Cara Meraih Kebahagiaan

Yuk bagikan infonya...

(Freepik)

Cara Meraih Kebahagiaan – Para cendikiawan banyak memberikan kiat atau cara untuk meraih kebahagiaan. Di antara mereka ada yang menulis 10 kiat, ada juga yang belasan bahkan juga sampai seratus cara. Namun demikian dari sekian jumlah kiat-kiat tersebut semuanya dapat dirangkum menjadi 2 hal yaitu:

1. IMAN 

Menurut al-Qur’an kunci pertama dalam meraih kebahagiaan adalah apabila seseorang beriman kepada Allah swt. Sebagaimana firman Allah dalam surah al-Tien: 6 yang artinya:

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (surah al-Tien: 6)

Ayat di atas pada dasarnya berbicara tentang kedudukan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling baik. Selanjutnya ditempatkan pada posisi yang hina (Banyak hal yang menyebabkan orang terprosok ke dalam jurang kehinaan antara lain disebabkan karena, sombong, serakah, dan terlalu mengkuti hawa nafsu mereka) sehingga menyebabkan dia menjadi sengsara. Kesalehan manusia tersebut sesungguhnya akan terjaga mana kala tetap beriman kepada Allah yang kemudian akan melahirkan takwa, dan dengan takwa itulah kemudian ia akan meraih kebahagian.

Oleh karena itu, iman merupakan kunci utama yang dapat mengantarkan seseorang memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Kata falah atau muflihun (Al-Baqarah: 1-5) di dalam al-qur’an yang juga diartikan sebagai kebahagiaan seringkali dihubungkan atau beriringan dengan kata iman (amanu). Dan di bawah ini dalam surat al-Mu’minun ayat 1-11 dijelaskan mengenai karakteristik orang-orang yang beruntung tersebut:

  1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
  2. (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya,
  3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
  4. Danorang-orang yang menunaikan zakat,
  5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,
  6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
  7. Barangsiapa mencari yang di balik itu, aka mereka itulah orang- orang yang melampaui batas.
  8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
  9. Dan orang-orang yang memelihara,
  10. Merekaitulah orang-orang yang akan mewarisi,
  11. Yang akan mewarisi syurga  mereka kekal di dalamnya. (surat al-Mu’minun ayat 1-11)

Berdasarkan ayat di atas, menurut Jalaluddin Rahmat kata aflaha adalah kata yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan. Kata Aflaha merupakan kata turunan dari akar kata falaha yang memiliki arti: kemakmuran, keberhasilan, kenyamanan, atau keadaan hidup yang senantiasa dalam kebaikan dan keberkahan.

Menurut hasil kajian Kang Jalal, di dalam Al-Quran banyak terdapat redaksi la’allakum tuflihun (dalam QS 2:189, QS 3:130, QS 3:200, QS 5: 35, QS 5:90, QS 5:100, QS 7:69, QS 8: 45, QS 22:77, QS 24:31, QS 62:10) itu menunjukkan bahwa semua perintah Allah dimaksudkan agar hidup kita bahagia dengan cara melakukan perbuatan yang dapat mengantarkan kita pada kebahagiaan. Salah satunya adalah dengan membahagiaan orang lain. Hal ini sesuai dengan hadits yang meriwatkan suatu ketika Rasul saw, ditanya tentang amal yang paling utama, beliau menjawab, “Engkau masukkan rasa bahagia pada hati seorang mukmin, engkau lepaskan kesulitan, engkau hibur hatinya, dan engkau lunasi hutang-hutangnya.”

Secara lebih detail Kang Jalal menjabarkan cara meraih kebahagiaan dalam hidup berdasarkan kajian ayat-ayat Al-Quran.

Pertama, yakinlah di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Kita sering merasa bingung, frustasi dan sedih dikala ditimpa oleh suatu kondisi sulit dan payah, sehingga hidup terasa tidak menyenangkan dan penuh putus asa. Maka, agar hati kita tetap bahagia dan tenang yakinlah bahwa Allah tidak menurunkan kesulitan kecuali disertai kemudahan, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Insyirah, “…. Sungguh, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Bersama kesulitan benar-benar selalu ada kemudahan.”

