Mendidik Anak Di Era Digital: Kiat Menangkal Efek Buruk Teknologi Terhadap Anak

Yuk bagikan infonya...

(Google.com)

Mendidik Anak Di Era Digital menjelaskan secara detail bagaimana dunia digital bisa merusak pola pikir anak-anak. Sebagai solusi, penulis memberikan panduan praktis untuk mengembangkan kemampuan anak secara sehat di era digital. Sebagai pendidik maupun orang tua, tentu Anda tidak boleh melewatkannya.

Siapa Penulis Buku Ini?

Yee-Jin Shin merupakan pengajar pada Jurusan Psikiatri Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, Fakultas Kedokteran Universitas Yonsei, Korea Selatan sejak tahun 1998.

Setelah 20 tahun lebih menjadi psikiater dan praktisi pendidikan anak di Korea Selatan, Shin  sering menjumpai anak-anak bermasalah di kliniknya akibat penggunaan perangkat digital.  Buku ini merupakan hasil pengalamannya selama praktik.

Baca Juga : Ringkasan 50 Buku Pengembangan Diri Terbaik

Untuk Siapa Buku Ini? 

  1. Para pendidik dan pemerhati dunia anak
  2. Para pekerja di industri teknologi digital
  3. Para orang tua dan calon orang tua yang khawatir dengan pengaruh teknologi digital terhadap perkembangan mental anak-anaknya
(Gramedia.com)

Baca Juga : Promo Terbaru KPR Bank BSI 2024 Margin Murah Hanya 3% Cek Cicilannya di Sini

Tips dan trik mendidik anak-anak di era digital

Jika Anda menganggap perangkat digital adalah media belajar yang tepat untuk anak-anak (bisa membuat mereka lebih tenang dan tidak rewel, atau membantu anak menguasai bahasa asing lebih cepat serta belajar banyak hal lebih mudah) maka sebaiknya Anda membaca artikel ini. Setelah membacanya, pendapat Anda nanti mungkin akan menjadi sama sekali berbeda.

Seperti apa sebenarnya hitam putih dunia digital serta bagaimana hubungannya dengan perkembangan kejiwaan anak? Dan yang lebih penting, bagaimana strategi orang tua untuk mendidik anak-anak di era digital ini? Itulah beberapa bahasan utama buku ini.

Dalam buku ini Anda juga akan mempelajari beberapa hal menarik lainnya seperti:

  • Kenapa teknologi digital bisa membuat anak-anak matang semu;
  • Apa bentuk kencanduan yang umum terjadi pada anak perempuan dan laki-laki;
  • Apa itu “otak popcorn” dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan anak;
  • Bagaimana perangkat digital bisa merusak otak anak Anda; dan
  • Apa yang dimaksud dengan digital parenting dan bagaimana praktiknya.

Baca Juga : Cari Kredit Mobil Syariah? Ajukan di Sini Sekarang

Setiap hari seorang anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan diri. Saat usia puber, anak membutuhkan bimbingan orang tua karena seringkali mereka belum mampu melakukan pengendalian emosi serta dorongan dari dalam diri.

Timbulnya perilaku destruktif seorang anak bisa dihindari jika orang tua, guru dan lingkungan melakukan pencegahan dengan mencoba memahami mengapa mereka bersikap demikian.

Anda juga harus membantu anak untuk mengembangkan kecerdasan emosional (EQ), selain kecerdasan intelektualnya (IQ). Banyak orang tua yang hanya fokus pada IQ saja. Padahal, anak mampu memahami suasana hatinya dengan baik jika memiliki EQ yang memadai.

Dengan perkembangan zaman, anak mendapat asupan gizi yang lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Tidak ada masalah dalam perkembangan fisik, namun masalahnya terkadang jiwanya tidak berkembang sebaik tubuhnya.

Jika perkembangan fisik tidak dibarengi dengan perkembangan mental, maka anak akan tumbuh besar tanpa kematangan jiwa. Inilah yang disebut “matang semu”.

Anak yang matang semu cenderung tidak tahu sopan santun, tidak memiliki rasa bersalah serta cenderung impulsif. Dalam situasi normal mereka terlihat biasa saja, namun akan terlihat berbeda saat mereka mengalami konflik dengan orang di sekitarnya. Tidak sedikit mereka yang sudah berusia dua puluh tahunan namun masih berkelakuan seperti anak usia 5-6 tahun dalam mengatasi konflik.

