Bijak Mendidik Anak di Era Milenial : Kenali Anak Anda Sekarang Juga Karena Setiap Anak Adalah Unik

Yuk bagikan infonya...

Anak dan Gadget / Oknews.co.id

Bijak Mendidik Anak di Era Milenial menjelaskan tentang cara mengasuh dan mendidik anak supaya menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan mempunyai karakter kuat tanpa kekerasan. Buku ini juga mengajak para orangtua untuk bersikap terbuka dengan ilmu baru mengenai pola asuh yang bisa memberikan hasil lebih baik terhadap anak.

Siapa Penulis Buku Ini?

Penulis adalah seorang ibu dari dua anak usia sekolah dasar. Ia sangat mencintai dunia membaca dan menulis terutama seputar pengembangan diri dan pengasuhan anak.

Penulis lahir pada 15 Juni dan merupakan lulusan dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Selain buku ini, beberapa karya lain juga masih dalam proses redaksi dan cetak. Sebelumnya Ia juga aktif menuangkan idenya dalam bentuk artikel dan tulisan lepas di berbagai media.

Untuk Siapa Buku Ini?

  1. Para orangtua maupun calon orangtua yang ingin mempelajari cara mengasuh dan mendidik anak di era milenial.
  2. Siapa saja yang ingin mengembangkan diri tentang ilmu parenting.
  3. Siapa saja yang ingin belajar membentuk disiplin anak tanpa kekerasan.
Bijak Mendidik Anak di Era Milenial
(pimtar.id)

Cara bijak membentuk kepribadian anak yang santun dan berkarakter

Memiliki anak dan menjadi orangtua adalah anugerah terindah dari Sang Pencipta. Namun seiring hal tersebut, terdapat tanggung jawab besar bagi orangtua untuk mendidik dan mengarahkan anak menjadi pribadi yang baik dan berkarakter. Apalagi pola asuh di era modern saat ini yang semakin banyak tuntutan.

Kegagalan pola asuh dapat mempengaruhi kepribadian anak, di mana tingkah laku anak cenderung meniru bagaimana orangtuanya bersikap terhadapnya. Seperti saat anak bersikap kasar atau menentang yang merupakan akibat dari perlakuan yang diterima dalam kesehariannya di rumah.

Rangkuman buku ini mengajak para orangtua untuk bersama mengembangkan diri dalam mengasuh dan mendidik anak. Sehingga anak memiliki kesadaran sendiri untuk berperilaku baik dalam keluarga maupun lingkungannya.Tanpa adanya sikap perlawanan maupun kekerasan.

Hal-hal menarik yang akan Anda pelajari dari buku ini antara lain:

  1. Bagaimana mengetahui cara terbaik dalam mengasuh anak Anda;
  2. Bagaimana mengembangkan karakter terbaik anak;
  3. Apa yang harus dilakukan orangtua untuk mendisiplinkan anak;
  4. Mengapa Anda perlu membentuk disiplin anak tanpa kekerasan
  5. Bagaimana menjadi single parent yang bahagia.

Kehadiran si kecil di tengah keluarga seakan memberi kehangatan baru dalam rumah. Di saat yang sama tugas baru sebagai orangtua pun datang dengan setumpuk tanggung jawab. Orangtua bertanggung jawab membesarkan anak supaya memiliki akhlak, kecerdasan, dan kemandirian yang baik.

Anak lahir tanpa buku panduan, seperti saat Anda membeli barang elektronik, dimana selalu ada petunjuk cara merakit atau mengoperasikannya. Anda dituntut untuk bisa mempelajarinya sendiri hingga menemukan cara paling tepat.

Ayah dan Ibu seharusnya saling bahu-membahu mengasuh dan mendidik anak, karena bukan lagi zamannya seorang ayah hanya mencari nafkah dan Ibu menjadi pengasuh.

Sebagai orangtua baru, seringkali muncul kebingungan dan kekhawatiran akan apa yang terbaik bagi anak dan kemampuan untuk melindunginya.

