Who Moved My Cheese? Cara Jitu Menghadapi Lika-Liku Perubahan dalam Kehidupan dan Pekerjaan

Yuk bagikan infonya...

Scotsman.com

Who Moved My Cheese? menjelaskan bahwa perubahan merupakan suatu hal yang lazim dan pasti terjadi dalam kehidupan.  Di dalam buku ini Anda akan mempelajari cara bijak dalam menyikapi perubahan melalui sebuah kisah metafora yang jenaka.

Siapa Penulis Buku Ini?

Spencer Johnson M.D. adalah seorang penulis buku-buku laris internasional. Ia mendapatkan gelar Master di bidang psikologi dari University of Southern serta Medical Clerkship dari Mayo Clinic dan Harvard Institute.

Baca Juga : Ringkasan 25 Buku Pengembangan Diri Terbaik

Untuk Siapa Buku Ini?

  1. Para pemimpin yang ingin sukses dalam menghadapi perubahan;
  2. Para pebisnis yang ingin bertahan dan berkembang di tengah ketidakpastian;
  3. Siapa pun yang ingin sukses di tengah dinamika perubahan.

Who Moved My Cheese?

Cara sukses dalam menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan

Perubahan merupakan suatu hal yang pasti terjadi dalam kehidupan, baik dalam urusan bisnis, pekerjaan, pernikahan maupun kesehatan.

Oleh karena itu, Anda perlu menyikapi setiap perubahan yang terjadi dengan bijak serta mempersiapkan diri agar mampu menghadapi dan melewatinya dengan sukses.

Dalam buku ini Anda akan mempelajari cara menyikapi dan menghadapi perubahan yang terjadi melalui sebuah kisah sederhana yang sarat  makna.

Hal-hal menarik yang akan Anda pelajari antara lain:

  • Bagaimana cara menyikapi setiap perubahan yang terjadi dalam hidup ;
  • Mengapa Anda perlu berpikir secara sederhana dalam mengatasi masalah;
  • Kenapa menyalahkan keadaan tidak menghasilkan apa-apa;
  • Bagaimana cara mendorong diri Anda agar ikut berubah; dan
  • Bagaimana cara menikmati perubahan-perubahan baru dalam hidup Anda.

Perubahan merupakan suatu hal yang akan terus terjadi dalam kehidupan Anda, baik dalam urusan bisnis, pekerjaan, kesehatan maupun pernikahan.

Namun, banyak orang yang tidak sadar akan datangnya berbagai perubahan ini sehingga mereka tidak mempersiapkannya dengan baik. Akibatnya, mereka jadi terkaget-kaget sendiri ketika perubahan menghampiri.

Faktor utama yang membuat seseorang tidak mau berubah adalah rasa nyaman atas kondisi kecukupan yang dialami saat ini.

Rasa nyaman akan kondisi tersebut membuat mereka tidak mau belajar dan mencoba hal-hal baru yang berguna untuk menghadapi perubahan. Padahal, perubahan hampir pasti tidak bisa dihindari.

Dalam kisah “Who Moved My Cheese?“ terdapat empat tokoh utama yang masing-masing memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi perubahan dan menjalani kehidupan.

Empat tokoh tersebut adalah Sniff, Scurry, Hem dan Haw.

Sniff dan Scurry merupakan dua ekor tikus sedangkan Hem dan Haw merupakan dua orang kurcaci sebesar tikus yang berpikir layaknya seorang manusia.

Keempat tokoh ini sama-sama berjuang untuk mendapatan keju yang mereka idam-idamkan dalam sebuah labirin yang penuh lika-liku dan ketidakpastian.

Dalam kehidupan nyata, keju melambangkan kesuksesan dan kebahagiaan yang diinginkan oleh setiap orang. Sedangkan labirin melambangkan tempat mencari kesuksesan dan kebahagiaan tersebut seperti perusahaan, keluarga atau masyarakat.

Keempat tokoh ini juga menggambarkan beragam cara Anda dalam menghadapi sebuah perubahan.

