Sabar dan Berjiwa Besar : Mengerti Kenapa Kita Diuji dan Cerdas Menikmati Kenyataan Hidup (Aidh al-Qarni)

Yuk bagikan infonya...

Ilustrasi/Google

Buku Sabar dan Berjiwa Besar (2019) menjelaskan tentang rahasia kesuksesan para nabi dan orang saleh yang berhasil melewati kesulitan hidup dengan sebaik-baiknya. Karena seperti yang kita tahu, kehidupan tidak selalu mudah untuk dilalui.

Siapa penulis buku ini?

Dr. Aidh al-Qarni adalah seorang pendakwah yang juga produktif menulis kitab-kitab. Gelar Doktornya dalam bidang hadits diraih dari Al-Imam Islamic University di Riyadh di Arab Saudi.

Karyanya berjumlah lebih dari 70 buah dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Salah satu karyanya yang fenomenal berjudul ‘La Tahzan’ telah diterjemahkan ke dalam 29 bahasa di dunia.

Untuk siapa buku ini?

  • Siapa saja yang sedang diuji dan mencari jawaban atas ujiannya.
  • Siapa saja yang ingin tercerahkan untuk memaknai bahagia.
  • Pembaca yang membutuhkan buku motivasi.

Apa yang dibahas buku ini?

Belajar berjiwa besar dari Nabi dan orang-orang saleh

Para nabi dan orang-orang saleh terdahulu adalah contoh manusia terbaik yang mengajarkan kepada kita contoh kebesaran jiwa dan kelapangan hati. Banyak sebab lahir batin yang bisa menghantarkan kepada kebesaran jiwa.

Dalam rangkuman Pimtar ini, Anda akan mempelajari nasehat-nasehat terbaik yang membangun kesadaran dan melapangkan jiwa. Tujuannya, agar menjadi manusia yang berbesar hati dikala gundah gulana menerpa.

Hal-hal menarik yang akan Anda pelajari dari buku ini antara lain:

  • Apa saja yang dibutuhkan agar bisa berjiwa besar;
  • Apa saja watak kesulitan hidup agar diri ini lebih siap menghadapinya;
  • Bagaimana menempuh jalan kebahagiaan yang sebenarnya;
  • Bagaimana pembahasan di dalam Al-Qur’an tentang kebahagiaan; dan
  • Kenapa Anda berhak bahagia.

1. Cara memampukan diri agar bisa berjiwa besar

Hal-hal yang diperlukan untuk memampukan diri agar bisa berjiwa besar. Pertama, tauhid. Bukan sekedar mengucapkan syahadat. Tauhid harus dibarengi dengan amal.

Banyak yang mengucapkan syahadat, tapi ingkar dengan maksud syahadat itu sendiri. Sehingga perjalanan hidupnya tidak bermakna.

Maka kembalilah kepada makna tauhid sebenar-benarnya. Mengesakan Allah serta senantiasa melaksanakan aturan Allah. Sebab hal itulah yang akan melapangkan jiwa Anda.

Kedua, berzikir kepada Allah yang Maha Esa. Sebab kelapangan hati dapat diraih salah satunya dengan mengingat Allah yang Maha Esa melalui lisan. Lisan yang senantiasa basah dengan lantunan zikir untuk-Nya.

Ketiga, Ridha dengan Qadha dan Qadar Allah. Selalu bangun sikap berpikir positif terhadap takdir Allah. Karena baik buruknya datang dari Allah. Dan, Allah sudah menetapkan yang terbaik bagi hamba-hambaNya.

Dengan keyakinan seperti ini, maka seorang mukmin akan merasakan tenang dalam menjalani kehidupan tanpa harus merasa cemas apalagi depresi.

Keempat, menjauhi maksiat. Satu saja maksiat akan meninggalkan setitik noda hitam dalam hati manusia. Perbuatan maksiat itu memusnahkan amal. Berkurangnya kebaikan dalam diri manusia karena pengaruh maksiat itu sendiri. Serta membawa kerugian dunia dan akhirat.

