Proses Lahirnya Dan Fase-Fase Pemerintahan Bani Abbasiyah

Ilustrasi/Moeslimchoice
Ilustrasi/Moeslimchoice

Lahirnya Bani Abbasiyah tahun 750 M, adalah peran besar dari keturunan  Hasyim yang bernama Abu Abbas. Nama Abbasiyah yang dipakai untuk nama bani ini adalah di ambil dari nama bapak pendiri Abbasiyah yaitu Abas bin Abdul  Mutalib paman Nabi Muhammad Saw. Proses lahirnya Abbasiyah di mulai dari kemenangan Abu Abbas assafah dalam sebuah perang terbuka (al-Zab) melawan khalifah Bani Umayyah yang terakhir yaitu Marwan bin Muhammad. Abu Abbas diberi gelar assafah karena dia pemberani dan dia mampu memainkan mata pedangnya kepada lawan politiknya. Semua lawan politiknya di perangi dan di kejar-kejar, diusir keluar dari wilayah kekuasaan Abbasiyah yang baru direbut dari Bani Umayyah I.

Berdirinya Bani Abbasiyah tahun 750 M berarti secara formal semua wilayah kekuasaan Islam berada di bawah pemerintaan Abbasiyah termasuk semua bekas wilayah Bani Umayyah I kecuali wilayah Bani Umayyah yang ada di Andaluia.

Proses pengembangan peradaban yang dibangun oleh Bani Abbasiyah begitu cepat membawa perubahan besar bagi perkembangan peradaban ilmu pengetahuan selanjutnya. Bediri Bani Abbasiyah selama 505 tahun diperintah oleh 37 khalifah dengan mampu menciptakan peradaban yang menjadi kiblat dunia pada saat itu, peradaban yang dikenang sepanjang masa. Pada waktu itu suasana belajar kondusif, fasilitas belajar disediakan pemerintah dengan lengkap. Motivasi belajar menjadi penyogok gairahnya masyarakat untuk belajar. Mereka myarakat mendatangi tempat-tempat belajar seperti kuttab, madrasah maupun perguruan tinggi seperti universitas. Universitas yang terkenal pada saat itu adalah Nizamiyah yang dibangun oleh perdana menteri Nizamul Muluk dari khalifah Harun al- Rasyid. Khalifah Harun al-Rasyid terkenal sebagai khalifah yang sangat cinta pada ilmu pengetahuan, baik belajar maupun dalam hal membangun fasilitas belajar seperti; sekolah, perpustakaan, menyediakan guru dan membentuk gerakan terjemahan.

Abu Abbas assafah sebagai pendiri Bani Abbasiyah masa kepemimpnannya sangat singkat, hanya 4 tahun beliau memerintah akan tetapi mampu menciptkan suasana dan kondisi Abbasiyah yang seteril dari keturunan Bani Umayyah sebagai lawan politik yang baru di kalahkan dan dikuasainya. Sikap tegas dan berani yang ditunjukkan oleh Khalifah Abu Abas Assafah ketika membuat kebijakan pada saat berdirinya Bani Abbasiyah dengan berani memberantas semua keturunan Umayyah dari wilayah yang dikuasainya. Dampak dari kebijakan tersebut dapat dilihat dari suasana pusat wilayah Abbasiyah yang baru menjadi kondusif dan perkembangan peradaban dapat dikendalikan oleh Khalifah Abu Abbas Assafah.

Keberhasilan Abu Abbas menaklukkan daulah Umayyah I ternyata mendapat dukungan besar dari tantara bayaran yang sengaja di datangkan oleh Abu Abbas, seperti Abu Muslim al-Khurasany. Abu Muslim adalah relawan berkebangsaan Persia yang sengaja disewa oleh keluarga Abbasiyah untuk membantu menaklukkkan kekuasaan Bani Umayyah I

Fase- Fase Pemerintahan Bani Abbasiyah

Pemerintahan Bani Abbasiyah yang berlangsung selama 505 tahu diperintah oleh14 Khalifah dapat diklasifikasi menjadi 5 fase pemerintahan:

1) Fase Pembentukan tahun 750M -847M = 132H-232 H

Disebut pengaruh Persia pertama yaitu berlanjut dari kekuasaan khalifah pertama Abu Abbas assafah tahun 750 M =132 H sampai khalifah ke 9 (al Wastsiq ) tahun 847 M = 232 H. Abu Abbas assafah dan Abu Ja’far al-Mansur khalifah pertama dan kedua di sebut sebagai peletak pondasi yang kuat. Abu Abbas dengan sikap tegas dan beraninya mampu mengusir paksa semua bekas keturunan Muawiyah dari wilayah yang baru direbutnya dari kekuasaan Bani Umayyah, sehingga wilayah Islam Abbasiyah pada saat itu menjadi aman dan kondusif. Sedangkan khalifah Abu Ja’far al-Mansur dikenal sebagai penerus kebijakan khalifah pertama dengan merintis berdirinya, baitul hikmah (pepustakaan). Abu Ja’far juga yang membuat kebijakan memindahkan ibu kota Abbasiyah dari Damaskus ke wilayah yang lebih luas dan jauh dari pengaruh Bani Umayyah I yaitu Baghdad di wilayah Persia.

Khalifah Harun al-Rasyid, khlifahah ke-5 membangun peradaban ilmu pengetahuan dengan menyediakan berbagai fasilitas pendidikan  bagi  masyarakat luas, mahasiswa, ulama atau para para pencinta ilmu pegetahuan. Harun al-Rasyid membangun lembaga-lembaga pendidikan seperti kuttab, madrasah dan perguruan tinggi seperti Universitas Nizamiah, Universitas Naisabur dan lain sebagainya. Mahasiswa, Ulama, Guru dan pemerhati ilmu pengetahuan yang ingin talabul ilmi (belajar) dibayar oleh pemerintah dan disediakan tempat penginapan di dalam Baitul Hikmah yang dibangun dengan diameter yang sangat luas. Tercatat ada 3 khalifah yang berkuasa pada masa puncak dan kegemilangan peradaban Islam ini. Pada  masa ini para  pencari  ilmu dari Eropa datang dari wilayah Inggris dan Prancis untuk  thalabul  ilmi dari Islam, mereka datang ke Andalusia, seperti di Toledo University, Sevilla Unversity, Granada University dan Kordova University. Di Abbasiyah mereka datangi Nizamiyah University, Sammara University, Naisabury University.

Mereka para pelajar dari Eropa itu belajar sambil mengamati suasana perkembangan ilmu pengetahuan seperti penulisan ilmu pengetahuan oleh ulama-ulama Islam, dan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan terutama baitul hikmah yang didirikan hampir di semuah kota-kota kekuasaan Abbasiyah. Selesai dari belajar di kota-kota Islam mereka kemudian mengembangakan ilmu dan pengalaman belajar di kota-kota Islam dengan mendirikan lembaga pengajian yang diberi nama House of Wisdom di Inggris dan Prancis.

Kegiatan belajar yang menonjol lainnnya adalah penerjemahan buku- buku filsafat Yunani dan buku-buku asing, dengan cara menyewa para ahli- ahli bahasa yang beragama Kristen dan penganut agama lainnya. Fase ini juga dikembangkan oleh khalifah Harun al-Rasyid sebagai wujud kepedulian sosial Bani Abbasiyah . Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan. Di kota Bagdad pada saat itu telah tersedia paling sedikit 800 orang dokterdi. Permandian-permandian umum juga dibangun sebagai sarana umum di sediakan bagi masyarakat yang kurang mampu untuk mempergunakan fasiitas-fasilitas tersebut secara bebas.

Fase ini disebut dengan pengaruh Persia karena beberapa khalifah yang berkuasa berkebangsaan Persia, sepeti al-Amin dan al-Makmum putra dari Harun al-Rasyid ibunya orang Persia dan beberapa khalifah lainnnya. Meskipun pada fase ini khalifah al-Muktasim mulai memberi peluang kepda bangsa Turki untuk berkiprah dalam pemerintahan Abbasiyah sebagai tentara pengawal khalifah dan pengawal istana.

2) Fase kedua Tahun 232 H – 334 H = 847 M – 945 M

Fase kedua ini dikenal dengan pengaruh kekuasaan Turki pertama. Fase ini dimulai dari khalifah ke sepuluh al-Mutawakkil. Pada fase ini perkembangan peradaban masih bisa berkembang akan tetapi tidak sepesat seperti fase sebelumnya. Peradaban ilmu dan peradaban lainnya, seperti membangun istana, mesjid, dan kota masih tetap berjalan baik. Baru pada ahir abad ke-9 pada saat terjadi disintegrasi atau pecahnya kekuasaan Islam menjadi wilayah- wilayah kecil yang lepas dan merdeka dari pemerintahan Abbasiyah sebagai pusat pemerintahan Islam, pada waktu itu proses pengembangan peradaban mulai menurun, tetapi para pelajar dari Eropa masih berbondong-bondong belajar di pusat-pusat peradaban, baik di Bagdad maupun di kota-kota di Andalusia. Dalam hitungan para pakar sejarah, bahwa masa ini masih masuk dalam masa kejayaan peradaban Islam. Fase ini banyak pembesar istana berasal dari bangsa Turki, terutama yang bekerja sebabai pengawal istana dan pengawal khalifah.