Ciri-ciri dari anak matang semu antara lain:

  1. Mudah marah dan berkata kasar untuk hal-hal yang sepele;
  2. Berbuat sesuka hati tanpa memedulikan perasaan orang disekitarnya;
  3. Tidak merasa cocok dan nyaman saat bergaul dengan orang lain serta lebih senang menyendiri;
  4. Suka memukul, mengganggu dan menjahati teman sebaya;
  5. Tidak bisa membuat keputusan yang tepat secara moral dan mengabaikan peraturan atau tata tertib yang berlaku; dan
  6. Tidak menghormati dan memedulikan perasaan orang lain.

Anak matang semu terbentuk dari kombinasi berbagai faktor, antara lain akibat terpapar perangkat digital terlalu banyak, tidak diperhatikan orang tua secara maksimal saat pertumbuhan serta tidak diajari cara mengontrol emosi.

Semakin sering seorang anak terpapar perangkat digital maka semakin besar juga risikonya menjadi matang semu.

BELI DI SINI

Ada banyak sebab yang memicu kecenderungan seorang anak menderita autisme. Belakangan, perangkat digital disebut sebagai penyebab utama. Seorang anak yang tidak memiliki kedekatan emosi dengan orang tua dan lingkungan karena terpapar perangkat digital sejak dini, akan lebih merasa nyaman dengan perangkatnya dari pada bersosialisasi dengan orang di sekitarnya

Mengenalkan perangkat digital pada usia dini memengaruhi struktur serta fungsi otak, membuat perkembangan otak anak menjadi tidak sempurna dan daya kontrol melemah.

Dampak buruknya makin besar pada anak-anak usia balita.Pada usia tersebut,anak memerlukan stimulasi yang sesuai dengan tumbuh kembangnya, disamping lingkungan pengasuhan dan perhatian yang cukup. Itu semua tidak bisa digantikan dengan perangkat digital.

Perangkat digital juga bisa merenggut seluruh pengalaman berharga yang seharusnya dialami seorang anak sesuai usianya. Seiring perkembangan fisiknya, anak-anak juga perlu merasakan pengalaman kejiwaan dan sosial yang harus dirasakannya secara bertahap. Inilah yang seringkali terenggut dengan hadirnya perangkat digital.

Hidup memang menjadi lebih mudah dengan kehadiran teknologi digital, tapi tingkat ketergantungan yang begitu tinggi justru akan membuat anak-anak tak bisa menikmati hidup mereka lagi.

Pada kondisi ekstrem, mereka akan tergantung dengan sangat parah, seolah tidak dapat dipisahkan. Ketergantungan tersebut akan menjadikan pola pikir anak-anak mulai terpengaruh. Mental mereka juga akan rusak jika dibiarkan terlalu fokus ke sana.

Alasan kecanduan perangkat digital berbeda-beda berdasarkan jenis kelamin. Bagi anak laki-laki, game online membuat mereka merasa penuh percaya diri. Sedangkan anak perempuan lebih tergantung pada media sosial, di mana mereka cenderung ingin mengukuhkan nilai diri dan diakui identitasnya di dunia maya.

Hasil penelitian Kementerian Kesehatan Gender dan Keluarga di Korea Selatan pada tahun 2013 menunjukan fakta bahwa ponsel cerdas menjadi faktor risiko yang lebih berbahaya bagi anak-anak dibandingkan dengan internet. Jumlah anak yang berisiko kecanduan ponsel cerdas tiga kali lipat lebih banyak dari pada anak yang kecanduan internet.

Apakah Anda memperhatikan betapa tenangnya anak ketika disodori perangkat digital?  Saat menggunakan perangkat digital, anak terpapar stimulus yang kuat pada indra penglihatan dan pendengarannya. Saat stimulus berlangsung dan ada penampilan baru yang menarik, setiap kali pula anak tak bisa mengalihkan perhatiannya.

Akibat sering mendapat stimulus seperti itu, anak tidak akan memberikan perhatian pada permainan-permainan yang tidak bisa memberikan stimulus yang sama kuatnya.

