Surat untuk Presiden Macron dari Sophie Petronin, Misionaris Katolik Prancis yang Baru Masuk Islam

Emmanuel Macron / Idtoday.co
Emmanuel Macron / Idtoday.co

Sebuah pesan dilayangkan kepada presiden Prancis Emmanuel Macron, surat ini diduga berasal dari Sophie Petronin, seorang wanita misionaris yang melakukan pekerjaan kemanusiaan, asal Prancis yang ditawan selama 4 tahun di Mali.

Surat ini disampaikan dalam bahasa Arab dan Prancis seperti dikutip dari situs La Nation pada Rabu 4 November yang berjudul La lettre de l’ancienne otage au Mali (Sophie Myriam Petronin) à Emmanuel Macron.

Pesan ini berbunyi,

Tuan Macron,

“Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada dia yang mengikuti petunjuk”

Saya mendengar bahwa Anda merasa heran bagaimana kisah seorang Sophie Petronin, penganut Katolik berkulit putih asli Prancis, bisa masuk Islam, setelah 75 tahun sebelumnya menganut agama Kristen dan dalam kurun waktu 4 tahun ditahan bersama orang-orang Muslim! Izinkan saya menjelaskannya kepada Anda dalam bahasa sederhana yang mudah dipahami.

Tuan Macron!

Ya benar, saya pernah menjadi tawanan orang-orang Muslim.

Namun, tak sekalipun mereka pernah melecehkan saya, dan hubungan mereka dengan saya seluruhnya bertabur rasa hormat dan harga diri. Mereka memberi saya makan dan minum, dan bahkan, meskipun aslinya mereka berada dalam kekurangan, mereka tetap mendahulukan diri saya dibanding diri mereka sendiri, dan tetap menghormati privasi saya hingga saya dibebaskan.

Tak seorang pun dari mereka pernah melakukan kekerasan verbal atau fisik pada saya, tak sekalipun jua mereka menghina agama saya, Yesus maupun Bunda Maria, semoga keselamatan dilimpahkan kepada mereka berdua, namun tidak sebagaimana mereka, penghinaan itu justru Anda lakukan kepada Nabi Muhammad, semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpah atasnya.

Mereka tidak memaksakan Islam kepada saya, akan tetapi saya menyaksikan bagaimana perilaku mereka, mereka adalah orang-orang yang menyucikan diri dengan air, menghadap kepada Tuhannya melalui salat lima kali dalam sehari dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Tuan Macron!

Betul memang, kaum Muslim di Mali adalah orang-orang miskin, negaranya juga miskin. Mereka tidak punya Menara Eiffel dan tidak tahu-manahu parfum Prancis sebagaimana kita, tetapi mereka lebih murni dari kita, baik tubuh maupun hati mereka. Betul memang, mereka tidak punya mobil mewah dan tidak tinggal di apartemen-apartemen yang menjulang tinggi, tetapi cita-cita mereka jauh melampaui awan, dan keyakinan mereka lebih kokoh dibanding jajaran gunung-gunung.

Tuan Macron!

Pernahkah sekali saja Anda mendengar Al-Qur’an yang dibacakan dengan begitu jelasnya oleh mereka, dalam salat-salat mereka, kala pagi dan petang?

Betapa indahnya bacaan tersebut! Meski Anda tidak mengerti apa maknanya, tubuh Anda akan bergetar dan bergetar lagi, tubuh Anda akan gemetar saat Anda mendengarkan mereka mengucapkan firman Tuhan yang telah mereka hafalkan di kepala-kepala mereka!

Saat Anda secara tidak sadar merasakan dan menyadari bahwa ini bukanlah ucapan manusia, tetapi sebuah melodi surgawi yang turun dari Langit, diri Anda akan berkeinginan dengan sendirinya untuk mencoba mencari tahu makna dari apa yang mereka lantunkan, pagi dan petang, dalam gita surgawi mereka!

Tuan Macron!

Pernahkah sekali saja Anda menyungkurkan wajah Anda karena Tuhan dan menjadikan kening Anda menyentuh tanah sembari berbisik kepada Tuhan perihal segala permasalahan Anda dan berterima kasih kepada-Nya atas segala berkat yang diberikan-Nya, sebagaimana yang mereka lakukan? Pernahkah Anda merasakan saat Tuhan begitu dekat dengan Anda dan Anda begitu dekat-Nya?

Tuan Macron!

Wanita-wanita disana memang hitam layaknya arang, tetapi hati mereka seputih susu. Pakaian mereka memang sederhana, tapi di mata masyarakat mereka, mereka adalah yang hal terindah di dunia ini. Mereka tidak bergaul dengan lelaki asing, tidak pula bercampur dengan mereka dan tidak memasukkan lelaki asing ke dalam rumah-rumah mereka, jika suami sedang tidak berada di rumah. Mereka tidak mabuk, tidak berjudi, dan tidak berzina!

