Dua Penangkal Azab

Ilustrasi / Computerworld.com
Ilustrasi / Computerworld.com

Azab berarti siksa, yaitu balasan yang diberikan Allah kepada manusia berdasarkan sebab-sebab tertentu, seperti karena kekufuran, kemaksiatan, dan kebatilan. Lawannya adalah tsawab, yaitu pahala sebagai bentuk balasan kebaikan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya karena keimanan dan kesyukuran sang hamba.

Takut terhadap azab ini menjadi keniscayaan bagi setiap insan, khususnya orang-orang yang beriman. Dalam Alquran surah al-Ma’arij ayat 27 disebutkan, takut kepada azab Allah ini merupakan di antara ciri orang-orang yang jiwanya tenang, tidak banyak keluh kesah dan tidak galau hidupnya. Sebab, dengan tertanamnya rasa takut terhadap azab Allah akan melahirkan kekuatan iman dan rasa syukur.

Hakikatnya, Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang kepada setiap makhluk-Nya, terutama manusia sebagai penyandang makhluk yang telah dimuliakan. Maknanya, Allah tidak menghendaki hamba-Nya tersebut mendapatkan azab-Nya. Hanya saja, ulah hamba-Nya sendiri yang memilih jalan kebatilan dan berpaling dari kebenaran.

Dalam sebuah riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim dengan sanad sahih, Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat yang sangat penting dan berharga kepada kita tentang masalah azab ini. Di hadapan kaum muhajirin dan ansar, beliau SAW menyebut lima hal yang dapat mengundang turunnya azab dan kemurkaan Allah SWT.

Pertama, dosa zina yang dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum. Perbuatan maksiat ini akan menyebabkan turunnya tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah ada pada generasi sebelumnya.

Kedua, perilaku curang, seperti mengurangi takaran dan timbangan. Termasuk kezaliman penguasa, seperti pembunuhan, kerusakan, khianat, korupsi, dan lain-lain. Maka, ragam kejahatan ini akan menyebabkan kebangkrutan, paceklik, banyaknya tekanan, dan kesulitan hidup.

Ketiga, enggan membayar zakat dan suka menahannya. Akibatnya, hujan dari langit pun akan ditahan. Sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

Keempat, melanggar perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya. Karena perbuatan ini, Allah akan menjadikan pihak musuh dari kalangan orang kafir dan munafik berkuasa ke atas mereka. Lalu, pihak musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.

Kelima, menyelisihi syariat Islam. Artinya, selama para pemimpin yang diberikan amanah kekuasaan itu tidak menjadikan agama sebagai dasar hukum dalam menjalankan kepemimpinannya, Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka.

Oleh karena itu, ada dua perkara supaya diri kita benar-benar selamat dari azab Allah, yaitu syukur dan iman. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Allah tidak akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nisa: 147).

Berdasarkan ayat di atas, maka dua perkara yang dapat menyelamatkan manusia dari azab-Nya adalah syukur dan iman hanya kepada Allah SWT. Keduanya merupakan fondasi paling dasar yang meliputi segala amal kebajikan. Wallahu al-Musta’an.

Oleh : Imron Baehaqi (Republika)

Yuk bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.