Seven Laws of Happiness : Tujuh Rahasia untuk Hidup Bahagia

Yuk bagikan infonya...

Ilustrasi/Google

Seven Laws of Happiness berisi panduan praktis bagi setiap orang yang menginginkan kebahagiaan. Terinspirasi oleh konsep Seven Habits yang legendaris, didalam buku ini penulis mengungkapkan 7 formula rahasia untuk menuju kehidupan yang lebih bahagia. Kata orang “bahagia itu sederhana”, tetapi benarkah Anda sudah memahaminya?

Siapa Penulis Buku Ini?

Avan Pradiansyah adalah Managing Director Institute for Leadership & Life Management, inspirator kebahagiaan, konsultan, kolumnis dibeberapa media massa nasional, antara lain majalah SWA dan harian Bisnis Indonsia, serta penulis beberapa buku laris.

Seven Laws of Happiness

Untuk Siapa Buku Ini?

  1. Pebisnis, karyawan, akademisi serta mahasiswa yang masih merasakan kehampaan dalam menjalani kehidupan.
  2. Semua orang yang ingin meraih kebahagiaan hidup.

Baca Juga : Ringkasan 20 Buku Pengembangan Diri Terbaik

Tujuh formula pembentuk kebahagian hidup

Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari setiap orang di setiap saat. Namun tidak sedikit manusia yang masih belum tahu cara untuk meraihnya.

Hal tersebut tentu akan berdampak buruk terhadap kehidupan dan kesehatan seseorang, karena penyakit yang ada dalam tubuh bisa muncul dari pikiran yang tidak bahagia. Di dalam buku ini, Arvan berusaha untuk memberikan penjelasan yang lengkap dan detail tentang cara meraih kebahagiaan.

Sebelumnya, sudah ada banyak buku yang telah membahas konsep kebahagiaan dari berbagai sudut pandang. Melalui buku ini, penulis berusaha mengkombinasikan berbagai konsep tersebut dalam sebuah model yang komprehensif.

Kebahagiaan sendiri penulis artikan dengan “kegembiraan dalam kedamaian”.Untuk meraihnya ada tujuh formula rahasia yang perlu dipahami, yaitu sabar, syukur, kesederhanaan (simplicity), kasih, memberi, memaafkan dan berserah diri.

Hal menarik yang akan Anda pelajari antara lain:

  • Apa perbedaan antara kepuasan dan kebahagiaan;
  • Bagaimana cara untuk bisa menikmati proses;
  • Kenapa masalah di luar sana harus dilihat secara sederhana;
  • Apa bentuk memberi yang paling sulit dilakukan; dan
  • Bagaimana sikap terbaik saat hasil yang didapatkan tidak sesuai harapan.

Tahukah Anda bahwa pikiran manusia sulit untuk berpuasa? Pikiran Anda selalu bekerja setiap saat dengan mengkonsumsi banyak ide, termasuk ide-ide yang tidak bermanfaat dan justru bisa menjadi racun bagi otak.

Itulah yang seringkali membuat manusia tidak bahagia. Oleh karena itu pikiran harus dikendalikan dan dijaga agar selalu dalam keadaan positif.

Penelitian dari dunia kedokteran menemukan bahwa 70% dari pasien yang datang ke dokter ternyata disebabkan karena “makanan” yang masuk dalam pikiran mereka.

Emosinegatif seperti rasa marah, iri hati dan kekesalan yang dibiarkan masuk ke dalam pikiran, lama-lama akan tumbuh menjadi pohon-pohon kemarahan dan kekecewaan. Penyakit hati inilah yang di kemudian hari berkembang menjadi penyakit jasmani.

Oleh karena itu, benih-benih emosi negatif tersebut harus segera dibasmi sebelum ia mengakar dan tumbuh menjadi pohon yang tinggi. Caranya adalah dengan menanamkan emosi dan pikiran positif di dalam otak Anda. Hal-hal positif tadi ibarat multivitamin yang akan menumbuhkan kebahagiaan di dalam diri Anda.

Kebahagiaan berbeda dengan kepuasaan. Kepuasan sangat tergantung dengan penilaian Anda terhadap sebuah kejadian. Saat sebuah usaha meraih kesuksesan, di situlah Anda akan merasakan kepuasan. Demikian pula sebaliknya, kegagalan cenderung akan menciptakan ketidakpuasan.

