Emotional Intelligence : Mengapa Kecerdasan Emosi Lebih Penting daripada IQ

Yuk bagikan infonya...

Ilustrasi/Beautynesia.id  

Emotional Intelligence menegaskan pentingnya kecerdasan emosional dibandingkan dengan kecerdasan intelektual. Penulis juga mengungkap 5 keahlian utama yang diperlukan untuk meningkatkan kecerdasan emosional Anda. IQ tinggi ternyata tidak banyak berguna tanpa kematangan emosi. Simak penjelasannya di dalam buku ini.

Siapa Penulis Buku Ini?

Daniel Goleman adalah seorang psikolog yang telah menulis beberapa buku bestseller mengenai psikologi dalam bisnis. Beberapa buku yang telah ia tulis antara lain; Working with Emotional Intelligence (1998); Primal Leadership (2002); Destructive Emotions (2003); Social Intelligence (2006); dan Focus (2013).

(Google.com)

Untuk Siapa Buku Ini?

  1. Pelajar atau mahasiswa yang merasa pintar namun tidak memiliki banyak peran di lingkungannya
  2. Orangtua dan pendidik yang ingin membangun pondasi yang kuat untuk anaknya
  3. Siapa saja yang ingin meraih kesuksesan lewat kecerdasan emosi yang mumpuni

Baca Juga : Ringkasan 20 Buku Pengembangan Diri Terbaik

Pentingnya kecerdasan emosional dan bagaimana cara meningkatkannya

Kecerdasan intelektual (IQ) seringkali menjadi dasar dalam penentuan ujian masuk sekolah maupun kerja, padahal IQ yang tinggi tidak menjamin kesuksesan seseorang.

Menurut Goleman, kecerdasan emosional justru memegang peranan yang lebih penting untuk mendukung keberhasilan seseorang. Kemampuan mengendalikan emosi akan membantu seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengoptimalkan kemampuannya.

Dalam buku ini, Anda akan memahami bahwa manusia memiliki otak rasional dan otak emosional. Anda juga akan mempelajari lima keahlian utama untuk dapat meningkatkan kecerdasan emosional.

Hal menarik yang dapat Anda pelajari antara lain:

  • Bagaimana emosi bisa “membajak” otak rasional Anda;
  • Apa saja keahlian utama untuk meningkatkan kecerdasan emosional;
  • Bagaimana cara mengendalikan diri saat dilanda amarah besar;
  • Apa yang dimaksud dengan “cerdas sosial”; dan
  • Seperti apa gaya mendidik anak yang tidak tepat secara emosional.

Otak manusia terdiri otak rasional dan otak emosional. Otak rasional adalah tempat manusia berpikir, sedangkan otak emosional adalah tempat manusia mengolah kecemasan, amarah, dan emosi lainnya sebagai respon cepat terhadap lingkungan sekitar.

Kedua otak ini saling terhubung, dan seringkali otak emosional dapat memengaruhi otak rasional. Hubungan antara kedua jenis otak inilah yang menjelaskan mengapa emosi positif penting untuk membuat keputusan yang bijaksana ataupun untuk berpikir dengan jernih.

Masalah emosional dalam manusia dikelola oleh amigdala di dalam otak. Amigdala dapat memicu reaksi emosional dengan lebih cepat daripada neokorteks yang berperan dalam merencanakan tindakan yang tepat.

Respons emosional yang lebih cepat inilah yang terkadang membuat otak emosional dapat membajak otak rasional Anda. Maka seringkali seseorang melakukan tindakan yang irasional ketika ia tidak mampu mengendalikan emosinya.

Dengan melihat cara kerja otak tersebut, maka dapat dipahami bahwa keberhasilan dalam hidup tidak hanya bergantung pada kecerdasan intelektual, tapi juga bergantung pada kecerdasan emosional.

Namun perlu diingat bahwa kecerdasan emosi bukanlah soal menghapus perasaan dan menggantikannya dengan akal. Kecerdasan emosi adalah menemukan keseimbangan cerdas antara akal dan perasaan.

Bayangkan kembali kali terakhir Anda ‘marah’, memaki-maki seseorang sampai ke tahap yang belakangan, setelah sedikit direnungkan dan ditinjau kembali, tampaknya tidak perlu.” ~ Daniel Goleman

Kecerdasan emosi terbentuk lewat lima kemampuan berikut: (1) kemampuan untuk mengenali emosi diri; (2) kemampuan untuk mengelola emosi; (3) kemampuan memotivasi diri; (4) kemampuan mengenali emosi orang lain; (5) kemampuan membina hubungan.

