampaui kedudukannya. Ia berkata, “Aku lebih baik daripada dia, karena Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Dia Engkau ciptakan dari tanah.”

Jelas-jelas Iblis menyatakan pembangkangan, perlawanan, dan pendustaannya kepada Allah. Ia bersikap sombong terhadap perintah-Nya, tidak mau bersujud kepada dia yang telah Allah ciptakan dengan kedua tangan-Nya. Mereka mengikarkan diri sebagai bagian dari golongan kafir.

Karena itulah Allah mengganjar Iblis atas pembangkangannya dan menyiksanya atas penentangannya. Dia berfirman, “Keluarlah dari surga, karena engkau sungguh terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat” [QS. al-Hijr: 34-35]

Iblis meminta agar Allah memberinya tangguh hingga hari pembalasan. Allah memenuhi permintaannya, “(Jika begitu) Sungguh kau termasuk mereka yang diberi tangguh sampai waktu yang telah ditentukan” [Q.S. al-Hijr: 37-38]

Allah memenuhi permintaannya dan mereka diberi tangguh hingga hari kiamat. Namun alih-alih bersyukur, ia kufur nikmat dan semakin ingkar kepada Allah. Saat mendengar permintaannya dipenuhi, ia berkata, “Karena Engkau telah menghukumiku sesat, aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus” [Q.S. al-A’raf: 16] Ia tak ingin bertobat. Ia hanya ingin agar banyak orang yang mengikuti jalannya, jalan kesesatan. Ia berjanji, setiap saat akan terus mengintai dan menyeru manusia untuk menentang dan menyimpang dari jalan Allah. Sekali lagi ia berkata menegaskan kehendaknya, “Aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, (serta) dari kanan dan dari kiri. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” [Q.S. al-A’raf: 17]

Allah menjauhkan Iblis dari lingkaran kasih-Nya dan membiarkannya berpanjang angan, “Tempuhlah jalan yang telah kau pilih, tempuhlah jalan kesesatan yang kau kehendaki, hasutlah siapa yang kau sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukun berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak” [Q.S. al-Isra: 64] Janjikanlah kepada mereka janji-janji palsu dan berilah mereka angan-angan kosong. Tetapi camkanlah! Engkau takkan pernah bisa menyentuh hamba-hamba-Ku yang ikhlas dan beriman. Mereka telah memiliki keyakinan dan tekad yang kuat. Aku tidak akan memberimu kuasa atas mereka. Sungguh, hati mereka amat teguh dan telinga mereka tak akan pernah berpaling kepada bisikanmu. Kelak kau akan mendapat siksa yang sangat berat karena bertekad menyesatkan manusia dan menebarkan bencana di antara mereka. Sungguh Aku akan memenuhi jahanam denganmu dan para pengikutmu.”

Para malaikat bersujud kepada Adam. Mereka mengakui bahwa Adam lebih utama dibanding mereka, lebih luhur maqamnya, dan lebih dekat kepada Allah, pada awalnya mereka mengira, pengetahuan mereka lebih luas dibandmg Adam; bahwa kepandaian dan pemahaman mereka lebih tinggi. Namun, Allah telah membekali Adam dengan ilmu yang berasal dari ilmu-Nya, memancarkan percik cahaya dari cahaya-Nya. Allah memberitahunya nama-nama segala yang ada di jagat raya. Kemudian Allah menanyakan semua itu kepada malaikat, “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian benar!” Pernyataan itu disampaikan untuk menampakkan kelemahan dan keterbatasan ilmu mereka. Dia hendak menunjukkan keluasan ilmu dan hikmah-Nya yang telah menetapkan bahwa Adam lebih utama dan lebih layak dibanding mereka. Tak bisa dimungkiri, Adam dan keturunannya berhak atas kekhalifahan di muka bumi.

Para malaikat tersentak mendengar pertanyaan itu. Mereka bingung, berusaha mencari jawabannya dalam diri mereka, namun tak juga menemukannya. Karena itu, mereka menyatakan kelemahan dan keterbatasan ilmu mereka, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” [Q.S. al-Baqarah: 32]

Allah berpaling kepada Adam dan menanyakan kepadanya nama-nama segala sesuatu yang tidak diketahui para malaikat. Adam, yang telah menyerap sebagian ilmu Allah dan menyerap cahaya-Nya, mampu menjawab dan menyebutkan segala sesuatu yang ditanyakan Allah. Dengan begitu, Allah menunjukkan kepada para malaikat keutamaan Adam dan kebijaksanaan-Nya yang telah memilih Adam sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Dia berfirman kepada para malaikat, “Bukankah sudah Kukatakan kepadu kalian, sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kalian lahirkan dan apa yang kalian sembunyikan?” [Q.S. al-Baqarah: 33]

Ketika itulah para malaikat sepenuhnya menyadari keutamaan Adam dibanding mereka dan memahami rahasia penciptaannya. Kini, menjadi jelaslah bagi mereka hikmah Allah yang telah menjadikan Adam khalifah di muka bumi.

