Kisah Nabi Ibrahim ‘Sang Kekasih’ ‘Alaihissalam

Dia adalah Ibrahim bin Azar Alaihissalam dan dijuluki dengan Abu Adh-Dhaifan. Ia dilahirkan di Babil. Ketika ia dilahirkan, seluruh penghuni bumi dalam keadaan kafir, kecuali Ibrahim ‘sang kekasih’, Sarrah (istrinya), dan Luth Alaihimassalam (keponakannya).

Ibnu Jarir berkata, “Yang benar, namanya adalah Azar. Barangkali dia memiliki dua nama alamain (bukan berasal dari bahasa Arab, penj.). Atau salah satunya adalah julukan, sedangkan yang lain adalah alam. Wallahu a’lam.

Allah menceritakan adanya dialog dan perdebatan yang terjadi antara Ibrahim dengan ayahnya, dan bagaimana Ibrahim menyeru ayahnya dengan cara dan kiat yang paling lembut. Ibrahim menjelaskan kesalahan kepada ayahnya dalam penyembahan kepada berhala yang sama sekali tidak mendengar permohonan penyembahnya dan sama sekali tidak melihat tempatnya, maka bagaimana mungkin akan memberikam manfaat, atau melakukan suatu kebaikan bagi manusia, misalnya memberi rezeki atau kemenangan? Tetapi ayahnya justru mengancam dan menyumpahinya.

Ibrahim juga memberikan nasihat kepada bangsa Harran yang menyembah planet-planet, bahwa benda-benda langit yang terlihat tersebut hanyalah planet-planet yang bersinar terang, yang tidak layak untuk dijadikan sesembahan. Semua itu adalah makhluk, kadang-kadang muncul dan kadang-kadang hilang dari alam raya ini. Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah hilang dari alam. Bagi-Nya tidak ada yang tidak terlihat. Dia abadi, kekal, dan tidak pernah hilang.

Ibrahim mengingkari, menghina, dan mengecilkan kaumnya yang menyembah berhala. Alasan mereka tiada lain adalah melestarikan amal perbuatan nenek moyang. Ketika kaumnya pergi untuk menghadiri hari raya mereka, Ibrahim pergi mendahului mereka menuju berhala-berhala dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia hancurkan berhala-berhala itu, lalu mengalungkan kampak yang ia pakai untuk menghancurkan ke leher patung yang terbesar, sebagai isyarat bahwa dia mengancam jika orang-orang menyembah patung-patung kecil yang bersamanya.

Ketika mereka pulang dari perayaan dengan menemukan kejadian yang ada pada sesembahan mereka, mereka bertanya-tanya tentang orang yang melakukannya. Mereka lalu mendengar kabar tentang seorang pemuda bernama Ibrahim yang mencela sesembahan mereka. Mereka pun berkata,

“… ‘(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak agar mereka menyaksikan’.’ ‘(Qs. Al Anbiyaa’ [21]: 61)

Maksudnya agar Ibrahim dibawa di tengah orang-orang yang akan mendengar semua ucapannya. Kejadian tersebut sebenarnya memang harapan terbesar Ibrahim ‘Alaihissalam, agar ia dapat menegakkan alasan berkenaan dengan batalnya apa yang mereka lakukan, sebagaimana ucapan Musa Alaihissalam kepada Fir’aun,

“… ‘Waktu untuk pertemuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalahan naik’.” (Qs. Thaahaa [20]: 59)

Ketika orang-orang berkumpul dengan membawa Ibrahim, mereka bertanya,

“… Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’.” (QS. Al Anbiyaa’ [21]-. 62)

Ibrahim menjawab,

“… ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara’.” (Qs. Al Anbiyaa [21]: 63)

Dengan ucapan itu Ibrahim bertujuan menyadarkan mereka bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak dapat berbicara dan hanya berupa benda padat pada umumnya, sehingga tidak pantas disembah. Kaumnya itu pun bingung dan kehabisan alasan. Tidak ada lagi yang tinggal di benak mereka, selain penggunaan kekuatan dan kekerasan. Mereka lalu segera mengumpulkan kayu bakar di dalam sebuah lubang besar.

