5 Faktor Penyebab Bullying (Perundungan) yang Dialami Kalangan Remaja

Yuk bagikan infonya...

Ilustrasi (Detik.com)

Perundungan merupakan tindakan yang menggunakan kekuasaan untuk menyakiti seorang individu maupun sekelompok orang, baik secara verbal, fisik, dan psikologis, sehingga korbannya akan merasa trauma, tertekan, dan tidak berdaya.

Remaja yang menjadi korban perundungan lebih berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan, baik secara mental maupun fisik.

Beberapa masalah yang kemungkinan akan diderita oleh seorang anak yang menjadi korban bullying, yaitu munculnya berbagai masalah mental seperti kegelisahan, depresi, dan masalah tidur yang akan terbawa hingga berumur dewasa, keluhan kesehatan fisik (seperti sakit perut, sakit kepala, dan ketegangan otot), rasa tidak aman ketika berada di lingkungan sekolah, serta penurunan semangat belajar dan prestasi akademis.

Dalam beberapa kasus yang cukup langka, anak-anak korban perundungan mungkin akan menunjukkan sifat kekerasan.

Adanya kasus perundungan ini disebabkan oleh beberapa hal, apa sajakah itu? Ketahui beberapa penyebab terjadinya perundungan melalui artikel ini, Grameds. Namun, sebelum itu, ada baiknya kita membahas tentang pengertian perundungan terlebih dahulu.

A. Pengertian Perundungan

Perundungan berasal dari kata bullying yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu bull yang memiliki pengertian “banteng yang senang menanduk ke mana saja.

Secara etimologi, kata bully dalam bahasa Indonesia berarti “penggertak” dan “orang yang sering mengganggu orang lemah”, sedangkan secara terminologi Ken Rigby mendefinisikannya sebagai “suatu hasrat untuk menyakiti”.

Hasrat tersebut ditunjukkan ke dalam aksi yang mengakibatkan seseorang menderita. Aksi itu dilakukan secara langsung oleh seorang individu atau sekelompok orang yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang-ulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.

Perundungan merupakan suatu perilaku kekerasan dan terjadi pemaksaan secara psikologis maupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih “lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang.

Pelaku perundungan bisa saja seseorang, sekelompok orang, atau mereka yang mempersepsikan dirinya mempunyai kekuasaan untuk melakukan apa pun terhadap korbannya.

Sementara itu, korban juga mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya, dan selalu merasa terancam olehnya.

B. Peran dalam Perundungan

Pihak-pihak yang terlibat dalam perilaku perundungan dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu:

1. Bullies (Pelaku Perundungan)

Pelaku perundungan merupakan seseorang yang secara fisik atau emosional melukai orang lain secara berulang-ulang.

Remaja yang diidentifikasi sebagai pelaku perundungan sering kali menunjukkan fungsi psikososial yang lebih buruk dibandingkan korban perundungan dan seseorang yang tidak terlibat dalam perilaku tersebut.

Pelaku perundungan juga cenderung menunjukkan gejala depresi yang lebih tinggi dibandingkan seseorang yang tidak terlibat dalam perilaku itu atau korban. Pelaku perundungan cenderung mendominasi orang lain dan mempunyai kemampuan sosial dan pemahaman emosi orang lain yang sama.

Menurut Stephenson dan Smith, karakter pelaku perundungan antara lain:

  • Tipe percaya diri, yaitu secara fisik kuat, agresivitas, merasa aman dan biasanya terkenal di lingkungan pergaulannya.
  • Tipe pencemas, yaitu secara akademik lemah dalam berkonsentrasi, kurang populer, dan kurang merasa aman.
  • Pelaku perundungan dalam situasi dapat menjadi korban perundungan.

Selain itu, para peneliti menyimpulkan jika karakteristik pelaku perundungan biasanya adalah agresif, mempunyai konsep positif mengenai kekerasan, impulsif, dan mempunyai kesulitan dalam berempati.

Selain itu, pelaku perundungan biasanya agresif secara verbal maupun fisikal, ingin populer, sering membuat kegaduhan, mencari-cari kesalahan orang lain, iri hati, pendendam, hidup berkelompok, dan menguasai kehidupan sosial di lingkungannya.

Pelaku perundungan menempatkan dirinya di tempat tertentu atau di sekitarnya, misalnya dia merupakan tokoh populer di sekolahnya, gerak geriknya selalu dapat ditandai dengan sering berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar, menyepelekan, dan melecehkan orang lain.

2. Victim (Korban Perundungan)

Korban perundungan merupakan seseorang yang sering kali menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan, dan hanya menunjukkan sedikit pertahanan diri melawan penyerangnya. Korban perundungan cenderung menarik diri, cemas, depresi, dan takut dengan keadaan yang baru dibandingkan dengan teman sebayanya yang tidak menjadi korban.

Seseorang yang menjadi korban perundungan dilaporkan lebih menyendiri dan kurang bahagia di lingkungannya, serta mempunyai kerabat dekat yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang lainnya. Korban perundungan juga dikategorikan dengan perilaku sensitif, hati-hati, dan pendiam.