Tuan Macron!

Kaum Muslim di sana percaya pada semua utusan Tuhan, dan bahkan mereka mencintai Yesus, yang juga merupakan utusan Tuhan, dengan cinta yang lebih dibanding kita mencintainya, termasuk ibundanya, Maria, yang namanya saya ambil sebagai nama depan saya karena cinta dan penghormatan kaum Muslim yang begitu besar untuk beliau dan bagaimana posisi beliau di mata kaum Muslim.

Tuan Macron!

Anda mungkin bertanya kepada saya, “Bagaimana ceritanya mereka bisa mencintai Yesus lebih dari kita dalam mencintainya?”

Perkenankan saya menjawab: – Benar, mereka mencintai Yesus lebih dari kita dalam mencintainya, karena negara kita telah menumpahkan darah orang yang tidak bersalah atas nama Kristus, memporak-porandakan tanah tempat tinggal mereka dan menjarah kekayaan mereka.

Kita menggunakan dan memanfaatkan apa yang kita ambil dari negeri-negeri Muslim, dan dengan berbagai cara kita berusaha mengambil upeti dari penguasa mereka, memaksakan proyek konsumsi komersil yang tidak membangun kepada mereka, menyebarkan kerusuhan di tengah-tengah mereka, dan kemudian menjual senjata kepada mereka agar membunuh satu sama lain. Tapi, kita tetap memperlakukan mereka sebagai teroris, meskipun mereka tahu bahwa sebenarnya kitalah terorisnya, bukan mereka!

Namun, dari kesemuanya ini, mereka tetap memperlakukan saya dan sandera lainnya dengan akhlak Yesus yang telah kita ajarkan di gereja-gereja, tetapi sayangnya, tidak benar-benar kita terapkan!

Tuan Macron!

Yang terakhir… Saya tidak ingin mengumumkan ke-Islaman saya di Mali, agar saya tidak dianggap telah masuk Islam karena paksaan dan ancaman. Saya memutuskan mengumumkan ke-Islaman saya setelah tiba di tanah Prancis agar saya bisa menyampaikan pesan Islam kepada jutaan orang Prancis dan Eropa; sebagaimana juga kepada seluruh umat Kristen dan orang-orang ateis!

Tuan Macron!

Agama ini, Islam yang kalian perangi, siang dan malam, telah menggerakkan hati dan menggelayuti pikiran saya. Saya tidak kembali lagi ke negara ini hanya karena berharap kemewahan beserta keindahannya, dan merasa lebih indah dari Mali yang malang dan sederhana. Lebih dari itu semua, saya memutuskan untuk kembali ke negara ini, untuk mengajak keluarga dan orang yang saya cintai untuk masuk Islam, karena saya ingin mereka turut merasakan manisnya menyembah Dia Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, sebagaimana yang saya rasakan, yang tiada Tuhan selainNya, yang darinya kita berharap kebaikan di dunia akhirat.

Saya mengajak Anda kepada Islam, dan mengakhiri sangkaan-sangkaan tentang agama agung ini, yang sudah dinubuwatkan oleh semua nabi dan rasul semenjak zaman nabi Adam, yang kemudian disampaikan kembali oleh Yesus dan ditutup oleh manusia terbaik di muka bumi ini, Muhammad, semoga sholawat dan salam senantiasa terlimpah atasnya.

Sophie Pétronin

Sophie Petronin dibebaskan pada Kamis (8/10) dan tiba di bandara Villacoublay Barat Daya Paris pada hari Jumat. Di mana dia disambut oleh Presiden Emmanuel Macron.

Petronin keluar dari pesawat dengan kepala tertutup kain seperti yang dilakukan wanita Muslim. Dia melambai kepada semua orang yang hadir di bawah sana dari dalam pesawat, turun dan bertemu Macron tepat di tangga pesawat,

Ia berhenti sebentar, melihat wajahnya dan berkata dalam bahasa Prancis, “Saya telah masuk Islam, saya bukan lagi Sophie Petronin seperti sebelumnya tapi sekarang saya Maryam Petronin.

Saya tidak mengumumkan ini sebelumnya di Mali, agar orang tidak salah paham bahwa saya mungkin dipaksa masuk Islam. Saya ingin mengumumkan ini hanya ketika saya bebas atas kemauan saya sendiri dan penculik saya telah memperlakukan saya dengan baik.”

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber : Kompas

Yuk bagikan sebagai sedekah…

About Auther:

Info Biografi

Beasiswa Sekolah Kedinasan IPDN STAN AKPOL Dll
Hello. Add your message here.