Sebagai akibatnya lama-lama otak anak akan menjadi “otak popcorn” (popcorn brain). Ini adalah kondisi otak yang terbiasa dengan layar perangkat digital yang senantiasa memberikan stimulus kuat sehingga otak seperti pop corn yang meletup-letup saat matang.

Anak akan mencari hal-hal yang semakin lama semakin brutal, impulsif, cepat dan menarik. Semakin sering anak terpapar perangkat digital, kemungkinan besar mereka semakin sulit dalam melalui perkembangan emosi, konsentrasi serta daya pikir.

Karena itu, beri kesempatan bagi anak untuk merangsang berbagai macam sensor motorik lewat pengalaman nyata. Lebih penting lagi, fasilitasi mereka untuk menjalin ikatan emosional dengan orang tuanya.

Pengaruh negatif perangkat digital terhadap perkembangan otak anak-anak telah dibuktikan pula secara ilmiah.

Hal tersebut telah diungkapkan pertama kali oleh saluran CNN Amerika Serikatpada 23 Juni 2011. Disebutkan bahwa jika seorang anak terbiasa melakukan banyak hal sekaligus di perangkat digitalnya (multitasking), struktur otak cenderung tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata.

Multitasking membuat perkembangan daya konsentrasi anak juga terhambat sehingga tidak dapat menyerap pelajaran dengan baik. Padahal, daya konsentrasi anak mulai berkembang sejak usia tujuh tahun.

Sedangkan pada usia 9-10 tahun, kemampuan berpikir abstrak menjadi standar kemampuan belajar dan kematangan anak, sementara perangkat digital justru membuat kemampuan berpikir abstrak anak tidak berkembang.

BELI DI SINI

Sikap tiap anak dalam menghadapi perangkat digital sebenarnya tidak sama. Ada anak yang sangat menyukai perangkat digital, ada juga yang menanggapinya dengan biasa saja.

Karena itu, pengaruh perangkat digital terhadap anak-anak cukup bervariasi. Kepribadian anak yang berbeda memiliki kerentanan yang berbeda pula terhadap perangkat digital. Anak-anak yang rentan terhadap pengaruh perangkat digital adalah anak yang:

  • Pertama, memiliki emosi negatif;
  • Kedua, senang menyendiri; dan
  • Ketiga, mudah terdistraksi dan impulsif.

Efek negatif perangkat digital kepada anak juga bisa terjadi secara tidak langsung. Sering melihat seorang ibu yang begitu sibuk dengan perangkat digitalnya? Ia sibuk dengan telepon cerdasnya sementara sang anak dibiarkan bermain sendiri di taman. Hal ini merupakan salah satu contoh bagaimana perangkat digital bisa merusak hubungan antara ibu dan anak.

Orangtua harus menjadi teladan terlebih dahulu.Dari seorang ibu, bisa anak belajar bagaimana mengontrol emosi dan berempati.

Namun jika sang ibu merupakan pecandu perangkat digital maka ia tidak bisa memberikan pengajaran pada anaknya secara optimal. Akhirnya, kemampuan berempati anak juga akan berkurang. Ia tidak bisa mengontrol emosinya sehingga menjadi anak matang semu.

Lingkup pendidikan anak usia dini juga bisa terkena imbas perangkat digital.Perangkat digital memang bisa membantu meningkatkan ketertarikan seorang anak, namun hanya sebatas itu saja. Perangkat ini tidak bisa membuat anak berpikir secara mendalam mengenai topik yang disajikan.

Finlandia merupakan Negara dengan lingkungan pendidikan terbaik di dunia. Tapi justru di sana pengajaran huruf dan angka ditingkat prasekolah dilarang. Hal terpenting adalah melatih daya konsentrasi serta kreativitasnya.

Semakin anak merasa puas dan bahagia semakin mereka menjauh dari perangkat digital. Anak-anak yang merasa gelisah, depresi dan tidak puaslah yang cenderung mencari kesenangan melalui perangkat digital.

