Public Speaking : Pengaruhi Audiens Anda dengan Public Speaking dan Percakapan yang Efektif

Yuk bagikan infonya...

Luis Lacalle Pou, Presiden Uruguay / Insideover.com

Public Speaking memberikan panduan dan cara praktik berbicara di depan umum, menguasai audiens dari berbagai kalangan, dan ide-ide pidato. Di dalam buku ini, Anda akan belajar bagaimana melakukan public speaking dan percakapan yang efektif, yang sesuai dengan audiens Anda.

Siapa Penulis Buku Ini? 

Dale Carnegie dan J. Berg Esenwein dikenal sebagai penulis buku pengembangan diri dan kebahasaan, pembicara, dan juga pengajar public speaking. Buku ini merupakan kolaborasi dari dua penulis dan praktisi bahasa yang handal. Walaupun ditulis tahun 1915 oleh Dale Carnegie dan J. Berg Esenwein, buku ini diakui tetap relevan digunakan pada abad ke-21 ini.

(Google.com)

Buku dengan judul asli “The Art of Public Speaking ini” bukan hanya sebagai manual berbicara di depan umum, tetapi juga memberikan latihan, tuntunan, dan cara praktis dalam menyampaikan pidato.  Buku ini dijadikan rujukan utama dalam teknik public speaking.

Untuk Siapa Buku Ini? 

Bagi siapapun yang ingin melatih diri dalam public speaking dan percakapan yang efektif. Siapa saja yang menginginkan keterampilan bertutur dan berbicara dengan baik, untuk menguasai audiens kapanpun, di manapun.

Baca Juga : Ringkasan 30 Buku Pengembangan Diri Terbaik

Panduan dan cara praktis public speaking

Setiap orang tentu mengalami kesempatan untuk berbicara di depan umum, maupun didesak untuk berbicara di depan publik. Dan seringkali sesorang tidak siap, terbata-bata dan tidak percaya diri menghadapi audiens. Bahkan tidak memiliki ide untuk pidato ataupun bahan percakapan dengan publik.

Buku ini memberikan panduan dan cara praktis public speaking serta percakapan yang efektif, yang dapat digunakan dan dipelajari oleh siapapun. Tidak hanya sebagai manual berbicara di depan umum yang menarik, melainkan juga latihan dan cara pengucapan per kata untuk contoh-contoh pidato serta percakapan.

Beberapa halmenarik yang akan Anda pelajari dari rangkuman buku ini antara lain:

  • Bagaimana menguasai audiens saat berpidato;
  • Apa pentingnya aksentuasi, intonasi, dan perubahan tempo;
  • Apa saja manfaat jeda dan pengaruhnya saat berpidato;
  • Di mana letak kekuatan seorang pembicarayang handal; dan
  • Kenapa Anda perlu menggunakan kekuatan cadangan dalam berpidato.

Jika Anda memiliki energi positif, hampir pasti bahwa Anda akan menguasai audiens Anda. Namun jika Anda bimbang, kendali akan terlepas dari tangan Anda. Hal terpenting dalam berbicara di depan publik adalah buat diri Anda merasa tenang dan percaya diri.

Perasaan canggung tentu sering muncul saat berhadapan dengan audiens Anda. Cara mengatasinya adalah berhadapan dengan audiens sesering mungkin dan Anda tidak akan merasa malu lagi. Buku bisa saja memberi saran yang luar biasa tentang cara terbaik dalam membawa diri pada setiap situasi. Namun cepat atau lambat Anda harus benar-benar “menceburkan diri” dan mempraktikkannya.

Berlatih dan berlatih pidato di hadapan audiens akan menghilangkan semua rasa takut terhadap audiens dimanapun. Ketika Anda tampil untuk berbicara di depan publik, pusatkan perhatian Anda kepada materi yang akan Anda utarakan. Penuhi pikiran Anda dengan materi Anda, bukan dengan memikirkan pakaian Anda saat berada di atas podium.

Kesalahan yang dilakukan banyak pembicara adalah mereka tampil di hadapan audiens dengan pikiran kosong. Untuk tampil percaya diri, tidak cukup hanya berkonsentrasi pada materi pidato Anda. Tetapi Anda juga harus memiliki sesuatu untuk diandalkan, yakni punya pengetahuan dasar tentang materi pidato Anda dan lakukan persiapan.

Dalam menghadapi audiens, diamlah sejenak dan tatap mereka semua. Percayalah bahwa hampir semua yang hadir pasti menginginkan Anda berhasil dalam menyampaikan pidato. Jangan tergesa-gesa saat memulai pidato. Jangan meminta maaf karena itu tidak penting. Tarik napas dalam-dalam, berskap santai dan awali pidato dengan nada suara tenang.