Kelima, qanaah. Sikap qonaah adalah sikap yang menerima apa adanya segala pemberian Allah yang Maha Esa. Serta senantiasa merasa cukup atas karunia yang diberikan oleh-Nya.

Tidak marah dan kecewa sekalipun dalam kondisi kekurangan. Karena selalu mengedepankan rasa syukur. Sikap Qonaah ini membawa kepada kelapangan hati dan jiwa.

Keenam, hidup Bersama Al-Quran. Bukan sekedar menjadikan Al-Quran sebagai bahan bacaan saja. Tapi juga dijadikan sebagai tuntunan dan penggerak kehidupan. Mengabaikan Al-Quran adalah meninggalkan perintahnya dan tidak mengamalkannya.

Ketujuh, berkumpul dengan orang-orang sholeh akan membawa kepada nikmatnya berlapang dada dan berjiwa besar.

Karena orang-orang sholeh tidak cinta dunia. Duduk berkumpul dan bergaul dengan orang-orang yang cinta dunia justru merusak amal dan membawa penyakit hati.  

“Yang sulit bukanlah membaca atau menghafalkan Al-Qur’an. Sungguh, yang lebih berat adalah mengamalkan Al-Qur’an sebagai jalan hidup.” ~ Dr. Aidh al-Qarni

2. Memahami watak kesulitan hidup sebagai jalan yang harus dilalui menuju keberhasilan

Siapapun tidak akan meraih cita-citanya bila tidak bekerja keras, bersusah payah dan berjuang sungguh-sungguh.

Itulah hukum alam. Orang yang ingin hidup sukses harus siap menghadapi kesulitan hidup dan mendapatkan yang diinginkannya. Harus sabar menghadapi penderitaan hingga meraih yang dicarinya.

Agar berhasil melewati anak tangga kesulitan hidup, maka pahamilah tiap watak kesulitan tersebut. Ada beberapa kaidahnya. Kaidah pertama, adanya perubahan, perpindahan, dan pergantian keadaan.

Perputaran keadaan akan selalu ada selama roda dunia masih berputar. Kesempitan di dunia tidak ada yang abadi. Kesulitan pasti digantikan kemudahan.

Kaidah kedua, semua kesulitan pada mulanya besar, kemudian akan mengecil. Seperti tamu yang akan meninggalkan kita. Sedikit demi sedikit menjauh lalu menghilang sampai akhirnya tidak kelihatan.

Salah satu bentuk kasih sayang dan kebaikan Allah adalah Dia berikan kita kekuatan jiwa agar siap menghadapi walaupun dengan susah payah. Dan kesiapan untuk beradaptasi dengan berbagai kesulitan walaupun banyak mengeluh.

Musibah tidak akan menghabisi kita seperti maut. Musibah diturunkan dengan tujuan menyucikan, menguji, memberi pelajaran, dan menghapuskan dosa.

Kaidah ketiga, musibah akan membuat kita menyadari lezatnya kenikmatan. Tanpa musibah, semua nikmat yang kita dapat akan terasa hambar.

Nikmat sehat baru akan dirasakan ketika diuji sakit. Nikmat kenyang baru akan dirasakan ketika diuji kelaparan. Orang-oramg shalih terdahulu selalu mengikatkan dirinya dengan ketaatan sebagai bentuk rasa syukur.

Kaidah keempat, setiap musibah tidak akan berlangsung selamanya. Sebab waktu terus berjalan dan musibah ada batasnya.

Kaidah kelima, semua peristiwa terjadi atas pilihan Allah. Setiap kebaikan dan keburukan yang ditetapkan oleh Allah bagi seorang Muslim adalah pilihan terbaik baginya.

Kaidah keenam, apabila pahit getir, rasa sakit, dan kesulitan sudah mencapai puncaknya, bergembiralah karena ia akan segera menghilang.

Apabila kegelapan malam telah mencapai puncaknya, fajar akan datang menggantikannya. Apabila sinar matahari mencapai puncaknya, maka ia akan tergelincir dan akhirnya tenggelam.