Kedua, bersyukur, ridha dan tawakal atas segala musibah. Sebab mengeluh dan meratapi musibah akan menghidupkan gen-gen negatif yang mengintruksikan pada aksi-aksi negatif pula serta mempengaruhi kondisi tubuh. Sebaliknya, jika kita tertimpa musibah kemudian menata jiwa dan pikiran dengan syukur dan ridha maka akan mengihupkan gen- gen positif dalam tubuh, dan kebahagiaan pun dapat dirasakan. Allah berfirman dalam surat al-Tawbah, “Apa yang menimpa kami ini telah Allah gariskan. Dialah pelindung kami. Hanya Allah semata semestinya orang-orang mukmin itu bertawakal.”

Ketiga, memaafkan orang lain jika melakukan kesalahan. Sebab memaafkan justru memiliki manfaat yang besar yang kembali kepada diri kita sendiri, yaitu mengobati rasa sakit hati. Menurut Al-Quran, obat terbaik untuk menyembuhkan sakit hati adalah tak membalas sakit hati, menahan diri untuk kemudian memaafkan. Dengan memaafkan hidup kita akan selalu bahagia, sebab memaafkan tidak lahir kecuali dari hati yang bahagia. Allah berfirman dalam surat al-Nahl, “Balaslah perbuatan mereka setimpal dengan apa yang mereka perbuat kepadamu. Namun, jika kau lebih memilih menahan diri, itu lebih baik”

Keempat, menjahui buruk prasangka. Sebab secara psikologis buruk sangka akan menyebabkan berbagai penderitaan jiwa, yaitu marah, cemas, dan berbagai emosi negative lainnya. Allah berfirman dalam surat al-Fath:12, “Setan telah menghias prasangka itu di hati kalian. Kalian telah berprasangka buruk. Maka, jadilah kalian kaum yang menderita”.

Kelima, menjahui kebiasaan marah-marah ketika menghadapi atau tertimpa sesuatu. Sebab marah atau emosi dapat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan pikiran, dan dapat menjadikan stress. Selain itu, marah yang berkepanjangan akan menimbulkan kebencian dan melahirkan dendam. Dengan demikian hidup tak terasa bahagia dan akan menjadi penyakit. Allah berfirman dalam surat al-Kahfi: 6, “Sekiranya mereka tidak memercayai Al-Quran, barangkali kau akan membunuh dirimu sendiri karena sedih, meratap, setelah mereka berpaling”.

Keenam, mengurangi keinginan yang bersifat duniawi dengan zuhud dan qona’ah. Karena terkadang banyak keinginan yang tidak realistis, sehingga menjadikan diri stress sebab tak semua keinginan dapat dicapai. Biasanya keinginan datang dari luar diri kita, maka buanglah keinginan- keinginan yang sebenarnya bukan keinginan anda. Tentukanlah keinginan anda sendiri dan kurangi keinginan anda. Sebab tidak ada cara yang paling mudah menghilangkan stress kecuali mengurangi keinginan untuk memiliki segala-galanya. Al-Quran dalam surat Thaha: 124 menggambarkan situasi stres dengan kalimat, “dadanya dijadikan sesak dan sempit, seperti orang yang terbang ke langit”. Dengan melakukan petunjuk-petunjuk Al-Quran di atas, menurut Rahmat dapat mengetahui bagaimana memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

2. AMAL SHALEH   

Syarat kedua seseorang bisa memperoleh atau meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat adalah melakukan amal shaleh. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah surah al-Nahl: 97 yang berbunyi:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( surah al-Nahl: 97).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah swt menjanjikan kepada orang yang beramal shalih baik itu perempuan atau laki-laki dan ia beriman, untuk memberikan kehidupan yang baik serta pahala yang lebih baik dari apa yang ia amalkan sebagai balasan. Ada beberapa pendapat dari ulama mengenai makna amal shalih dan hayatan thayyibatan, diantaranya sebagai berikut:

Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan amal shalih di sini adalah amal yang bermanfaat dan sesuai dengan al-Qur’an dan Hadis Nabi saw. Sementara kehidupan yang baik (hayatan thayyibatan) sebagai ganjaran bagi mereka yang beramal shalih dapat berupa rizki yang halal dan berkah baik di dunia maupun di akhirat. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim Jilid 8)

Al-Maraghi juga berpendapat seperti penafsiran Ibnu katsir, namun lebih lanjut ia menafsirkan kata hayatan thoyyibatan dengan arti merasa qana’ah dengan apa yang sudah Allah berikan dan Ridho terhadap apa yang dibagi dan ditakdirkan kepadanya. Dia yakin bahwa rizki yang diberikan adalah atas ketentuan Allah swt. (Ahmad Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 14)