Allah menimpakan siksa-Nya kepada lblis dan mencabut nikmat-Nya darinya. Allah mendatangi Adam dan menempatkannya di surga bersama istrinya, Allah berfirman kepadanya, “lngatlah nikmat yang telah Kuberikan kepadamu. Aku menciptakanmu dengan fitrah-Ku yang maha indah. Kusempurnakan penciptaanmu sebagai manusia sesuai dengan kehendak-Ku. Kutiupkan kepadamu dari ruh-Ku. Kujadikan para malaikat bersujud kepadamu. Kupancarkan kepadamu cahaya ilmu-Ku. Dan Iblis, yang enggan mengakui keutamaanmu, Kujadikan berputus asa dari rahmat-Ku. Aku mengutuknya sejak ia keluar dari jalan ketaatan. Dan rumah keabadian ini (surga), telah Kujadikan sebagai tempat tinggalmu. Jika engkau taat, Aku akan mencukupimu dengan kebaikan dan kau akan tinggal di sini selamanya. Sebaliknya, jika kau mengabaikan perintah-Ku, Aku akan mengeluarkanmu dari rumah-Ku dan menyiksamu dalam neraka-Ku. Jangan pernah lupa, Iblis adalah musuh yang nyata bagimu dan istrimu. Jangan sampai ia memhuat kalian terusir dari surga sehingga menjadi orang yang sengsara.”

Allah telah memberi kebebasan kepada Adam dan istrinya untuk menikmati segala sesuatu yang ada di surga. Mereka boleh makan sesuka hati dan memetik buah-buahan sesuai keinginan. Hanya satu larangan-Nya: jangan pernah mendekati salah satu pohon di antara banyak pepohonan surga. Allah menjelaskan larangan-Nya itu dengan mengungkapkan letak pohon itu beserta ciri-cirinya. Dengan begitu, Adam tidak akan merasa ragu dan bimbang untuk menjauhinya. Allah mengancam, jika larangan itu dilanggar dan mereka mendekati atau bahkan berani memetik buahnya, mereka termasuk golongan yang zalim. Sebaliknya, jika mereka menjauhi pohon itu, mereka akan merasakan kenikmatan tak berbatas di dalam surga. Mereka takkan pernah merasa lapar, haus, maupun panas, Allah berfirman, “Hai Adam tinggallah dengan istrimu di surga. Makanlah makanan yang banyak dan baik di mana saja yang kalian sukai, dan janganlah mendekati pohon ini sehingga kalian termasuk orang yang zalim.” [Q.S. al-Baqarah: 35] Sesungguhnya kalian tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kalian tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) ditimpa panas matahari di dalamnya” [Q.S. Thaha: 118-119]

Allah telah memerintah mereka tinggal di surga dan merasakan nikmat yang tak berbatas. Mereka menikmati segala keutamaan dan kebaikan surga yang menyenangkan dan memanjakan mata. Mereka berpindah dari satu pohon ke pohon lain di antara pepohonan surga dan berteduh di bawah naungannya. Mereka memetik dan merasakan segala macam buah-buahan yang terdapat di dalamnya dan minum air yang sangat menyegarkan. Adam beserta istrinya benar-benar menikmati keindahan dan kesenangan surga. Mereka hidup nyaman menghirup mata air kebahagiaan.

Nikmat yang dirasakan keduanya itu ternyata mengiris jiwa Ibliss. Ia sulit menerima kenyataan bahwa Adam dan istrinya hidup bahagia mengecap berbagai kenikmatan surga, sementara ia terusir dari rahmat Allah dan dijauhkan dari surga-Nya. Muncullah niat untuk merusak kebahagiaan dan kenikmatan mereka. Iblis ingin menjauhkan mereka dari istana kebahagiaan. Ia dendam kepada mereka meskipun yang membuatnya terusir dari nikmat dan rida Allah bukanlah mereka. Semakin jelaslah kekafiran dan pembangkangannya. Ia meremehkan dan menghina makhluk yang telah dimuliakan oleh Allah dan yang para malaikat bersujud kepadanya seraya mengakui keutamaannya.

