Harga Sebuah Kejujuran

quote_63

Syahdan, seorang petugas kebersihan kereta api di Stasiun Bogor bernama Mujenih mendadak viral di media sosial. Ceritanya bermula dari kedatangan kereta dari arah Jakarta yang ramai penumpang.

Lalu, seorang petugas keamanan memintanya untuk membersihkan gerbong sembari mengingatkan bahwa ada plastik hitam di bawah kursi. Ia pun menunaikan tugas dengan sigap.

Ketika menemukan plastik tersebut, ia tidak menaruh curiga sedikit pun. Rupanya, plastik itu berisi uang 100 ribuan. Tak berpikir panjang, ia menyerahkannya ke kantor stasiun. Setelah diperiksa, jumlahnya sangat fantastis, yakni sebesar Rp 500 juta.

Sontak saja kejadian itu membuat decak kagum banyak orang. Bukan hanya soal jumlah, akan tetapi kejujurannya di tengah kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Padahal, bisa saja ia membawanya kabur karena tidak ada yang melihat. Ketika ditanya, mengapa uang tersebut diserahkan ke kantor, ia menjawab dengan tegas, “Uang ini bukan milik saya.”

Serpihan kisah di atas mengingatkan kita akan arti dan harga sebuah kejujuran, yakni, pertama, kejujuran adalah akhlak karimah. Ia merupakan kebenaran dan kebaikan yang pantas dibalas dengan kemuliaan (QS 55: 60). Seandainya pun kejujuran kita belum diapresiasi oleh manusia, maka pastilah akan dihargai oleh Allah SWT.

Mujenih termasuk orang jujur dan beruntung. Sebab, ia mendapatkan penghargaan dari Menteri BUMN Erick Thohir, yakni asuransi jiwa senilai tiga kali lipat dari jumlah uang tersebut dan diangkat menjadi pegawai tetap di perusahaannya.

Kedua, kejujuran itu jalan ke surga. Nabi SAW berpesan, “Kalian harus berlaku jujur, sebab kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa ke surga. Seorang yang jujur dan memelihara kejujuran akan dicatat sebagai orang jujur di sisi Allah SWT (shiddiiq). Hindarilah dusta karena kedustaan akan menggiring kepada kejahatan, dan kejahatan akan menjerumuskan ke neraka. Seorang yang berdusta dan memelihara kedustaan akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah SWT (kadzdzaab).” (HR Bukhari Muslim).

Ketiga, kejujuran itu menenangkan hati. “Fa inna ash-shidqa tuma’ninatun, wa al-kadziba riibatun.” Artinya, sesungguhnya kejujuran itu menenangkan dan kedustaan akan merisaukan.

Orang yang jujur dalam hati, ucapan dan tindakan akan merasakan ketenangan dalam hidupnya. Demikian ulasan Ustaz Abdul Somad dari Kitab al-Fathul Mubin karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami.

Orang jujur tidak akan membiarkan keraguan bersemayam dalam hatinya dan membuka ruang untuk bisikan setan. Sebab, yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas (HR Muslim). Juga, ia tidak mau mencampuradukkan keduanya (QS 2: 42).

Keempat, kejujuran itu pendidikan adab yang utama. Tidak mudah berkata dan berlaku jujur, baik bagi orang yang kekurangan maupun berkelebihan. Sebagian orang menganggap bahwa mencari rezeki yang haram saja susah, apalagi yang halal.

Tentu, kedua orang tua Mujenih telah berhasil menanamkan, membiasakan, dan meneladankan kejujuran kepada anaknya, yakni berpegang teguh pada kebenaran dan tidak termasuk orang yang dihinggapi keraguan (QS 2: 147, 3:60). Allahu a’lam bish-shawab.

Oleh : Hasan Basri Tanjung (Republika)

Yuk bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.