Kemampuan untuk mengenali emosi diri merupakan kemampuan dasar dan langkah penting untuk dapat mengendalikan emosi. Kecerdasan emosi bukan berarti Anda mengabaikan emosi-emosi yang negatif. Dengan mengakui perasaan Anda, Anda justru akan bisa lebih jernih untuk memilih; akan menahan atau melepaskan perasaan itu.

Sebagai contoh, saat seorang anak dilarang untuk memukul temannya saat marah, anak tersebut dicegah untuk meluapkan emosinya secara negatif. Namun perasaan marahnya masih akan ada jika ia tidak dibimbing untuk mengenali dan memahami alasan kemarahannya.

Terkait kemampuan yang kedua, sesungguhnya setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menangani dan mengatasi emosinya.

Tipe pertama adalah mereka yang sadar diri, yaitu mereka yang peka akan suasana hati mereka dan mampu mengatur emosi mereka. Mereka tidak larut dalam emosi negatif dan memiliki kejernihan pikiran untuk mengelolanya.

Tipe kedua adalah mereka yang tenggelam dalam perasaan. Tipe ini cenderung merasa dikuasai oleh emosi, sehingga mereka tidak berupaya untuk mengatasi emosi negatif mereka dan akan terlena saat mereka sedang bahagia.

Tipe yang terakhir adalah mereka yang pasrah. Tipe ini menerima suasana hati mereka namun tidak berusaha mengubahnya. Bahkan, saat suasana hati mereka tidak bagus, mereka akan menerimanya dengan tidak peduli dan tidak melakukan apapun.

“Penderitaan dan kebahagiaan adalah bumbu kehidupan, tetapi keduanya harus berjalan seimbang.” ~ Daniel Goleman 

Selanjutnya, kemampuan menguasai diri saat menghadapi badai emosional juga perlu dimiliki untuk meningkatkan kecerdasan emosional. Bukan hanya menguasai diri untuk menghadapi emosi negatif, namun menghadapi emosi positif. Beberapa emosi kuat yang perlu dikuasai adalah amarah, kecemasan dan kesedihan.

Satu mitos mengenai amarah yang sangat dipercaya orang adalah bahwa amarah tidak dapat dikendalikan, bahkan tidak perlu dikendalikan dan harus disalurkan. Kenyataannya, dengan melampiaskan kemarahan Anda pada orang lain justru akan menjadikan kemarahan tersebut semakin besar.

Karena itulah, cara paling efektif untuk meredakan amarah adalah dengan mengalihkan pikiran Anda.

Cara pertama yang dapat Anda lakukan adalah melihat dari sudut pandang lain, yaitu dengan mengadu pikiran yang membuat Anda marah dengan pikiran lain yang dapat memicu rasa senang ataupun belas kasihan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan pergi menyendiri dan menikmati saat-saat yang menyenangkan untuk menghilangkan amarah.

Emosi negatif lain yang sering menjadi masalah adalah rasa cemas.

Sebenarnya kecemasan ataupun kekhawatiran adalah bentuk kewaspadaan terhadap bahaya yang mungkin terjadi. Sebenarnya kekhawatiran dapat mendorong munculnya suatu solusi terhadap risiko yang ada. Namun, beberapa orang seringkali larut dalam kecemasan yang terlalu besar sehingga justru menjauhkannya dari solusi.

Untuk menghindari kecemasan berlebihan, beberapa cara dapat dilakukan.

Pertama, dengan metode relaksasi, yaitu dengan mengenali sejak dini kekhawatiran dan mencegahnya semakin berkembang. Perasaan santai bisa menjadi penangkalnya. Selain itu, penderita kecemasan berlebihan juga perlu melawan perasaan-perasaan cemas dengan menggunakan nalar mereka. Apa yang dicemaskan terkadang sebenarnya tidak masuk akal.

Emosi negatif berikutnya adalah kesedihan.

Kesedihan itu bermanfaat, namun kesedihan yang berujung pada depresi berkelanjutan akan berbahaya. Menangis seringkali disebut sebagai cara efektif untuk melenyapkan kesedihan. Namun, menangis yang tidak terkendali justrubisa membuat Anda semakin terobsesi pada alasan kesedihan Anda.