Namun untuk meraih kebahagiaan Anda tidak bisa melihat suatu kejadian secara terpisah. Anda harus bisa melihatnya dalam bentuk sebuah gambaran besar. Sebuah kegagalan tetap bisa membawa kebahagiaan jika Anda menganggapnya sebagai pelajaran berharga untuk perbaikan langkah di masa depan.

Jika diibaratkan sebagai sebuah rumah, maka dasar dari kebahagiaan adalah sifat sabar. Sabar adalah ketika Anda mau menjalani prosesdalam kehidupan ini satu demi satu. Jika Anda ingin kaya tapi tidak mau menjalani prosesnya—yaitu dengan bekerja atau belajar—maka itu berarti Anda kurang sabar dalam menjalani kehidupan.

Namun seringkali banyak manusia tidak bisa menikmati proses dan senantiasa terburu-buru ingin segera menuai hasilnya. Akibatnya, proses pun dijalani dengan penuh keterpaksaan. Di titik ekstrem, proses bahkan dianggap sebagai siksaan.

Sabar juga bisa diraih ketika badan dan pikiran Anda menyatu saat menjalani sebuah proses. Anda tidak dapat menikmati proses ketika badan dan pikiran Anda berada di tempat yang berbeda.

Contohnya, badan Anda berada di kantor namun pikiran berada di rumah karena anak Anda sedang sakit. Dalam kondisi semacam ini tentu sulit untuk bisa menemukan kebahagiaan saat menjalani proses.

Ingat, sabar adalah kata kerja aktif. Jika Anda gagal dengan cara A maka Andaharus mencoba dengan cara B. Jika Anda gagal dengan cara B maka Anda harus mencoba lagi dengan cara C, demikian seterusnya hingga kesuksesan bisa didapatkan.

Ingatlah bahwa ketika Anda gagal berkali-kali sebelum akhirnya bisa mendapatkan kesuksesan maka kenikmatannya jauh lebih besar daripada apabila Anda tidak pernah gagal.

Tips praktis lainnya untuk meraih sifat sabar adalah dengan latihan nafas dalam kondisi penuh kesadaran. Selama manusia hidup, hampir setiap detik ia bernafas, namun jarang sekali ia menyadari aktivitas tersebut.

Melalui teknik bernafas dengan penuh kesadaran, Anda akan benar-benar merasakan nikmatnya aktivitas ini.Anda akan bisa merasakan kenikmatan—yang selama ini terabaikan—di saat udara yang Tuhan berikan secara gratis tersebut masuk ke lubang hidung. Itu semua baru bisa dirasakan ketika bernafas dilakukan dengan penuh kesadaran.

“Aku tidak perlu mencari momen-momen luar biasa untuk menemukan kebahagiaan. Itu semua ada di depanku jika aku menaruh perhatian dan mempraktikkan rasa syukur.” ~ Brene Brown 

Bersyukur adalah kemampuan untuk melihat kedalam. Kemampuan untuk memahami bahwa sesungguhnya manusia dianugerahi Sang Pencipta dengan banyak sekali hadiah berupa potensi yang luar biasa.

Apabila Anda menyadari bahwa segala sesuatu yang Anda dapatkan di dunia ini adalah hadiah dari Sang Pencipta dan betapa bernilainya hadiah tersebut, maka Anda dapat menjadi manusia yang bersyukur.

Bersyukur juga muncul dari kesadaran bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas ijin-Nya dan bahwa Sang Pencipta—dengan sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang-Nya—selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Setiap masalah pasti ada hikmahnya.

Dimensi lain dari rasa syukur adalah kemampuan untuk mengeksplorasi potensi-potensi yang diberikan-Nya agar bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang banyak. Intinya, bagaimana menjadikan hadiah dari Tuhan tersebut agar tidak hanya dinikmati seorang diri.

Setelah menengok ke dalam lewat rasa syukur, selanjutnya Anda juga perlu melihat ke luar.

Inilah yang oleh Arvan Pradiansyah disebut dengan sikap sederhana (simplicity). Sederhana bukan berarti hidup apa adanya. Sikap sederhana yang dimaksud adalah kemampuan untuk melihat masalah kehidupan secara sederhana dan langsung menangkap esensinya. Dengan inilah Anda akan dapat merespon masalah dengan tenang.