Kebingungan tersebut umum terjadi dan tidak jarang berbenturan dengan emosi bahagia memiliki buah hati. Sebagian anak memang terlahir dengan sifat bawaan tertentu, seperti keras kepala atau sensitif. Namun, kuat tidaknya sifat tersebut dipengaruhi oleh pola asuh orangtuanya.

Tidak ada anak yang nakal dan jangan pernah melabeli anak dengan sebutan negatif lainnya. Karena apa yang dikatakan dan dilakukan orangtua terhadap anak akan diyakininya sepanjang hidupnya.

Anak adalah peniru ulung yang merupakan refleksi dari perilaku orangtua. Jika Anda bertanya, “kenapa anak saya melawan?”, tanyakan terlebih dahulu pada diri sendiri, “Apakah benar saya menanamkan benih pemberontakan?”

Terdapat tiga jenis pola asuh orangtua dalam mendidik anak, yaitu pola asuh demokratis, otoriter, dan permisif. Setiap jenis tersebut menghasilkan karakteristik berbeda pada anak.

Pola asuh demokratis yaitu jenis pengasuhan yang mendahulukan kepentingan anak tetapi dalam kontrol orangtua. Dalam hal ini, anak akan belajar mengontrol diri, mandiri dan membina hubungan baik dengan orangtuanya.

Pola asuh otoriter merupakan jenis pola asuh yang cenderung menuntut anak untuk memenuhi standar orangtua. Pendekatan ini biasanya disertai dengan ancaman dan hukuman ketika anak tidak menghiraukannya. Pola asuh ini akan menghasilkan pribadi anak yang pemberontak dan suka melanggar aturan.

Sedangkan pola asuh permisif adalah kebalikan dari otoriter, orangtua cenderung memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan apapun dengan kontrol lemah. Pola asuh ini akan menghasilkan anak yang manja dan cenderung agresif saat tidak dituruti kemauannya.

Selain itu, terdapat jenis pola asuh lain yang umumnya terjadi pada masyarakat perkotaan yaitu pola asuh menelantarkan. Dimana orangtua tidak memberikan waktu berkualitas bersama anak-anaknya. Pendekatan ini akan menghasilkan anak yang kurang bertanggung jawab, tidak punya inisiatif, dan suka mencari perhatian.

Dalam sebuah pernikahan, sering kali kita mendengar “tidak boleh ada dua nahkoda dalam satu kapal” yang sering kali disalahartikan. Nahkoda disini bukanlah dominasi antara suami atau istri, namun tentang kesepakatan bersama orangtua dalam pengasuhan anak.

Membangun keluarga seperti halnya menjalankan perusahaan, dimana terdapat kesepakatan yang harus dijalankan bersama.

Pembagian tugas rumah tangga serta penerapan pola asuh anak juga demikian, harus disepakati bersama. Sehingga tidak membingungkan dan mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Ketika seorang Ayah menggunakan pola asuh otoriter, sementara Ibu menggunakan pola permisif, maka anak akan cenderung memanfaatkan keadaan ini untuk berpihak pada salah satu yang menguntungkan.

Hal itu, bukan saja akan merusak citra atau cara pandang anak terhadap salah satu orangtuanya, juga akan menyulitkan anak dalam pengembangan karakter terbaik yang dimiliki.

Orangtua bisa saja tidak satu kata dalam beberapa aturan mengasuh anak. Namun jangan pernah menunjukkan sikap ini di depan anak secara langsung. Anda bisa membicarakan berdua saja dalam keadaan yang santai.

Buatlah kesepakatan yang bersifat wajib dan fleksibel untuk diterapkan. Jika masih ada yang mengganjal, bicarakanlah kembali. Inilah yang dimaksud proses belajar menjadi orangtua.

Belajar parenting memang tidak ada sekolahnya, Namun Anda bisa belajar dari berbagai sumber seperti buku, internet, seminar maupun pengalaman. Sumber yang berbeda-beda memang terkadang membingungkan orangtua. Oleh karena itu, kita harus terus belajar untuk menemukan pola asuh yang terbaik bagi anak.

“Kompak dan fleksibel dalam penerapan pola asuh dan peran merupakan kunci dari keberhasilan mendidik anak yang berkarakter.” ~ Astrid Savitri 

Setiap orangtua selalu ingin mengajarkan tanggung jawab dan menunjukkan bahwa mereka menyayangi anaknya. Namun, beberapa situasi kadang memaksa Anda untuk melakukan hal yang tidak disukai anak.