Kaidah ketujuh, jika seorang hamba merasa segala upayanya telah mencapai jalan buntu dan putus asa karena tidak punya harapan lagi terhadap manusia. Maka secara fitrah timbul keinginan untuk kembali kepada-Nya.

Bersujud kepada-Nya dengan sepenuh hati. Mengakui segala kekurangan dan ketidakmampuannya, serta mengajukan segala permohonan dan harapan dalam sekelumit doa.

3. Kebahagian, ketentraman, dan ketenangan hati ada seninya

Modal utama untuk meraih kebahagiaan adalah kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan-goncangan. Tidak gentar oleh peristiwa-peristiwa. Dan, tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele.

Hati yang lemah tekad, rendah semangat, dan selalu gelisah tidak ubahnya dengan gerbong kereta yang mengangkut kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran.

Bagi yang membiasakan jiwanya bersabar dan tahan terhadap segala benturan, niscaya goncangan apapun dan tekanan dari manapun akan terasa ringan.

Wawasan yang sempit, pandangan yang picik dan egoisme adalah musuh utama kebahagiaan. Satu hal mendasar dalam seni mendapatkan kebahagiaan adalah bagaimana mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah.

Kendalikanlah pikiran Anda ke arah yang baik dan bermanfaat. Karena pikiran yang tidak terkendali hanya akan terbawa kedalam hawa nafsu dan bisa mengarahkan kepada keburukan.

Tubuh anda akan merasakan gemetar, perasaan terbakar, dan kepribadian pun menjadi goyah.

Ada hal mendasar yang harus Anda pelajari dalam memperoleh kebahagiaan. Yaitu, Anda harus mampu menempatkan kehidupan ini sesuai dengan tempat dan porsinya. Bagaimanapun, kehidupan ini laksana permainan yang harus diwaspadai.

Keindahan dunia acapkali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka. Sehingga ketika yang diraih adalah kegagalan, Anda tidak perlu berlarut dalam kesedihan hati.

Gelapnya kehidupan dunia tidak berhak membuat Anda bermuram durja, pesimistis, dan lemah semangat.

Anda hanya berkewajiban mengurangi dan bukan menghilangkan kesedihan, kegundahan, dan kecemasan pada diri Anda. Sebab, segala bentuk kesedihan akan sirna bersama akar-akarnya hanya di surga kelak.

Untuk itulah Anda harus cerdas menghadapi dunia. Tidak mudah menyerah pada kesengsaraan, kesusahan, kecemasan, kegundahan, dan kesedihan dalam hidup.

4. Al-Qur’an hanya ingin Anda Bahagia

Sesungguhnya kitab yang nnulia ini adalah kitab paling agung yang mengajak Anda kepada kebahagiaan, kesenangan, dan sukacita.

Al-Quran menyerukan berprasangka baik terhadap Allah, bertawakal kepada-Nya, optimistis, mempercayai semua janji-nya, sabar menunggu datangnya pertolongan dari-Nya.

Al-Quran memperingatkan agar jangan meratapi sesuatu yang telah terjadi, karena itu sudah berlalu. Jangan takut untuk menghadapi masa depan yang hanya Allah yang tahu. Al-Quran menjanjikan kecukupan setelah kefakiran, kemuliaan setelah kehinaan.

Al-Quran melarang berputus asa, patah harapan, hilang semangat, buruk sangka, dan keragu-raguan. Al-Quran menyuruh mengeluarkan noda-noda jiwa dan berbagai macam penyakit hati seperti iri, dengki, dendam, dan kebencian.

Al-Quran juga menyuruh berlapang dada, memaafkan kesalahan orang lain, bersabar, bersikap baik, meredam kemarahan, menghilangkan kebencian, dan berperilaku terpuji.

Al-Quran melarang mencari-cari kesalahan orang atau bergembira bila melihat orang lain melakukan kesalahan.