Mereka menyalakan kayu bakar itu hingga lidah api menjilat-jilat dengan ganasnya, yang belum pernah disaksikan oleh orang sama sekali adanya api sedahsyat itu sebelumnya. Mereka meletakkan Ibrahim ‘Alaihissalam di atas tempat peluru pada ketapel raksasa yang dibuat oleh seorang kurdi bernama Haizan. Haizan adalah orang yang pertama-tama membuat ketapel, yang berakhir dengan kejadian bahwa dirinya ditelan ke dalam perut bumi. Ketika Ibrahim Alaihissalam diletakkan di tempat peluru pada ketapel dengan keadaan kedua tangannya diikat ke belakang punggungnya, lalu mereka melemparnya ke nyala api, ia berucap,

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata,

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Diucapkan oleh Ibrahim ketika dirinya dilemparkan ke dalam kobaran api, dan diucapkan oleh Muhammad ketika dikatakan kepadanya, sebagaimana firman Allah,

‘(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka’. Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar’.” (Qs. Ali ‘Imraan [3]: 173-174)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Kami berfirman, ‘Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim’. ” (Qs. Al Anbiyaa [21]: 69)

Dengan demikian tidak ada sedikit pun yang terbakar pada diri Ibrahim, kecuali tali-tali yang dipakai untuk mengikat tangannya.

Diriwayatkan dari Ummu Syarik, bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh seorang pengecut dengan bersabda,

“Mereka itu ‘peniup-niup’ Ibrahim.” (HR. Al Bukhari dan Ahmad)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan tentang debat Ibrahim dengan seorang raja yang zhalim, yang keras kepala, dan yang mengaku-ngaku sebagai tuhan. Ibrahim ‘Alaihissalam menghancurkan alasan dan dalilnya. Dia adalah Raja Babil yang bernama An-Namrud bin Kusy bin Saam bin Nuh.

Allah berfirman,

“Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Mematikan’. ” (Qs. Al Baqarah [2]: 258)

Raja yang tolol itu berkata,

“Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Qs. Al Baqarah [2]

Dalam menghadapi perkara semacam itu, para rasul telah dianugerahi hujjah, sebagaimana Ibrahim ‘Alaihissalam.

Allah berfirman,

“…’sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orangyang zhalim.” (Qs. Al Baqarah [2]: 258)

Ibrahim ‘Alaihissalam hijrah ke Mesir, lalu kembali lagi dengan ditemani oleh Hajar, seorang wanita Qibthi Mesir.

Adapun Nabi Luth, diperintah oleh Nabi Ibrahim untuk mendatangi negeri Sodom, tempat yang penduduknya orang-orang yang jahat, kafir, dan zhalim.

Hajar melahirkan Ismail Alaihissalam 13 tahun sebelum kelahiran Ishak. Ketika Ismail lahir, Allah memberi wahyu kepada Ibrahim yang berupa kabar gembira dengan lahirnya Ishak dari Sarah. Ketika Ismail lahir dari Hajar, bertambahlah kecemburuan Sarah, maka ia meminta kepada Ibrahim agar memalingkan Hajar darinya. Oleh karena itu, Ibrahim membawa Hajar beserta anaknya hingga menjadikan keduanya menetap di suatu tempat yang sekarang disebut Makkah. Ketika itu Makkah tidak didiami oleh seorang pun. Tidak juga ada air di sana. Ibrahim hanya memberi keduanya sekantung kurma dan sekantung air.