Seperti memberi hukuman atau ancaman. Hal ini hanya akan membuatnya ketakutan dan berperilaku buruk. Orangtua sebaiknya mengingatkan anak dengan memberi penjelasan logis sebab akibat yang akan diterima atas tindakannya.

Berbicara pada anak tidak bisa disamakan dengan bicara pada orang dewasa. Ketika anak melakukan kesalahan, menceramahinya panjang lebar hanya akan membuatnya bingung dan merasa tertuduh.

Penting untuk membuat anak nyaman saat berbicara dengan Anda. Merendahkan nada bicara dan pilihan kata yang tepat merupakan kunci komunikasi sehat dan terarah. Pastikan anak akan mendengarkan bukan hanya mendengar.

Disiplin adalah cara terbaik untuk menunjukkan sikap dan tingkah laku yang bisa diterima atau tidak. Mendisiplinkan anak dengan banyak larangan hanya akan membuatnya frustasi, apalagi jika tidak dikomunikasikan dengan baik.

Berikan penjelasan pada anak kenapa “jangan” dan “tidak boleh”. Saat anak membanting mainannya, katakan bahwa mainan akan rusak jika dibanting, bukan malah mengancam untuk tidak boleh bermain atau lainnya.

Anak kecil melakukan kesalahan merupakan hal yang wajar, karena begitulah cara mereka belajar. Ketika Anda sedang berada dalam keadaan yang memancing amarah, cobalah bersikap tenang dan tidak terpengaruh dengan keadaan.

Ambillah sedikit waktu untuk menenangkan diri seperti pergi ke ruangan lain hingga perasaan membaik. Baru kemudian memperingatkan anak dengan nada rendah dan tenang. Hal ini bisa lebih diterima anak.

Orangtua yang memiliki anak lebih dari satu, tidak jarang menyaksikan drama pertengkaran anak. Bijaksanalah menyikapi hal tersebut dengan tidak ikut terperangkap didalamnya.

Biarkan anak belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan bertindak atau mengatakan apapun sebelum anak menjadi tenang. Namun Anda juga harus tetap mengawasinya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Hukuman adalah pernyataan bahwa kesalahan ada pada anak, sedangkan disiplin adalah pernyataan bahwa kesalahan ada pada sikap atau tindakan yang dilakukan anak.” ~ Astrid Savitri  

Apa yang Anda lakukan ketika mendapat laporan anak Anda melakukan kekerasan pada temannya? Marah? Malu? Atau justru menyalahkan anak?

Sebelum melakukan semua itu, cobalah evaluasi diri apakah Anda pernah melakukan kekerasan di depan mereka?

Ketika anak mulai memukul, Anda harus menyadari bahwa ada pola asuh yang salah dalam penerapannya terhadap anak. Akui hal tersebut pada diri sendiri. “Ya saya masih kesulitan mengarahkan anak dalam mengungkapkan emosinya, saya akan memperbaikinya”.

Hal itu akan memudahkan bagaimana seharusnya bersikap dan membantu anak memperbaikinya.

Anak memiliki kemampuan merekam informasi yang luar biasa. Anak-anak yang sering mendapatkan hukuman fisik atau menyaksikan bentuk kekerasan sebagai luapan kemarahan cenderung berperilaku memberontak. Ia belajar satu hal bahwa kalau ia marah, ia boleh memukul orang lain.

Jika anak sudah mulai melawan atau memukul, hentikan siklus ini. Komunikasikanlah dengan tenang bahwa kemarahan dapat dilampiaskan tanpa kekerasan. Buatlah anak untuk bisa mengekspresikan perasaanya kepada orangtua dengan nyaman apa yang sedang mereka rasakan. Sehingga lebih mudah kita untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Anak korban kekerasan menyimpan kemarahan dalam dirinya. Memang tidak mudah untuk menghentikan perilaku memukul tersebut, perlu waktu dan kesabaran.