Sniff dan Scurry bersikap sederhana dan tidak berpikir panjang dalam menghadapi sebuah perubahan. Meskipun demikian, Sniff mampu mencium adanya perubahan pada keju yang semakin habis sedangkan Scurry bisa segera bertindak ketika persediaan keju menipis.

Hal sebaliknya terjadi pada Hem dan Haw.

Seperti sebagian banyak orang, kedua kurcaci ini sudah merasa aman dan nyaman dengan keju yang mereka nikmati saat ini sehingga mereka tidak peduli dengan perubahan yang terus terjadi.

Walaupun demikian, Haw tetap lebih beruntung daripada Hem karena akhirnya mau bersikap positif dan beradaptasi dengan perubahan.

“Memperhatikan perubahan-perubahan kecil sejak awal membantu Anda beradaptasi dengan perubahan-perubahan besar yang akan muncul.” ~ Spencer Johnson  

Sniff, Scurry, Haw dan Hem memiliki rutinitas yang sama setiap harinya. Mereka bangun di pagi hari , menggunakan pakaian jogging dan sepatu kemudian berlari menyusuri labirin yang penuh liku untuk mencari keju yang mereka idam-idamkan.

Layaknya tikus, Sniff dan Scurry menjalani hari-harinya secara sederhana tanpa berpikir terlalu panjang. Dalam mencari keju, mereka menggunakan sistem sederhana yaitu trial and error (coba-coba).

Sniff dan Scurry berusaha mengendus-endus keberadaan keju di setiap bagian labirin yang mereka temui kemudian melanjutkan mencari di bagian yang lain jika mereka tidak menemukannya di sana.

Berbeda dengan Sniff dan Scurry, Hem dan Haw menjalani kehidupan mereka layaknya manusia.

Dalam mencari keju yang diidam-idamkan, mereka sering berpikir terlalu kompleks serta melibatkan emosi. Kerumitan berpikir dan keterlibatan emosi ini kadang membuat mereka terlalu larut dalam sebuah masalah, khususnya ketika mereka mengalami kegagalan.

Walaupun demikian, Sniff, Scurry, Hem dan Haw berhasil menemukan cara mereka sendiri untuk menemukan keju yang mereka cari dalam labirin yang penuh tantangan dan lika-liku.

Pada suatu hari, mereka berhasil menemukan keju dalam jumlah yang cukup banyak di Station C dari labirin. Hal ini membuat mereka begitu bahagia karena menemukan apa yang mereka perjuangkan dan idam-idamkan selama ini.

Hem dan Haw begitu bahagia dengan keju yang mereka temukan sehingga mereka mulai mengubah rutinitas harian mereka.

Tidak seperti sebelumnya, Hem dan Haw kini bangun lebih siang dan hanya berjalan santai menuju Station C seakan-akan keju tersebut akan tetap ada di sana dan dalam jumlah yang sama banyaknya dengan sebelumnya.

Berbeda dengan Hem dan Haw, Sniff dan Scurry tetap mempertahankan rutinitas harian mereka. Mereka berangkat di pagi hari, menggunakan perlengkapan mereka dan berlari menuju Station C.

Sebelum memakan potongan keju yang ada, Sniff terlebih dahulu mengendus-endus untuk mengetahui perubahan yang terjadi di sana.

Sampai pada suatu hari, Sniff dan Scurry tidak menemukan satu potong keju pun di sana. Mereka pun segera meninggalkan tempat tersebut dan kembali mencari sumber keju yang baru.

Sementara itu, Hem dan Haw sangat terkejut dengan kondisi tersebut serta  tidak mau menerima kenyataan yang ada.

Berbeda dengan Sniff dan Scurry yang memutuskan untuk segera mencari sumber keju yang baru, Hem dan Haw masih tidak mampu menerima kenyataan dan perubahan yang terjadi.