Untuk itu, saat menghadapi kesedihan, yang perlu Anda lakukan adalah melawan pikiran-pikiran yang menyedihkan dan juga melakukan aktivitas yang positif atau menyenangkan.

Kemampuan ketiga yang menandakan kecerdasan emosional adalah kemampuan memotivasi diri, yaitu kemampuan untuk berpikir positif dan bangkit dari kecemasan, kesedihan dan emosi negatif lainnya.

Seringkali saat perasaan sedang kacau, kemampuan berpikir seseorang akan terpengaruh. Orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional memiliki kemampuan untuk membangun pikiran positif dan optimisme sehingga dapat menjadi motivator bagi dirinya sendiri.

Kemampuan keempat yang menandakan kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi orang lain, atau yang biasa disebut empati.

Kunci untuk mengenali emosi orang lain terletak pada kemampuan membaca pesan nonverbal seperti nada bicara, gerak gerik dan ekspresi wajah. Empati ini ada secara alami pada setiap bayi, namun mulai berkurang pada usia dua tahun.

Empati mendasari berbagai tindakan. Saat merasakan kesedihan orang, kita dapat ikut merasa sedih; saat merasakan kemarahan orang lain, bisa jadi kita ikut marah dan ingin membela. Namun, ada pula beberapa orang yang memiliki keterbatasan empati sehingga tidak menyadari tindakannya yangbisa menyinggung orang lain. Tidak sensi, kalau kata orang sekarang.

Kemampuan terakhir yang menjadi tanda kecerdasan emosional adalah kecerdasan sosial atau kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

Dalam membina hubungan sosial, kemampuan untuk mengungkapkan perasaan menjadi faktor penting, karena saat berinteraksi dengan orang lain, Anda mengirimkan isyarat emosional yang dapat memengaruhi mereka. Karena itu Anda harus mampumengendalikan nada emosi dalam suatu interaksi.

Terdapat empat jenis keterampilan dalam kecerdasan sosial.

Pertama adalah keterampilan mengorganisir kelompok, yaitu keterampilan untuk menggerakkan orang lain. Selanjutnya, kemampuan pemecahan, yaitu kemampuan mencegah dan menyelesaikan konflikdalam masyarakat.

Ketrampilan ketiga adalah kemampuan dalam menjalin hubungan pribadi, yang memudahkan seseorang untuk masuk ke lingkungan pergaulan tertentu. Dan terakhir, keterampilan analisis sosial, yaitu kemampuan untuk memahami perasaan orang lain.

Kecerdasan emosional sangat penting dalam kehidupan. Berikut ini beberapa contoh penerapan kecerdasan emosional secara praktis di dalam kehidupan.

Kecerdasan emosional akan membantu Anda dalam sosialisasi dengan orang lain, termasuk dalam pernikahan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa adanya perbedaancara mengungkapkan emosi antara pria dan wanita sering menjadi akar permasalahan dalam rumah tangga.

Untuk mengatasi hal-hal tersebut, berikut saran penulis yang mungkin dapat membantu. Para pria cenderung menghindari masalah dan memotong pertengkaran dengan penyelesaian praktis. Sedangkan, para wanita cenderung bersikap sensitif dan sering mengeluh.

Yang harus dilakukan adalah saling berhati-hati. Pria harus berhati-hati saat menghadapi pertengkaran, tahan diri untuk memotong. Sedangkan wanita harus berhati-hati dalam mengeluh, jangan sampai keluhan Anda menjadi suatu hinaan dan serangan pribadi ke pihak pria.

Kecerdasan emosional juga sangat berperan dalam karier dan kepemimpinan, karena kecerdasan emosional diperlukan untuk mengutarakan kritik yang membangun, menciptakan suasana penghargaan terhadap keragaman serta menjalin jaringan kerja secara efektif.

Pada dasarnya memberikan kritik memiliki tujuan untuk memberikan umpan balik agar terjadi perbaikan kinerja seseorang. Namun, seringkali kritik diterima sebagai serangan pribadi yang pada akhirnya menimbulkan sikap defensif pada orang yang dikritik.

Dalam memberikan kritik, Anda perlu memastikan kritikan Anda langsung pada sasaran dan berkaitan dengan fakta. Anda juga perlu menawarkan solusi untuk perbaikan. Kritik juga harus dilakukan secara langsung, agar tidak terjadi miskomunikasi. Dan yang paling penting Anda perlu empati.