Untuk menjalankan niatnya, Iblis bergegas memasuki surga dan secara sembunyi-sembunyi berbisik menggoda Adam. Ia meyakinkan Adam bahwa ia benar-benar mengasihinya dan tulus memberinya nasihat. Ia terus menggoda dan merayu Adam. Segala cara ditempuhnya. Setiap pintu didatanginya. Ia tunjukkan kelembutan dan belas kasihnya kepada Adam dan Hawa. Layaknya orang yang sangat kasih dan menyayangkan nikmat yang luput dari mereka, ia berkata merayu, “Tidak tahukah kamu, sesungguhnya Tuhanmu melarangmu mendekati pohon ini semata-mata agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tiduk menjadi orang yang kekal (di dalam surga).” [Q.S. al-Araf: 20]

Namun Adam dan Hawa enggan mengikuti bujukan dan rayuannya. Mereka menutup telinga menghindari semua godaan dan ucapannya. Keduanya tak mau mengikuti nasihatnya. Iblis tidak menyerah. Ia bersumpah bahwa ia benar-benar mengasihi mereka, tak bermaksud menyakiti atau mencelakakan. Ia tegaskan, ia tak dendam atau dengki karena mereka merasakan nikmat yang berlimpah. Ia lakukan semua itu semata-mata karena mengasihi mereka. Ia terus berusaha meyakinkan keduanya dengan segala rayuan dan kelembutan kata-kata. Ia jelaskan, betapa pohon yang terlarang itu teramat manis buahnya, sangat wangi harumnya, dan indah nian rupanya. Kelezatan dan keindahannya tak ada bandingannya dengan pepohonan lain di surga. Semakin lama, keduanya termakan bujuk rayu Iblis. Keindahan dan kelembutan kata-katanya begitu menggoda dan memerdaya. Kesungguhan sumpahnya melemahkan keyakinan sehingga akhirnya mereka berani melanggar perintah Allah.

Akibatnya, Allah merampas nikmat-Nya dari mereka dan mengharamkan surga-Nya bagi mereka. Dia berfirman, “Bukankah Aku telah melarang kalian dari pohon itu dan telah Kukatakan kepada kalian,” [Q.S. al-A’raf: 22] sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian?”

Adam dan Hawa bertobat kepada Allah dan menyesali perbuatannya. Mereka berkata, “Ya Tuhun kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang yang merugi.” [Q.S. al-A’raf: 23]

Allah menjawab, “Turunlah kalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian lain. Dan kalian memiliki tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.” [Q.S. al-A’raf: 24]

Allah menerima tobat mereka dan memaklumi kekeliruan mereka. Ampunan dan penerimaan Allah itu menyejukkan dada, menenteramkan jiwa, dan menumbuhkan harapan mereka untuk kembali merasakan nikmat surga dan segala kesenangan yang ada di dalamnya.

Allah mengetahui apa yang terbersit dalam benak Adam dan Hawa. Dia memahami segala yang terlintas dalam pikiran mereka. Dia telah memerintahkan mereka turun dari surga dan menjelaskan bahwa lblis akan terus memusuhi mereka sehingga mereka harus mewaspadai segala fitnah dan tipu muslihatnya. Allah berfirman, “Turunlah kalian dari surga bersama-sama, sebagian kalian menjadi musuh sebagian yang lain. Maka jika datang petunjuk dari-Ku, (ikutilah, dan) barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” [Q.S. Thaha: 123]

Keduanya turun dari surga dan menetap di bumi. Allah menyediakan segala yang mereka butuhkan untuk menjalani kehidupan di dunia. Dia juga membekali jiwa mereka dengan harapan dan cita-cita untuk kembali ke dalam lingkaran rahmat-Nya dan liputan keabadian-Nya. Dia kabarkan kepada Adam bahwa tahapan kenikmatan dan kebahagiaan yang murni dan abadi telah berakhir. Kini mereka memasuki tahapan kehidupan baru yang menawarkan dua jalan berbeda: jalan hidayah dan jalan kesesatan, jalan keimanan dan jalan kekafiran, jalan keberuntungan dan jalan kerugian. Barang siapa mengikuti petunjuk Allah yang telah Dia gariskan dan menempuh jalan lurus yang telah Dia tentukan batas-batasnya, ia tidak perlu takut menghadapi godaan dan bujukan setan. Sebaliknya, orang yang mengabaikan peringatan Allah dan menyimpang dari jalan-Nya niscaya akan merasakan kehidupan yang sempit. Mereka akan dimasukkan ke dalam golongan “orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” [Q.S. al-Kahfi: 104]

Oleh : M. Ahmad Jadul Mawla, M. Abu Al Fadhl Ibrahim

Baca juga : 

About Auther:

Info Biografi

Pesantren Khusus Tahfidz Quran
Hello. Add your message here.