Sedangkan al-Sya’rawi mengutip pendapat al-Qurthubi yang menjelaskan bahwa maksud dari kata hayatan thayyibaan adalah (1) Rizki yang halal sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair dan ‘Atho’ (2) Qana’ah sebagaimana dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib dan Hasan Basri. (3) petunjuk kepada ketaatan (taufiq ila al- tha’at) sebagaimana pendapatnya al-Duhhak. (4) Surga sebagaimana pendapatnya Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid, dan (5) kenikmatan melakukan ketaatan (halawah al-tha’at) sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar al-Warraq. (Al-Sya’rawi, Tafsir al-Sya’rawi, Juz 13).

Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa kehidupan yang baik itu adalah kehidupan yang diliputi rasa lega, kerelaan, serta kesabaran dalam menerima cobaan dan rasa syukur atas nikmat Allah swt. Dengan demikian, yang bersangkutan tidak merasa takut yang mencekam, atau kesedihan yang melampaui batas, karena dia selalu menyadari bahwa pilihan Allah swt adalah yang terbaik, dan di balik segala sesuatu ada ganjaran yang menanti.

Masih ada makna lain tentang makna kehidupan yang baik yang dimaksud. Misalnya, kehidupan di surga kelak, atau di alam Barzah, atau kehidupan yang diwarnai oleh qana’ah, atau rezeki yang halal. Kesemuanya itu jika disatukan maka berkumpul pada satu titik kesimpulan bahwa yang dimaksud kehidupan yang baik adalah kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Selain itu, dapat kita cermati bahwa dalam ayat ini juga berbicara tentang pentingnya iman dalam menyertai amal.

Setiap amal yang tidak dibarengi dengan keimanan, maka dampaknya hanya sementara. Dalam kehidupan dunia ini terdapat hal-hal yang kelihatan sangat kecil bahkan tidak terlihat oleh pandangan, tetapi justru merupakan unsur asasi bagi sesuatu. Ibaratnya seperti setetes racun yang diletakan di gelas yang penuh air, tidaklah mengubah kadar dan warna cairan di gelas itu, tetapi pengaruhnya sangat fatal. Begitu pula, kekufuran/ketiadaan iman yang bersemai di hati orang-orang kafir bahkan yang mengaku muslim sekalipun, merupakan nilai yang merusak. Karena itulah sehingga berkali-kali al-Qur’an memperingatkan pentingnya iman menyertai amal, karena tanpa iman kepada Allah swt amal ini akan menjadi sia-sia belaka. Allah berfirman:

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al-Furqan (25): 23)

Maka beruntunglah orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dengan hadiah yang telah dijanjikan oleh Allah swt, karena hal tersebut tidak akan diperoleh oleh orang-orang yang berpaling dari mengingat Allah swt, tidak beriman dan tidak mengerjakan amal shalih. Rasulullah saw bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, ia mendapat rezeki yang cukup dan merasa puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.” (HR. Muslim).

Sebaliknya, orang yang tidak beriman serta tidak mengerjakan amal shalih, maka ia akan senantiasa berada dalam kesusahan. Apabila ditimpa suatu bencana atau cobaan, maka ia akan merasa sangat bersedih hati, gundah dan gelisah. Kemudian apabila ia tidak memperoleh apa yang ia kehendaki berupa kesenagan dunia, maka ia akan bersedih hati karena ia mengira bahwa puncak kebahagiaan adalah tercapainya kesenangan hidup dan menikmati kelezatannya.

PENUTUP

Menurut al-Qur’an paling tidak ada enam cara untuk memperoleh kebahagiaan hidup yaitu: Pertama, menanamkan keyakinan bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan. Kedua, bersyukur atas nikmat yang diberikan, ridha, sabar dan tawakal atas segala musibah. Ketiga, memaafkan orang lain jika melakukan kesalahan. Keempat, menjahui buruk sangka. Kelima, menjauhi kebiasaan marah-marah ketika menghadapi atau tertimpa sesuatu. Keenam, mengurangi keinginan yang bersifat duniawi dengan zuhud dan qona’ah.

Penulis : Khairul Hamim

Yuk bagikan di sosmed sahabat… terima kasih 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

PEMBIAYAAN SYARIAH JAMINAN BPKB MOBIL
Hello. Add your message here.