Berdirilah di hadapan audiens Anda dan buat mereka merenungkan gagasan Anda seakan itu menjadi kebahagiaan terbesar yang pernah Anda rasakan. Ingatlah, bahwa orang-orang pemberani pun mengenal rasa takut, tetapi mereka tidak membiarkan rasa takut itu menguasai diri mereka.

Tidak setiap kata memiliki makna penting. Oleh karenanya, hanya kata-kata tertentu perlu diberikan aksentuasi. Prinsip penggunaan aksentuasi akan optimal jika disertai dengan perasaan tertentu yang mendukung. Bukan dengan mengingat aturan-aturan tertentu.

Hampir semua kalimat memiliki beberapa kata kunci, untuk mewakili ide-ide yang paling penting. Para pembicara dapat menarik perhatian audiensnya, dengan kata-kata yang mewakili ide-ide penting. Pembicara yang bagus akan menonjolkan kata-katapentingnya laksana “puncak-puncak gunung”, dan kata-kata yang tidak penting akan dibenamkan bagaikan “dasar sungai”.

Prinsip penting aksentuasi, ditentukan oleh perbedaan dan perbandingan. Agar sebuah kata terdengar menonjol, penyampaiannya harus berbeda dari kata lainnya. Misalnya, jika dari awal Anda berbicara dalam nada rendah, gunakan nada tinggi untuk kata yang perlu ditekankan. Dan jika dari awal Anda berbicara dengan cepat, ucapkan kata yang ingin Anda tekankan dengan lambat.

Jangan menyamakan suara keras dengan aksentuasi. Berteriak bukan tanda kesungguhan, kecerdasan atau perasaan. Memang benar kata yang ingin ditekankan bisa diucapkan dengan lebih keras atau lembut. Namun kualitas yang sesungguhnya diharapkan adalah intensitas dan kesungguhan. Kualitas tersebut harus muncul dari ketulusan.

Pidato seperti halnya nyanyian, juga membutuhkan intonasi yang tepat. Setiap perubahan gagasan memerlukan perubahan intonasi. Dan perubahan intonasi secara kontinu merupakan metode alam paling hebat. Bahkan perubahan intonasi dapat menghasilkan aksentuasi yang baik.

Begitupula halnya dengan tempo. Perubahan tempo mencegah kemotononan. Tempo menjadi elemen penting saat berada di atas podium. Ketika pembicara mengucapkan seluruh materi pidatonya dalam kecepatan yang hampir sama, dia akan kehilangan salah satu cara utama dalam memberi penekanan dan gaya.

Jeda memiliki makna tersendiri, yang dinyatakan dalam bentuk diam. Dalam pidato publik, jeda bukan semata-mata diam. Melainkan diam yang sengaja dilakukan agar pidato memberi kesan bagi audiens.

Jeda berbeda dengan terbata-bata. Seorang  pembicara mungkin saja efektif, meskipun berbicara terbata-bata. Namun, efektivitas tidak pernah terwujud karena terbata-bata. Salah satu metode penting untuk mengembangkan kekuatan berbicara di depan umum adalah memberi jeda kata atau frase penting.

Konsentrasi menjadi kuncinya. Tidak ada jeda yang tepat sasaran tanpa adanya konsentrasi. Dengan cara yang cukup wajar, selama jeda yang memang sengaja dipersiapkan, pikiran pembicara terfokus pada gagasan yang akan segera dia utarakan.

Jeda memungkinkan pikiran pembara mengumpulkan kekuatan sebelum menyampaikan gagasan penting. Jeda juga mempersiapkan pikiran pendengar untuk menerima pesan Anda. Tidak hanya itu, jeda juga menghasilkan efek ketegangan yang efektif. Bahkan jeda mampu memberi waktu bagi audiens untuk menyerapnya.

Anda akan memerhatikan bahwa tanda baca tidak ada kaitannya dengan penggunaan jeda. Anda bisa saja mengucapkan dengan sangat cepat, meskipun ada tanda titik dan membuat jeda yang panjang ketika tidak ada tanda baca apapun. Gagasan lebih penting daripada tanda baca. Itu yang harus memandu Anda dalam menggunakan jeda.

“Kekuatan terhebat muncul dari ketenangan terdalam dan betapa sering kita terlelap dalam hal yang paling lembut.” ~ Barry Cornwall 

Selain menguasai aksentuasi, intonasi dan tempo, Anda juga harus memiliki kekuatan pada pidato Anda agar dapat menggerakkan audiens. Empat faktor kekuatan yang berada di bawah kendali Anda, dan oleh karenanya bisa diperoleh, yakni gagasan-gagasan, perasaan terhadap materi, pelafalan kata-kata dan penyampaian.