Mereka biasanya adalah orang yang baru di lingkungannya, orang termuda, tubuhnya lebih kecil, kadang ketakutan, tidak dapat melindungi dirinya, seseorang yang pernah mengalami trauma atau pernah disakiti sebelumnya, sangat peka, menghindari teman sebaya untuk menghindari rasa sakit yang lebih parah, dan merasa sulit untuk memperoleh pertolongan.

Selain itu, korban perundungan juga terkadang merupakan seseorang yang penurut, sering merasa cemas, kurang percaya diri, mudah dipimpin, perilakunya dianggap mengganggu orang lain, sering melakukan hal-hal untuk meredam kemarahan orang lain, tidak mau berkelahi, lebih suka menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, pemalu, selalu menyembunyikan perasaannya, pendiam, tidak ingin menarik perhatiaan orang lain, gugup, dan peka.

Kategori lain yang dapat ditambahkan kepada korban perundungan, yaitu anak yang miskin atau kaya, ras atau etnisnya dianggap inferior dan layak dihina, orientasi gender atau seksualnya dianggap inferior, agamanya dianggap inferior, berbakat, dan cerdas.

Dirinya dijadikan target perundungan karena unggul, anak yang merdeka, status sosialnya rendah, siap mengekspresikan emosinya setiap waktu, pendek atau jangkung, gemuk atau kurus, menggunakan kacamata atau kawat gigi, berjerawat atau mempunyai masalah kulit lainnya.

Selanjutnya, korban perundungan juga merupakan seseorang yang mempunyai ciri-ciri fisik yang berbeda dengan mayoritas anak lainnya, misalnya seseorang dengan ketidakcakapan fisik atau mental dan memiliki attention deficit hyperactive disorder (ADHD) atau sulit untuk memfokuskan perhatiannya kepada suatu hal.

Pelaku perundungan kemungkinan akan bertindak sebelum berpikir lebih jauh. Mereka tidak mempertimbangkan konsekuensi atas perilakunya sendiri, sehingga selalu disengaja dan tidak menganggapnya sebagai tindakan negatif.

Sementara itu, korban dianggap berada di tempat yang keliru dan pada saat yang salah. Dia diserang karena pelaku ingin menyerang seseorang di tempat itu dan saat itu juga.

3. Bully Victim

Bully victim merupakan pihak yang terlibat di dalam perundungan, tetapi dirinya juga menjadi korban perilaku tersebut. Pihak ini menunjukkan level agresivitas verbal dan fisik yang lebih tinggi daripada orang lain di sekitarnya.

Bully victim juga dilaporkan mengalami peningkatan simptom depresi, merasa kesepian, dan cenderung merasa sedih dibandingkan orang lain.

Bully victim juga memiliki karakter reaktivitas, regulasi emosi yang buruk, kesulitan dalam bidang akademis, penolakan dari teman sebayanya, dan kesulitan beradaptasi di lingkungannya.

4. Neutral

Neutral merupakan pihak yang tidak terlibat berperan perilaku perundungan.

C. Faktor Penyebab Terjadinya Perundungan

Menurut Coloroso (2007), faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perundungan antara lain:

1. Keluarga

Pelaku perundungan sering kali berasal dari keluarga yang bermasalah, orang tuanya sering menghukum dirinya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh dengan stres dan permusuhan.

Seorang anak akan mempelajari perilaku perundungan ketika melihat berbagai konflik yang terjadi di dalam keluarganya. Mereka lantas menirukannya dan dilakukan kepada teman-temannya.

Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku coba-coba itu, dirinya akan mempelajari jika “mereka mempunyai kekuatan dan diperbolehkan untuk berperilaku agresif”.

Perilaku tersebut dianggap itu dapat meningkatkan status dan kekuasaannya di lingkungan sosialnya, misalnya sekolah. Mereka dari sinilah lantas mengembangkan perilaku perundungan.

2. Sekolah

Pihak sekolah sering kali mengabaikan keberadaan perundungan ini. Akibatnya, anak-anak sebagai pelaku perundungan akan memperoleh penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak yang lain.

Perundungan berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang sering memberikan masukan negatif kepada para siswanya, misalnya hukuman yang tidak membangun, sehingga tidak meningkatkan rasa menghargai dan menghormati antarsesama anggota sekolah.

3. Faktor Kelompok Sebaya

Anak-anak ketika berinteraksi di lingkungan sekolah dan teman-temannya di sekitar rumah terkadang terdorong untuk melakukan perundungan.

Beberapa anak melakukan perundungan sebagai upaya untuk menunjukkan jika mereka dapat masuk dalam kelompok tertentu, walaupun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan tindakan tersebut.

4. Keadaan Lingkungan Sosial

Keadaan lingkungan sosial juga dapat menjadi penyebab munculnya perilaku perundungan. Salah satu faktor lingkungan sosial yang mengakibatkan tindakan perundungan adalah kemiskinan.

Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan di antara siswa.

5. Tayangan Televisi dan Media Cetak

Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku perundungan dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survei yang dilakukan oleh Lee (2010) menunjukkan jika 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya. Umumnya, mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

Penulis : Sevilla Nouval (Gramedia)

Yuk bagikan di sosmed sahabat, sebagai sedekah ilmu dan informasi… Terima kasih 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

BUKU TES SEKOLAH KEDINASAN TNI POLRI CPNS 2024
Hello. Add your message here.