Lebih buruk lagi, mereka malah menyalahkan keadaan dan mencoba menduga-duga siapa yang telah memindahkan keju mereka. “Who moved mcheese?”, demikian teriakan mereka.

Rasa memiliki terhadap keju yang terlalu tinggi dan rasa nyaman akan kondisi sebelumnya membuat mereka tidak menyadari perubahan yang terjadi setiap hari. Mereka tidak dapat menerima kenyataan yang ada karena merasa bahwa mereka bukan penyebab dari hilangnya keju-keju tersebut, melainkan orang lain.

Hem dan Haw meyakini bahwa ada seseorang yang mengambil dan memindahkan keju mereka sehingga mereka memutuskan untuk terus mencari keju di sekitar tempat tersebut.

Hari-hari pun mereka habiskan dengan melubangi dinding-dinding labirin untuk mencari tempat keju mereka disembunyikan. Namun, lubang besar yang mereka buat di dinding tersebut tidak menghasilkan apa-apa.

Setiap hari mereka pun kembali ke tempat yang sama  dengan harapan bahwa akan ada seseorang yang mengembalikan keju mereka ke tempat semula.

Namun, mereka mulai merasa tertekan, kelelahan dan kelaparan karena persediaan keju di rumah mereka juga semakin menipis.

Sementara itu, Sniff dan Scurry terus mencari sumber keju yang baru di dalam labirin yang memang tidak menjanjikan kepastian.

Namun, setelah berjuang tanpa kenal lelah selama beberapa waktu akhirnya mereka sampai di Station N yang di dalamnya terdapat keju yang lebih melimpah dibandingkan tempat sebelumnya.

Mereka pun berteriak kegirangan dan sangat berbahagia dengan apa yang mereka temukan.

“Jangan berpikiran bahwa perubahan akan mengarah kepada sesuatu yang buruk. Namun berpikirlah bahwa perubahan juga bisa mengarahkan Anda kepada sesuatu yang lebih baik.” ~ Spencer Johnson

Sadar tidak memperoleh hasil apapun dari usaha yang mereka lakukan, Haw mulai berpikir bahwa mereka harus berubah dan mulai mencari sumber keju yang baru seperti Sniff dan Scurry.

Sedangkan Hem tetap bersikeras untuk bertahan karena takut dengan bahaya yang akan dihadapi jika kembali ke labirin. Selain itu, ia masih memiliki keyakinan bahwa kejunya akan dikembalikan ke tempat semula.

Namun, batas kesabaran Haw sudah sampai pada titik puncaknya. Bahkan, ia mulai menertawakan dirinya sendiri karena melakukan hal yang sia-sia setiap harinya.

Ia mulai menyadari bahwa kondisi memang sudah berubah dan ia pun harus segera berubah meskipun rasa takut masih membayanginya.

Ham mulai berimajinasi tentang bermacam jenis keju baru yang akan ia temukan di dalam labirin sehingga hal itu cukup menyemangatinya untuk segera memulai perjalanan baru. Ham pun memantapkan dirinya untuk mulai menelusuri lorong-lorong labirin.

Seiring berjalannya waktu, ketakutannya pun mulai berkurang. Hal-hal yang ditakutinya selama ini ternyata tidak pernah terjadi.

Di saat yang sama, ia juga mempelajari hal-hal yang baru dari setiap momen yang ia lalui.

Haw merasakan bahwa kondisinya saat ini jauh lebih baik dan lebih bahagia dibandingkan dengan kondisi sebelumnya meskipun saat ini ia belum menemukan sumber keju baru yang ia cari.

Ia mulai menghilangkan ketakutan-ketakutan yang ada dalam pikirkannya dan menggantinya dengan hal-hal positif yang akan ia temukan nantinya. Sikap positif ini membuat langkahnya semakin ringan dan semakin bersemangat dalam menghadapi berbagai tantangan yang ditemuinya.

Di dalam perjalanan, Haw menemukan keju-keju yang tidak terlalu banyak namun cukup untuk mengatasi lapar yang ia rasakan.