Kesederhanan mengajarkan Anda untuk mengambil jarak dalam melihat masalah sehingga ia nampak lebih obyektif dan apa adanya.

Mengambil jarak berarti menempatkan sebuah permasalahan seolah-olah bukan milik Anda, sehingga subyektifitas emosional bisa dikurangi. Dengan menjaga jarak seolah-olah Anda berperan sebagai pengamat atas masalah Anda sendiri.

Contohnya adalah kesederhanaan dalam menghadapi pernikahan. Banyak orang yang terlalu rumit dalam memandang pernikahan. Esensi dalam pernikahan adalah komitmen di antara sepasang manusia. Namun pikiran manusia cenderung rumit dalam memandangnya. Akhirnya, terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan di luar masalah komitmen kedua pasangan yang justru dipersoalkan.

Rumus kebahagiaan berikutnya adalah rasa kasih. Kasih adalah ketika Anda dapat melihat orang lain sebagai bagian dari diri Anda sendiri. Anda akan merasa bahagia apabila orang lain menjadi bahagia dan bersedih ketika orang lain mengalami kesusahan.

Bukankah ketidakbahagiaan sering muncul karena sikap iri dan dengki atas keberhasilan orang lain? Obat untuk penyakit semacam itu adalah rasa kasih.

Kasih adalah kata kerja aktif (me-) bukan pasif (di-). Artinya, untuk meraih kebahagiaan Anda harus lebih banyak mengasihi, bukan selalu berharap untuk dikasihi. Pada kenyataannya, ada banyak orang yang tidak merasa bahagia karena selalu menunggu untuk dikasihi oleh orang lain. Lebih parah lagi, mereka yang berharap untuk dikasihani.

Perubahan paradigma tersebut tergantung pada kedewasaan seseorang. Mereka yang bermental seperti anak kecil hanya akan berharap untuk dicintai, disayangi dan diberi. Sedangkan mereka yang memiliki kedewasaan akan lebih banyak berpikir untuk mencintai, menyayangi dan memberi.

“Memberi” adalah perwujudan dari kasih, karena kasih tanpa memberi hanya akan menjadi teori. Kasih tanpa memberi hanya akan menjadi kata-kata tanpa bukti nyata.

Kebahagian akan dirasakan apabila tangan Anda berada di atas, yaitu ketika Anda dapat bermanfaat bagi orang lain. Ingat-ingatlah ketika Anda menyantuni orang miskin atau menyekolahkan anak yang fakir, bukankah di saat itu ada kebahagiaan yang Anda rasakan?

Memberi yang sejati adalah apabila dilakukan dengan dasar kasih/cinta. Seseorang mungkin saja memberi tanpa cinta. Contohnya, pemberian karena ada agenda terselubung dibelakangnya atau pemberian yang dilandasi oleh keterpaksaan. Ingatlah bahwa pemberian-pemberian semacam ini tidak akan membawa kebahagiaan.

“Memberi” sebenarnya lebih membahagiakan dibandingkan dengan “diberi”. Hanya saja, ketika Anda bertanya pada banyak orang, umumnya merekamengaku lebih suka diberi dari pada memberi.

Padahal, ketika Anda diberi oleh orang lain hasilnya hanyalah suatu kesenangan (pleasure), sedangkan ketika Anda memberi pada orang lain, maka hasilnya adalah sebuah kebahagiaan (happiness). Mengapa seperti itu? Karena ketika Anda memberi maka tangan Anda berada diatas. Hal tersebut menghasilkan makna hidup yang lebih besar sebagai manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain di sekelilingnya.

Memberi yang paling sulit adalah ketika Anda harus memberi maaf. Padahal, manfaat dan kebahagiaan yang besar akan didapatkan oleh siapa saja yang mau memaafkan.Mengapa memaafkan adalah memberi yang paling sulit?

Jika digambarkan dalam garis bilangan bulat, memberi ibarat bergerak dari titik 0 ke 1. Namun memaafkan ibarat bergeser dari titik minus ke 1. Artinya, ada lompatan yang lebih tinggi.

Posisi awal memaafkan adalah titik minus karena ada hati yang terlanjur terluka dan tersakiti. Ketika memaafkan, Anda ibarat memberikan sesuatu pada seseorang yang sebenarnya sudah melukai Anda.