Dalam suatu lingkungan kerja, tentunya Anda akan bertemu dengan berbagai macam orang. Keragaman ini dapat mendorong lingkungan menjadi tidak produktif apabila tidak dikelola dengan baik. Hal ini disebabkan karena keanekaragaman dapat memicu prasangka. Karena itulah, dalam menghadapi keanekaragaman, Anda perlu menjauhi prasangka.

Kecerdasan emosional dalam karier juga dapat membantu dalam menjalin jaringan kerja yang luas. Dengan memiliki kecerdasan emosional, Anda dapat bekerja secara efektif di dalam tim. Anda dapat memahami potensi setiap orang dan juga mendorong mereka dengan tepat untuk mencapai tujuan bersama.

Terakhir, kecerdasan emosional dapat memengaruhi kesehatan. Secara klinis dapat dijelaskan bahwa kemarahan dan kecemasan dapat memengaruhi kerja organ dan hormon. Sebagai contoh, pasien yang dilanda kecemasan menjelang operasi akan cenderung lebih mudah mengalami pendarahan dan infeksi, karena kecemasan meningkatkan tekanan darah.

Kemarahan dan kecemasan adalah dua emosi yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan depresi. Dan pada akhirnya depresi dapat mengundang berbagai penyakit lain.

“Salah satu pelajaran emosional terpenting, yang dipelajari semasa bayi dan diperhalus di masa kanak-kanak, adalah bagaimana cara menghibur diri sendiri bila sedang marah.” ~ Daniel Goleman 

Pendidikan emosional dimulai sejak kecil di dalam keluarga. Terkait itu, ada tiga gaya mendidik anak yang tidak efisien secara emosional. Anda perlu mengenalinya agar bisa menghindarinya.

Pertama gaya mendidik yang sama sekali mengabaikan perasaan anak. Sebenarnya, momen emosional adalah saat yang tepat untuk membangun kedekatan dengan anak dan membangun keterampilan emosionalnya. Sayangnya, seringkali orang tua justru melihatnya sebagai gangguan.

Gaya mendidik yang terlalu memberikan kebebasan juga tidak efektif. Peka terhadap perasaan anak adalah hal yang bagus, namun membiarkannya mengekspresikan dengan cara negatif bukanlah cara yang tepat. Sebagai orang tua, Anda perlu memperlihatkan bagaimana cara mengelola dan mengekspresikan emosi dengan tepat.

Gaya mendidik lain yang kurang efektif adalah menghina dan tidak menunjukkan penghargaan terhadap perasaan anak. Bila Anda terus menghentikan setiap ungkapan emosi anak Anda, maka anak Anda tidak akan dapat belajar cara mengenali dan mengelola emosi dengan baik.

Sebagai orangtua, yang dapat Anda lakukan adalah membantu anak Anda mengenali dan mengelola emosinya. Anda perlu membantu mereka mengenali sumber kemarahan mereka dan menemukan cara positif untuk menenangkan kembali perasaannya.

Dalam membangun kecerdasan emosional Anda juga perlu menyadari temperamen yang Anda (atau anak Anda) miliki. Temperamen merupakan suasana hati yang mencirikan kehidupan emosional Anda. Misalnya, kecenderungan untuk merasa bahagia, kecenderungan untuk cemas dan sebagainya.

Namun, temperamen bukanlah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa diubah. Penelitian yang dilakukan oleh Jerome Kagan mengungkapkan bahwa anak yang memiliki kecenderungan untuk cemas belum tentu tumbuh menjadi orang yang penakut dan pemalu. Pembelajaran dan pengalaman selama pertumbuhan dapat mengubah sikap dasar tersebut.

  1. Otak terdiri dari otak rasional dan emosional yang berperan penting dalam kesuksesan.
  2. Otak emosional yang bereaksi dengan cepat dapat melakukan pembajakan atas otak rasional sehingga membuat seseorang bertindak secara tidak rasional.
  3. Kecerdasan emosional ditandai dengan lima hal, yaitu kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan berempati dan kemampuan bersosialisasi.
  4. Masa kanak-kanak adalah kesempatan emas untuk membentuk kecerdasan emosional seseorang.
  5. Sebagai orang tua, Anda harus bisa memberi contoh kepada anak cara mengekspresikan dan mengelola emosi yang tepat.

Sumber : Pimtar

Yuk bagikan di sosmed kamu, sebagai sedekah ilmu dan informasi… Terima kasih 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

BUKU TES SEKOLAH KEDINASAN TNI POLRI CPNS 2024
Hello. Add your message here.