Ia pun ingat kepada Hem dan memutuskan untuk membagikan keju yang ia peroleh kepada sahabatnya tersebut sekaligus mengajaknya untuk ikut mencari keju yang baru.

Sayangnya, Hem tidak mau menerima keju yang ia berikan karena dianggap memiliki rasa yang berbeda dengan keju sebelumnya. Hem juga menolak ajakannya untuk kembali ke labirin.

Hem tidak menginginkan keju yang baru dan hanya menginginkan keju yang ia miliki sebelumnya. Kecintaannya terhadap keju yang lama ini membuatnya resisten terhadap keju yang baru dan menolak untuk berubah.

Berbeda dengan Hem, Haw justru mulai menikmati kehidupannya yang baru di dalam labirin.

Ia begitu bahagia saat ini bukan karena keju yang ia peroleh namun karena ia mampu melawan ketakutan yang selama ini ia rasakan. Ia pun sudah mengikhlaskan keju yang lama dan mulai mencari keju yang baru.

Akhirnya, Haw sampai juga ke Station N yang di dalamnya terdapat berbagai jenis keju dalam jumlah yang begitu banyak. Ia pun bertemu dengan Sniff dan Scurry yang sudah menemukannya terlebih dahulu.

Walaupun demikian, ia tidak mau terjebak dengan kondisi nyaman yang ia miliki sekarang. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Haw tidak lagi bermalas-malasan seperti yang ia lakukan di Station C.

Setiap hari, ia bersama Sniff dan Scurry selalu memastikan adanya perubahan yang terjadi pada keju mereka dan bersiap-siap mencari sumber keju yang baru di bagian labirin yang lain.

Saat ini, Haw sudah berubah menjadi pribadi yang baru.

Ia menyadari bahwa perubahan merupakan sebuah kepastian yang harus dipersiapkan dan dihadapi. Ia juga mengubah keyakinannya bahwa perubahan tidak selalu mengarah kepada hal yang buruk melainkan juga bisa mengarah kepada hal-hal yang lebih baik.

Sniff, Scurry, Haw dan Hem merupakan tokoh imajiner yang mewakili cara Anda bersikap dalam menghadapi perubahan yang terjadi dalam hidup Anda.

Sniff adalah seseorang yang mampu “megendus” lebih awal berbagai perubahan yang terjadi dalam hidup, sedangkan Scurry suka mengeksekusi berbagai program yang perlu dilakukan untuk mewujudkan perubahan tersebut.

Sebaliknya, Hem adalah seseorang yang hanya ingin berada dalam posisi aman dan nyaman dan takut dengan perubahan.

Sama halnya dengan Hem, Haw juga takut terhadap perubahan namun ia mau berubah jika Anda memberikannya visi yang akan mengarahkannya ke kondisi yang lebih baik.

  1. Perubahan merupakan sebuah kepastian dalam kehidupan yang harus Anda sadari dan persiapkan.
  2. Rasa nyaman atas kondisi yang ada merupakan faktor utama yang membuat seseorang enggan untuk berubah.
  3. Tidak semua masalah dalam kehidupan bersifat kompleks, adakalanya cukup diselesaikan dengan solusi yang sederhana.
  4. Menyalahkan keadaan dan orang lain tidak dapat menyelesaikan sebuah masalah karena sering kali masalah itu berasal dari dalam diri Anda sendiri.
  5. Berpikir positif terhadap apa yang akan Anda peroleh ketika berubah merupakan kunci utama untuk memulai sebuah perubahan.
  6. Semakin cepat Anda melupakan dan mengikhlaskan hal-hal lama maka semakin cepat pula Anda beradaptasi dan menikmati hal-hal baru dalam hidup Anda.

Sumber : Pimtar

Yuk bagikan di sosmed sahabat, sebagai sedekah ilmu dan informasi… Terima kasih 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

BUKU TES SEKOLAH KEDINASAN TNI POLRI CPNS 2024
Hello. Add your message here.