Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah SAW 

islamic-art-5

Peristiwa itu terjadi ketika beliau berumur 40 tahun.

Al Bukhari berkata, “Pertama-tama wahyu mulai turun kepada Rasulullah SAW diawali dengan mimpi yang menjadi kenyataan, menyaksikan cahaya cerah ketika Subuh. Sejak itu beliau senang menyendiri. Beliau mulai menyendiri di Gua Hira untuk beribadah pada malam hari selama beberapa malam.

Akhirnya beliau kembali kepada keluarganya sampai beliau dikagetkan dengan datangnya Al Haq ketika berada di Gua Hira itu. Beliau didatangi oleh malaikat. Dia berkata kepada beliau, ‘Bacalah!’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak pandai membaca’. Beliau bersabda, “Dia menangkapku dan menahanku hingga aku kelelahan, tetapi kemudian melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Kukatakan, ‘Aku tidak pandai membaca’. Dia lalu menangkapku untuk kedua kalinya dan menahanku hingga aku kelelahan, tetapi kemudian melepaskanku dan berkata, ‘Bacalah!’ Kukatakan, ‘Aku tidak pandai membaca’. Dia lalu menangkapku untuk ketiga kalinya dan menahanku hingga aku kelelahan, tetapi kemudian melepaskanku dan berkata, Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan Qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya’.” (Qs. Al ‘Alaq [96]: 1-5)

Rasulullah SAW lalu segera pulang dengan ayat-ayat itu, dengan hati yang sangat goncang. Beliau datang ke kediaman Khadijah binti Khuwailid dan bersabda, ‘Selimuti aku, selimuti aku!“Mereka pun menyelimuti beliau hingga hilanglah rasa takut dalam hatinya. Beliau lalu menceritakan kejadiannya kepada Khadijah, kemudian berkata, ‘Aku sangat mengkhawatirkan diriku‘.”(HR. Al Bukhari)

Khadijah berkata kepada beliau, “Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menjadikanmu bersedih sama sekali. Engkau adalah orang yang suka bersilaturrahim, menghormati tamu, suka membawa beban sendiri, dan menolong orang-orang yang tertimpa musibah.” (HR. Al Bukhari)

Setelah mendengar cerita itu, Khadijah pergi menemui Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah. Ia telah sangat tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, ”Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa-apa dari anak saudaramu.” Rasulullah SAW lalu mengabarkan kepadanya tentang kejadian yang baru terjadi dengannya. Waraqah pun berkata kepada beliau, “Dia adalah An-Namus (Malaikat Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Semoga aku menjadi (sebagai) anak kambing dalam peristiwa itu. Semoga aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”

Rasulullah SAW lalu bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Ia menjawab, “Ya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa kecuali akan diusir oleh kaumnya. Jika aku masih bisa bersamamu, tentu aku akan membantumu dengan sekuat tenaga.”

Sejak itu wahyu terputus. Di dalam kitab Shahih Al Bukharidan dan Shahih Muslim terdapat hadits yang diriwayatkan dari Jabir, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang terputusnya wahyu, ‘Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari langit, maka aku angkat pandanganku, dan ternyata malaikat yang pernah mendatangiku di Gua Hira sedang duduk di atas kursi yang berada di antara langit dan bumi. Aku sangat terkejut, hingga aku tersungkur di atas tanah. Aku lalu pulang menuju keluargaku dan kukatakan kepadanya, ‘Selimuti aku, selimuti akui” Allah kemudian menurunkan wahyu,

‘Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah; dan pakaianmu, bersihkanlah; dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah’.” (Qs. Al Muddatstsir 174]: 1-5)

Sejak itu wahyu terputus lagi. Khadijah binti Khuwailid adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sehari setelah itu, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu datang (dan beriman). Ketika keduanya melaksanakan shalat, Ali bertanya, “Wahai Muhammad, apa ini?” Rasulullah menjawab, “Agama Allah yang dipilih untuk Dzat-Nya, dan karena itu pula Dia mengutus para utusan-Nya. Aku seru engkau kepada Allah yang Esa dan tiada sekutu bagi-Nya. Aku seru engkau untuk beribadah hanya kepada-Nya dan untuk kufur kepada Lata serta Uzza.” Ali lalu berkata, “Ini adalah suatu perkara yang belum pernah aku dengar sebelum ini.”