Diskusikanlah dengan anak konsekuensi yang akan diterima jika mengulanginya lagi. Selain itu, Anda juga bisa mencarikan alternatif untuk mengekspresikan kemarahannya. Misalnya mengajak untuk menulis kekesalannya dalam buku, menggambar atau membaca komik yang lucu.

Sebagai orangtua milenial, sudah bukan zamannya melakukan kekerasan dalam mendidik anak. Contoh sederhana ketika Anda menyuruh anak tidur siang, namun ia tidak mendengarkannya. Tidak perlu ada jejeritan, bentakan atau kekerasan fisik.

Anda cukup memperingatkan dengan halus namun tegas. Pembangkangan seperti ini biasanya hanya untuk menguji Anda saja dan bukan maksud untuk tidak mematuhi orangtua.

Ada tiga keadaan yang membuat seseorang menjadi single parent, yaitu pasangan meninggal, hubungan jarak jauh, dan perceraian.

Dalam situasi tersebut, orangtua tunggal memiliki tugas ganda sebagai ayah dan Ibu sekaligus. Tidak bisa dipungkiri, bahwa tanggung jawabnya pun berubah menjadi lebih berat.

Kekhawatiran mungkin juga terjadi akan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan anak, baik kasih sayang maupun keuangan. Anda dituntut untuk mempunyai kemampuan manajemen waktu yang baik antara bekerja, mengurus anak, dan memenuhi kebutuhan pribadi.

Orangtua tunggal bisa tetap hidup bahagia dengan memfokuskan perhatian pada anak-anak, yang otomatis menjadi pusat kehidupan setelah tidak ada sosok pasangan. Anak-anak biasanya akan merasakan apapun yang terjadi pada orangtuanya.

Oleh karena itu, cobalah menikmati hidup agar Anda dan anak bisa merasakan kebahagiaan.

Menjadi single mom akan sedikit lebih berat daripada single dad. Penilaian negatif dari orang luar terkadang tidak bisa kita hindari. Kunci menjadi single mom yang bahagia adalah pada kemampuan pengaturan yang baik serta pengambilan keputusan yang matang.

Langkah pertama yang harus disiapkan adalah belajar mengendalikan trauma. Selanjutnya adalah kemandirian, terlebih soal keuangan.

Berbeda dengan single mom yang lebih banyak menerima tekanan dari lingkungan, single Dad justru mendapat dukungan lebih banyak orang dalam pengasuhan anak dan pergi bekerja.

Kunci sukses single dad adalah sikap keterbukaan menerima bantuan dari orang lain. Ia sebaiknya mencari lebih banyak informasi mengenai pengasuhan anak dan menjalin keakraban dengan anak agar perannya tetap berpengaruh.

Terkadang anak memang membutuhkan sosok yang hilang, entah ayah atau ibu. Bantulah mereka dengan mencarikan figur pengganti ayah/ibu yang mempunyai kedekatan secara emosional yang baik. Seperti kakek/nenek atau bahkan paman/bibi. Sehingga anak bisa mengidentifikasi sosok yang hilang selama ini.

  1. Cara terbaik dalam mengasuh anak yaitu dengan terus belajar dan mengembangkan diri mengenai ilmu parenting.
  2. Karakter terbaik anak bisa tumbuh dari pola asuh yang kompak dari orangtua. Orangtua bersama-sama menerapkan pola asuh yang cocok yang sudah disepakati bersama.
  3. Mengajarkan anak tanggung jawab sejak dini adalah cara membentuk disiplin anak mempunyai karakter yang baik.
  4. Membentuk disiplin anak tanpa kekerasan harus dimulai dari diri sendiri. Bagaimana kita mengendalikan emosi di depan anak dan bagaimana kita tegas dalam menerapkan konsekuensi yang kita berikan.
  5. Memiliki kemampuan mengatur waktu yang baik, menikmati hidup serta keterbukaan menerima bantuan orang lain adalah kunci menjadi single parent yang bahagia.

Sumber : Pimtar

Yuk bagikan di sosmed ayah bunda sebagai sedekah ilmu dan informasi… Terima kasih  


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

BUKU TES SEKOLAH KEDINASAN TNI POLRI CPNS 2024
Hello. Add your message here.