Setelah itu Ibrahim kembali, hingga habis apa yang ada di dalam kantung, sehingga Hajar kehausan, demikian pula bayinya (Ismail), menggelepar-gelepar karena kehausan. Hajar pun mulai berusah mencari air dengan bolak-balik antara Shafa dan Marwah, sebanyak 7 kali, namun tetap ia tidak melihat seorang pun. Akhirnya ia mendengar suara malaikat di tempat Zamzam. Ia dengan sayapnya mencari-cari air hingga muncul, dan Hajar pun mengurusnya dengan sangat baik.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Allah sangat menyayangi ibu Ismail. Jika ia meninggalkan Zamzam maka jadilah mata air yang memancar.”

Akan tetapi Hajar mengambil air hanya dengan kedua tangannya karena keinginannya yang kuat untuk mendapatkan air. Ia minum, lalu menyusui anaknya. Akhirnya berlalu di dekatnya anggota sebuah keluarga dari Jurhum. Mereka pun singgah di dekat air untuk diberikan kepada anggota keluarganya hingga mereka ikut singgah bersama-sama.

Bayi Hajar (Ismail) lalu tumbuh menjadi seorang remaja yang gemar belajar bahasa Arab dari mereka. Setelah Ismail dewasa, mereka menikahkannya dengan seorang wanita dari kalangan keluarga mereka. Lalu wafatlah Hajar.

Ibrahim lalu menemui Ismail, seraya berkata, “Wahai Ismail, sesungguhnya Allah telah memerintahkanku untuk membangun rumah di sini.” Ketika itu mereka berdualah yang menegakkan tiang-tiang rumah itu.

Tentang cerita Kurban, tidak ada khilaf antara ulama bahwa yang akan disembelih adalah Ismail Alaihissalam, sebagai anak pertama Ibrahim yang masih remaja, sebagaimana firman Allah,

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim. “(Qs. Ash-Shaaffat [37]: 102)

Artinya, ketika Ismail telah menjadi seorang pemuda dan telah mampu berusaha, sebagaimana ayahnya, maka pada saat itulah ia diberi mimpi dalam tidurnya bahwa dirinya diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya. Di dalam sebuah hadis marfu dari Ibnu Abbas dikatakan,

“Mimpinya para nabi adalah wahyu.”

Ibrahim kemudian memperlihatkan perkara itu kepada anaknya dengan berkata,

“Ibrahim berkata, ‘Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”‘ (Qs. Ash-Shaffaat [37]: 102)

Anak yang baik itu segera saja berbakti kepada orang tuanya, AI Khalil Ibrahim, dan dia berkata,

“Ia menjawab, Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yangsabar’.” (Qs. Ash-Shaffaat [37]: 102)

Jawaban seperti itu adalah jawaban yang menunjukkan ketepatan, ketaatan, dan kemauan. Ibrahim pun menorehkan pedangnya di leher putranya, Ismail, tetapi ternyata tidak melukai apa pun dan sedikit pun. Ketika itulah ia diseru oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’. ” (Qs. Ash-Shaffaat [37]: 102)

Maksudnya, telah tercapai maksud dilangsungkannya cobaan kepadamu. Telah jelas ketaatanmu dan keseriusanmu untuk melaksanakan perintah Rabbmu.

Allah berfirman,

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Qs. Ash-Shaffaat [37]: 107)

Pendapat yang masyhur dari kalangan ulama adalah, sembelihan itu adalah seekor qibas putih dan hitam dengan bola mata yang besar dan alis mata yang simetris.

Kemudian lahirlah Ishak dan Ya’qub ‘Alaihimassalam.

Oleh : Ahmad Al Khani

Baca juga : 

Kompilasi Sejarah Islam Sejak Awal Penciptaan

Download Kumpulan Soal Tes CPNS Tahun 2007-2017 Lengkap Dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Lowongan Kerja Terbaru 43 Bank di Indonesia

5 Kunci untuk Menguak Rahasia SUKSES SEJATI dalam Kehidupan Anda

Best Articles : Career Life, Personal Development, Entrepreneurship And Business

Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia

Inilah 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia

Kompilasi Tafsir Al Quran

Al Quran Menjawab

About Auther:

Info Biografi

Pesantren Khusus Tahfidz Quran
Hello. Add your message here.