Al-Quran membawa berita gembira agar Anda tetap tenang, tegar, bahagia, dan optimistis. Sebab sehabis gelap terbitlah terang. Setelah malam singsinglah fajar. Setelah padang pasir yang gersang ada sungai. Dibawah terik matahari ada pepohonan rindang yang menawarkan keteduhan.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS. Al-Insyirah : 6)

5. Anda berhak mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat

Jika Anda masuk waktu pagi, tidak perlu keburu masuk sore. Fokuslah pada kehidupan Anda yang sekarang.

Kumpulkan seluruh tekad Anda untuk memperbaiki hari Anda. Biarkan masa depan datang dengan sendirinya. Tidak perlu Anda pikirkan hari esok. Karena jika Anda perbaiki hari Anda saat ini, maka hari esok Anda akan baik.

Yang lalu telah berlalu, yang pergi telah mati. Tidak perlu Anda pikirkan yang lalu. la telah hilang dan berakhir. Terimalah takdir yang terjadi. Segala sesuatu itu sudah sesuai dengan takarannya. Maka biarlah keresahan itu sirna.

Perbanyaklah berucap Vaa hawla wa laa quwwata illa billah’ karena ia menyegarkan pikiran, memperbaiki keadaan, meringankan beban, dan mendatangkan ridha Tuhan.

Perbanyak membaca istighfar, karena membaca istighfar bisa mendatangkan rizki, kebahagiaan, keturunan, ilmu yang bermanfaat, kemudahan hidup, dan menghapus doa-dosa.

Berbahagialah atas pilihan Allah untuk Anda. Sesungguhnya Anda tidak pernah tahu yang mana terbaik bagi Anda. Bisa jadi, masa-masa sulit lebih baik untuk Anda daripada masa-masa lapang.

Ujian mendatangkan diri Anda kepada Allah. Membimbing Anda untuk berdoa. Serta menjauhkan diri Anda dari sifat sombong, congkak, dan berbangga diri.

Hari terbaik Anda adalah saat kesabaran bertambah. Orang yang bahagia itu yang jika dia berumur panjang dan berumur baik. Orang yang tenang itu yang banyak harta dan banyak berderma. Orang yang diberkahi itu adalah yang ilmu dan takwanya bertambah.

Jagalah Allah, maka Dia akan menjaga Anda. Jagalah Allah, maka Anda akan menemukan-Nya di hadapan Anda.

Kenalilah Dia saat Anda senang, maka Dia akan mengenali Anda ketika susah. Jika Anda meminta, maka mintalah kepada Allah. Dan jika Anda memohon pertolongan, maka mintalah kepada-Nya.

“Aku tidak melihat banyaknya harta sebagai sumber kebahagiaan. Tetapi orang-orang yang bertakwalah yang benar-benar bahagia.” ~ Dr. Aidh al-Qarni

Kesimpulan Buku

  1. Untuk membangun sikap berjiwa besar, maka dibutuhkan setidaknya ada tujuh hal. Yaitu tauhid, dzikir, ridha terhadap qadha, menjauhi maksiat, qonaah, hidup bersama Al-Quran, dan berkumpul dengan orang saleh.
  2. Orang yang ingin hidup sukses harus siap menghadapi kesulitan hidup dan sabar menghadapi penderitaan hingga meraih yang dicarinya. Agar berhasil melewati anak tangga kesulitan hidup, maka pahamilah tiap watak kesulitan tersebut.
  3. Modal utama untuk meraih kebahagiaan adalah kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan-goncangan.
  4. Al-Qur’an adalah kitab yang agung dari Allah yang Maha Benar yang mengajak Anda kepada kebahagiaan, kesenangan, dan sukacita.
  5. Berbahagialah atas pilihan Allah untuk Anda. Sesungguhnya Anda tidak pernah tahu mana yang terbaik bagi Anda. Karena Anda berhak bahagia dunia dan akhirat.

Sumber : Pimtar

Yuk bagikan sebagai sedekah… 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

PEMBIAYAAN SYARIAH JAMINAN BPKB MOBIL
Hello. Add your message here.