“Semakin anak-anak merasa puas dan bahagia dengan kehidupan mereka, semakin kecil pula kemungkinan anak-anak mengalami kecanduan perangkat digital.” ~ Yee-Jin Shin 

Dibutuhkan pola asuh yang tepat agar anak tumbuh sehat dan cerdas. Tentunya pola asuh harus sesuai dengan kepribadian, kepekaan, dan bakat anak. Karena itu, terkait dengan antisipasi dampak negatif perangkat digital, anak-anak juga memerlukan pola asuh yang disesuaikan dengan kebiasaan mereka. Inilah yang disebut digital parenting.

Hal utama dalam digital parenting adalah memberikan batasan yang jelas kepada anak mengenai hal-hal yang boleh dilakukan serta mana yang tidak boleh dilakukan saat menggunakan perangkat digital. Jika orang tua mau menerapkan pengaturan penggunaan perangkat digital, efek sampingnyaakan bisa diminimalisir.

Anda memang tidakbisa mengelak dari keberadaan perangkat digital, yang harus dilakukan adalah menggunakannya secara bijaksana. Penerapan digital parenting harus dilakukan begitu anak menerima perangkat tersebut. Buat kesepakatan terlebih dahulu baru berikan perangkat pada anak.

Pendekatan digital parenting berbeda-beda sesuai usia anak. Dengan kata lain, diperlukan penyesuaian karenaanak-anakmemiliki karakteristik dan perkembangan yang berbeda berdasarkan usia mereka.

Ada tujuh prinsip digital parenting yang harus diketahui oleh orang tua bijak. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Yang terpenting bukan”apa” jenisnya, melainkan “kapan” perlu memberikannya;
  2. Kualitas lebih penting daripada kuantitas;
  3. Tentukan sanksi ketika anak melanggar janjinya;
  4. Jelaskan alasan ditetapkannya peraturan dalam penggunaan perangkat digital;
  5. Berbagilah pengalaman tentang perangkat digital dengan anak;
  6. Libatkan seluruh anggota keluarga; dan
  7. Mintalah bantuan psikiater jika orang tua tidak bisa mengatasinya.

Ingatlah, jangan sampai anak balita Anda mengenal perangkat dgital, apa pun alasannya. Perkembangan otaknya akan menjadi tidak proporsional sehingga bisa berdampak buruk.

Arahkan pada aktivitas yang memicu perkembangan seluruh pancaindranya secara aktif. Anak-anak harus tumbuh serta mempelajari segala hal dari dunia nyata, perangkat digital justru mengacaukan proses tersebut.

Ketika anak beranjak remaja, maka anak harus diarahkan agar mampu bertanggung jawab pada penggunaan perangkat digital. Pada tahapan ini, sekedar memberikan perintah dan larangan tidaklah cukup. Diskusikan kesepakatan dengan anak sehingga ia mau menerima persyaratan yang dibuat.

Orang tua harus berhenti mendewakan penggunaan perangkat digital. Kenali perangkat sebelum membiarkan anak menggunakannya. Sesekali harus ada hari dimana tidak ada penggunaan perangkat sama sekali dan mengisinya dengan aktivitas bersama keluarga.

Hari tanpa perangkat digital merupakan salah satu cara untuk dapat menjaga kesehatan otak, mengetahui apakah kita telah terkena racun perangkat digital dan menguatkan ikatan emosional antar sesama anggota keluarga. Luangkan waktu untuk itu.” ~ Yee-Jin Shin 

  1. Anak matang semu adalah anak yang tumbuh secara fisik namun tidak secara kejiwaan akibat terpapar perangkat digital secara berlebihan.
  2. Pengalaman tidak langsung yang diberikan oleh perangkat digital menjadikan  seorang anak memiliki jiwa hampa, mengurangi kesempatan berbagi rasa dengan sesama dan menghambat perkembangan emosi dan kemampuan bersosialisasi anak.
  3. Penanganan tiap anak agar terhindar dari kecanduan perangkat digital tidak sama, tergantung pada usia.
  4. Orang tua pecandu digital akan menciptakan anak yang juga pecandu digital.
  5. Digital parenting akan berhasil jika seluruh keluarga terlibat. Semua pihak harus  mengikuti peraturan tanpa kecuali.

Sumber : Pimtar

Yuk bagikan di sosmed sahabat, sebagai sedekah ilmu dan informasi… Terima kasih 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

PEMBIAYAAN SYARIAH JAMINAN BPKB MOBIL
Hello. Add your message here.