3) Fase ketiga tahun 334 H -447 H = 945 -1055 M

Fase pengaruh dinasti Buwaihi atau disebut juga pengaruh Persia fase ini dikenal dengan masa disintegrasi di kekuasaan dinasti Abbasiyah dan Muluk Tawaif    di dinasti Umayyah II Andalusia. Wilayah-wilayah jauh Abbasiyah seperti        di Afrika Utara,    dan  di  India  minta    merdeka    dari Abbasiyah. Tuluniyah dan Fatimiyah di Mesir, serta Idrisi di Maroko dan Sabaktakim di India mengumumkan merdeka  dan  lepas  dari kekuasaan Pusat Abbasiyah. Pada fase ini perkembangan ilmu masih berjalan meskipun sudah menurun. Mahasiswa dari Eropa tetap masih  belajar  di  pusat pusat peradanIslam baik Di Bagdad maupun di Andalusia masih  di  ramaikan  dengan kegiatan belajar mengajar. Karya-karya monumental dari Muhammad al-khawarizmi, al-gibra, al-jabar dalam bidang matematika  dan  logaritma  serta  karya ad Dawa, al-Qonun fil Tbb, asy syifa dari ilmuan Umayyah Andalusia seperti Ibnu Sina, Ibnu Zuhr mash menjadi idola para pelajar Eropa untuk mempelajarinya.

4) Fase keempat tahun 447H -590H = tahun 1055M – 1194 M

Dalam sejarah fase keempat ini disebut dengan fase kekuasaan bani Saljuk atau dalam sejarah sering juga disebut juga dengan nama fase pengaruh Turki kedua. Kegiatan ilmu pengetahuan masih berjalan seperti yang dikebangkan oleh Bani Abbasiyah dan Umayyah di Andalusia, meskipun bersifat konserfatif atau berjalan di tempat. Di wilayah Islam seperti Mesir telah berkobar perang salib mengahadapi kaum nasrani yang berlansung selama 2 abad. Menarik untuk dicermati dalam sejarah bahwa, orang-orang Nasrani pada waktu itu selain berperang dengan umat Islam dalam perang salib, mereka juga belajar di universitas-universitas Islam yang masih bertahan dengan proses belajar mengajar.

5) Fase kelima tahun 590H -656H = tahun 1194M- 1258M

Fase ini dikenal dalam sejarah perkembangan Islam sebagai fase lemah sampai fase hancurnya kekuasaan Islam Abbasiyah. Setelah terjadi disintegrasi dan perang salib dalam wilayah Islam, maka kekuasaan Islam Abbasiyah di Bagdad maupun kekuasaan Umayyah II di Andalusia semakin menurun. Bahkan pada tahun 1258 M Abbasiyah diserang dan dibombarbir oleh kekuasaan  Mongol dengan membakar sekian ilmu pengetahuan  serta  membakar  mati  para ilmuan Islam Abbasiyah dengan cara membakar perpustakaan, sekolah- sekolah serta membakar fasilitas-fasilitas umum Serta pusat Peradaban Islam yang ada di wilayah Andalusia diserang dan dihancurkan oleh dua kerajaan nasrani Aragon dan Castelia, maka lengkaplah kehancuran Islam pada fase ini. Kondis peradaban islam di Bagdad pada saat itu hancur lebur, dua sungai yang besar yang membela kota Bagdad, Trigis dan Eufhart hitam beberapa bulan lantara dibuangnya abu pembakaran peradaban itu ke dua sungai terebut. Setelah kejadian tragis itu maka kekuasaan Islam yang selama 5 Aabad lebih membangun peradaban dengan susah payah, telah takluk dan hancur binasa, suramlah peradaban Islam, lesuhlah wajah peradaban Islam dan berahirlah kegemerlapan peradaban Islam.

Sumber : Kementerian Agama Republik Indonesia

Baca Juga : Khilafah (632-1922 Masehi)

Yuk bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.