Kata-kata yang spesifik, lebih kuat daripada kata-kata umum. Kata-kata yang pendek lebih kuat daripada kata-kata yang panjang. Pilihan kata sangat memengaruhi bagaimana pesan dirasakan oleh audiens.

Begitupula halnya dengan perasaan dan antusiasme. Pidato-pidato yang akan dikenang selalu disertai oleh kekuatan emosi. Dan para pembicara yang ingin berpidato secara efisien harus mengembangkan kekuatan untuk menggetarkan perasaan.  Sebab rahasia sejati dari kekuatan pembicara adalah kekuatan emosi.

Antusiasme adalah pertumbuhan, sebuah hasil. Cara untuk melekatkan perasaan dan antusiasme ke dalam pidato dan percakapan publik adalah sungguh-sungguh menghayati pesan yang Anda sampaikan. Perasaan yang tulus dalam pidato merupakan tulang dan darah pidato itu sendiri, dan bukan sesuatu yang bisa ditambahkan atau dikurangi sekehendak hati.

Kekuatan antusiasme harus diiringi dengan kekuatan bahasa tubuh. Namun demikian, bahasa tubuh haruslah muncul secara alami, tidak direncanakan. Bahasa tubuh dibenarkan hanya jika digunakan untuk mendukung penyerapan pemikiran, sebagai ekspresi tulus dari kebenaran. Dan menjadi kesalahan fatal, apabila bahasa tubuh digunakan sebagai ekspresi dramatis belaka.

Para pembicara terbaik jarang merencanakan bahasa tubuh yang akan mereka tampilkan. Sebab bahasa tubuh seharusnya timbul akibat momentum. Hindari bahasa tubuh yang monoton dan jangan menggunakannya secara berlebihan. Dasar dari bahasa tubuh yang baik adalah menguasai kekuatan, ketenangan, keluwesan dan keeleganan tubuh.

Berpikir membutuhkan energi. Berpikir membutuhkan waktu, kesabaran, informasi yang luas dan pemikiran yang jernih. Pembicara yang baik harus memiliki kekuatan pikiran dan cadangan. Kekuatan cadangan disini maksudnya adalah pikiran yang diisi dengan membaca. Buku-buku dan bahan bacaan yang kita baca akan memberi stimulus untuk berpikir.

Hal yang penting, cari bacaan yang membuat Anda memutar otak. Bacaan seperti itu seharusnya dipenuhi dengan pandangan yang baru, dikemas dengan pengetahuan khusus dan membahas topik yang menarik.

Kekuatan Anda sebagai pembicara sebagian besar tergantung pada kemampuan Anda untuk mengingat kesan dan mengeluarkannya jika dibutuhkan. Ingatan semacam itu seperti halnya otot, yang harus sering dilatih.

Pidato akan lebih mudah tertanam dalam pikiran Anda jika mengucapkannya dengan suara keras, mendengarkannya, menuliskannya dan melihatnya dengan seksama. Anda telah menanamkannya dalam pikiran Anda melalui kesan vocal, pendengaran, otot dan visual.

Pikiran atau perasaan akan mendahului dan menentukan semua tindakan kita. Tindakan berkembang menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter. Dan karakter selalu dipandang sebagai salah satu faktor utama kekuatan seorang pembicara.

“Tidak seorang pun benar-benar dapat berdiri sebagai pembicara di hadapan dunia kecuali jika sudah mengalami hidup dan sungguh-sungguh berpikir.” ~ Phillips Brooks 

  1. Berhadapanlah dengan audiens sesering mungkin untuk melatih diri Anda berbicara dengan efektif dan menguasai audiens.
  2. Miliki rasa percaya diri dan ketulusan dalam mengutarakan pesan dan mengungkapkan gagasan-gagasan Anda.
  3. Konsentrasi merupakan kunci pidato dan percakapan publik yang efektif.
  4. Efektivitas dalam berbicara di depan publik, dipengaruhi pula oleh aksentuasi, intonasi dan perubahan tempo.
  5. Jeda dalam percakapan dan pidato sangat dibutuhkan, untuk memberikan waktu bagi audiens menyerap pesan dan mempersiapkan pikiran mereka untuk menerima pesan berikutnya.

Sumber : Pimtar

Yuk bagikan di sosmed sahabat, sebagai sedekah ilmu dan informasi… Terima kasih 


Yuk bagikan infonya...

About Auther:

Info Biografi

BUKU TES SEKOLAH KEDINASAN TNI POLRI CPNS 2024
Hello. Add your message here.