Ali masuk Islam, yang disusul oleh Abu Bakar. Sejak itu Allah memerintahkan Nabi SAW untuk menyampaikan risalah kepada orang-orang khusus dan orang-orang umum,

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Qs. Asy-Syu’araa [26]: 214)

Setelah itu Rasulullah SAW mulai berdakwah secara terang-terangan.

Ibnu Ishak berkata, “Sejak itu kaum Quraisy saling menghina jika pada kabilahnya ada orang —para sahabat Rasulullah SAW— yang masuk Islam.

Mulailah setiap kabilah menyiksa dan mengintimidasi setiap orang Islam dalam kabilahnya.”

Abu Thalib berkata —dalam rangka melindungi Rasulullah SAW—, Kami menyelamatkannya, walaupun dengan melawan sekitarnya. Kami menghibur anak-anak dan istri-istri kami.

Rasulullah SAW selalu dijaga oleh Allah dengan perantaraan Abu Thalib, sehingga Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya ketika siksaan yang dihadapi oleh mereka sudah sedemikian sadisnya, “Jika kalian siap pergi ke bumi Habasyah, maka di sana ada seorang raja yang tidak pernah ada orang terzhalimi di wilayahnya. Di sana adalah bumi penuh kejujuran. Sampai Allah memberikan kepada kalian jalan keluar dan keadaan yang kalian ada di dalamnya.” Mereka pun berangkat ke sana, dan inilah hijrah yang pertama dalam Islam.

Suku Quraisy lalu mengutus dua orang untuk menghadap kepada Najasyi. Keduanya adalah Amru bin Al Ash dan Abdullah bin Rabi’ah. Mereka berdua berusaha agar kaum muhajirin dari kaum muslimin dikembalikan kepada kaum Quraisy. Tetapi ternyata keduanya justru diusir oleh An-Najasyi.

Orang-orang musyrik terus menekan kaum muslim. Orang-orang Quraisy berkumpul untuk merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah SAW secara terang-terangan. Ketika Abu Thalib mengetahui perbuatan kaumnya, ia segera mengumpulkan bani Abdul Muthallib dan memerintahkan mereka agar memasukkan Rasulullah SAW ke dalam persembunyian dan mencegah orang-orang yang akan membunuhnya.

Mereka yang muslim dan yang kafir sepakat dengan perintah itu.

Orang-orang musyrik bersepakat untuk tidak bergaul dan berbai’at dengan mereka hingga mereka siap menyerahkan Rasulullah SAW untuk dibunuh.

Mereka berjanji secara tertulis dalam sebuah lembaran untuk terus melancarkan makar. Sehubungan dengan itu, bani Hasyim berada dalam pengasingan selama 3 tahun dan ujian mereka semakin berat.

Beberapa orang sepakat untuk membatalkan tulisan dalam lembaran itu dan mereka mendapati banyak rayap telah memakan lembaran itu dan meninggalkan tulisan yang berbunyi “Bismika Allaahumma” ‘Dengan nama-Mu ya Allah’. Penulis pada lembaran itu adalah Manshur bin Ikrimah yang berakhir dengan cacat pada tangannya, demikian pengakuan mereka.

Oleh : Ahmad Al Khani

Baca juga : 

Kompilasi Sejarah Islam Sejak Awal Penciptaan

Download Kumpulan Soal Tes CPNS Tahun 2007-2017 Lengkap Dengan Kunci Jawaban dan Pembahasan

Lowongan Kerja Terbaru 43 Bank di Indonesia

5 Kunci untuk Menguak Rahasia SUKSES SEJATI dalam Kehidupan Anda

Best Articles : Career Life, Personal Development, Entrepreneurship And Business

Inilah 10 Besar Profesi dengan Gaji Tertinggi di Indonesia

Inilah 7 Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an Terbaik di Indonesia

Kompilasi Tafsir Al Quran

Al Quran Menjawab

About Auther:

Info Biografi

Pesantren Khusus Tahfidz Quran
Hello. Add your message here.