“Orang yang lemah tidak akan bisa memaafkan. Memberi maaf adalah ciri orang yang kuat.” ~ Mahatma Gandhi  

Formula terakhir untuk meraih kebahagiaan adalah sikap berserah diri kepada Sang Pencipta.  Kebahagiaan Anda tidak akan sempurna jika belum sampai ke tahap puncak ini.

Berserah diri merupakan salah satu bentukkeimanan seorang manusia. Keimanan manusia bukan hanya terbatas percaya pada keberadaan Tuhan dengan segala sifat-sifat mulia-Nya, namun juga percaya sepenuhnya bahwa Dia senantiasa memilihkan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari kadangkala manusia mendapatkan sesuatu yang jauh dari harapannya, padahal ia merasa sudah berusaha dan berdoa dengan maksimal. Pada titik inilah Anda harus percaya secara mutlak bahwa apapun yang terjadi pada diri Anda itulah hal terbaik yang telah diputuskan-Nya.

Berserah diri berbeda dengan pasrah.

Berserah diri berarti memberikan kepercayaan untuk menitipkan milik Anda kepada yang Maha Mampu. Sedangkan pasrah berarti Anda tidak menitipkan apapun kepada siapapun. Karena itulah pasrah tidak akan menimbulkan ketenangan dan kedamaian bagi manusia.

Berserah diri juga bermakna meminta bantuan kepada Yang Maha Kuat agar Dia menyelesaikan hal-hal yang Anda tidak mampu selesaikan sendiri, dengan syarat Anda sudah menyiapkan “syarat-syarat”-nya.

Barulah di ujungnya Anda berserah ketika sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa Anda lakukan. Melalui sikap berserah diri, Anda akan terhindar dari sifat sombong. Sebagai manusia, Anda sadar bahwa tugas Anda hanya berusaha sedangkan keputusan terbaik atas hasilnya adalah wewenang-Nya.

Ketujuh formula diatas harus dilaksanakan secara keseluruhan agar lengkap kebahagiaan Anda. Sabar adalah dasar dari “Rumah Kebahagiaan”. Anda akan sulit untuk bersyukur, bersikap sederhana, memberi dan memafkanjika Anda tidak bersabar dalam menjalani proses kehidupan. Bukankah di dalam Al Qurán juga ditegaskan bahwa Allah SWT selalu bersama-sama dengan orang yang sabar?

Hal menarik lainnya dari formula kebahagiaan Arvan Pradiansyah ini adalah hubungan di antara ketujuh prinsip tersebut.

Sabar,syukur dan sikap sederhana rumusnya adalah menerima. Sedangkan cinta kasih, memberi dan memaafkan rumus dasarnya adalah melepaskan. Dan rumus dari berserah diri adalah menerima sekaligus melepaskan.

Dengan berserah diri, Anda menerima apapun pemberian dari Sang Pencipta, termasuk masalah-masalah di dalam kehidupan. Masalah-masalah yang berada dalam jangkauan kemampuan bisa langsung Anda selesaikan.

Sedangkan untuk menghadapi masalah-masalah yang berada di luar kemampuan, Anda harus bisa melepaskan standar-standar ideal menurut ukuran manusia dan menyerahkannya pada Sang Pencipta untuk memilihkan solusi yang terbaik.

Itulah makna berserah diri adalah “menerima” sekaligus “melepaskan”.

  1. Dasar atau fondasi dari kebahagiaan adalah kemampuan untuk bersabar dalam menjalani proses di dalam kehidupan.
  2. Berikutnya, Anda harus bisa menumbuhkan rasa syukur dengan melihat potensi-potensi luar biasa yang telah dititipkan Sang Pencipta ke dalam diri Anda.
  3. Dalam menghadapi masalah yang ada di luar sana, Anda harus bisa menyederhanakan masalah agar terlihat esensinya.
  4. Kebahagiaan juga dibangun melalui hubungan Anda dengan orang lain yang dilandasi cinta kasih, sikap memberi dan kerelaan hati untuk memaafkan.
  5. Maaf adalah salah satu bentuk pemberian yang paling sulit dilakukan.
  6. Puncak dari kebahagiaan akan diperoleh saat seseorang bisa berserah diri kepada-Nya.

Sumber : Pimtar

Yuk bagikan di sosmed sahabat, sebagai sedekah ilmu dan informasi… Terima kasih 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

BUKU TES SEKOLAH KEDINASAN TNI POLRI CPNS 2024
Hello. Add your message here.